Dibubarkan aja lah persatuan olahraga yang satu itu. Banyak negatifnya daripada positifnya. Mana pengurusnya juga dah kaya mafia semua gitu.
Best Regards, Eric Soesilo [EMAIL PROTECTED] 0815-13-899-899 Sent from my E61i with Indosat Matrix Blackberry -----Original Message----- From: Budi Dharma <[EMAIL PROTECTED]> Date: Fri, 25 Jan 2008 13:22:10 To:[email protected], [EMAIL PROTECTED] Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Resesi sepakbola nasional Bukan hanya bidang ekonomi saja yang bisa mengalami resesi. Hari ini KOMPAS memuat beberapa halaman yang menyoroti kisah tragis sepakbola nasional tanah air. Sudah bosan kalau dibilang bahwa pembenahan mustinya dimulai dari pimpinan puncak pengurus PSSI. Ya, mana mungkin sich Tuhan bakal “merestui” ketua organisasi besar dikepalai oleh terpidana. Waktu dia hendak dilantik jadi anggota parlemen saja bisa tahu diri, eh untuk sepakbola nggak malu tuch kena tegur FIFA. Maka jadilah “teladan” mengangkangi aturan dan etika mewabah ke berbagai pihak. Pengurusnya main gonta-ganti aturan, tokh nggak ada hukumannya. Wasit, pelatih, dan pemain saling adu jotos paling hanya dihukum beberapa jam saja sebelum kemudian dianulir. Suporter bola, udah masuk stadionnya nggak bayar, juga merasa paling punya hak menghakimi pertandingan dengan tindakan anarkisme. Dan itu semuanya tanpa tedeng aling muncul di layar kaca. Lama kelamaan pemirsa akan menganggap segala kerusuhan itu bukan sesuatu yang salah, karena dalam pengertiannya klub kebanggaannya sedang di-zhalimi pihak lawan. Banyak saksi, bahkan wajah provokator pun sebenarnya bisa kelihatan ( sambil merasa prihatin lalu kerja panpel dan aparat keamanan apa ? ), namun sedikit yang diadili secara pidana. Mirip2 dengan kasus memilukan IPDN, video kebrutalan para praja tersebut begitu terang benderang bisa kita lihat di televisi, namun berapa sich dari mereka yang dihukum sepantasnya. Sialnya lagi, APBN daerah dikuras untuk membayari pemain impor yang justru kerapkali menebar benih2 kerusuhan dan bukannya menularkan sikap profesionalisme + ketrampilan mengolah bola. Taruhan yuk, seandainya Liga Indonesia hanya muncul di tv kabel, apakah para pemirsanya akan buru2 pasang tv berlangganan tersebut seperti ketika siaran langsung EPL tiba2 raib dari pantauan kita ? Atau tv swasta kita melakukan boikot saja untuk tidak ikutan tender hak siar liga nasional, selama mental bobrok masih menghinggapi insan2 sepakbola negeri ini. Biar tahu rasa, gimana rasanya dicuekin karena rakyat disuguhkan tontonan tidak berbobot. Bagaimana kalau format liga super yang bakal digelar tahun ini cukup mempertemukan klub yang diisi 100% pemain lokal melawan klub local yang 100% pemain asing untuk lawan tanding. Jadi nggak perlu repot2 bikin pelatnas atau dikirim berlatih ke luar negeri kalau timnas hendak berlaga dengan tim negara lain, he he he…. Tampaknya perlu juga dibentuk : KPS = Komisi Penyelamatan Sepakbola. PS : ditunggu kapan lengsernya NH dari jabatan ketua PSSI, nggak perlu nunggu diopname ke RSPP khan seperti pak Harto ? Jadi nggak sich munas PSSI untuk menggusur NH dari “tahtanya” ? --------------------------------- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers [Non-text portions of this message have been removed]
