Pak Kunto....

147,7 T - 138T = 9.7T

yg lain kemana...????

ccccc....luar binasa sekali

jd inget...suatu kali diajak teman main kerumah suadaranya di pondok 
kelapa.....
kebetulan dia salah satu petinggi di jajaran BHS...masih mudah kaya raya 
luar biasa.
rumahnya di kampung juga...eleh..eleh...eleh......

jd indikasi itu sepertinya benar adanya.

harapan saya wongcilik duit bisa kembali.
masalah hukum kl kata bung kumis serahkan keahlinya.

salam,
ghz

----- Original Message ----- 
From: "kunto_binawan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 13, 2008 11:08 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kasus BLBI


> Bung Alexander,
> Sejauh pengertian saya, BLBI ini berawal dari krisis ekonomi dulu,
> dimana di saat krisis tsb. kepercayaan masyarakat kepada Rupiah dan
> bank turun drastis.  Banyak nasabah kemudian menarik simpanan mereka
> (ingat waktu itu banyak orang antre untuk ambil uang), sehingga bank-
> bank mengalami kekurangan uang tunai (dalam bahasa keuangannya,
> kesulitan likuiditas). Dalam kondisi darurat seperti itu Bank
> Indonesia kemudian membantu dengan memberikan pinjaman uang tunai
> (yang disebut BLBI ini, BLBI= Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).
> Karena krisis yang melanda waktu itu sangat dalam, BI sampai
> mengeluarkan BLBI yang sangat besar (per bulan Desember 1998, BI
> telah menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank).
> Seperti biasa, karena menyangkut dana besar, ada penyimpangan-
> penyimpangan, baik dalam penyalurannya maupun dalam pemakaiannya.
> Karena menyangkut uang rakyat banyak, maka penyimpangan ini merupakan
> tindak pidana. Kalau tidak salah, audit BPK terhadap penggunaan dana
> BLBI oleh ke-48 bank tersebut menyimpulkan telah terjadi indikasi
> penyimpangan sebesar Rp 138 triliun.
> Semoga membantu.
>
> Salam,
> Kunto

Kirim email ke