Bagaimana kaitan antara Sarjana Unggul dengan Membaca buku teks?
melanjutkan diskusi tentang penurunan peringkat universitas unggulan Indonesia, 
saya merasa perlu melontarkan bahan diskusi sbb
Kebetulan saya bekerja di suatu Perusahaan Penerbitan Buku Pelajaran yang sejak 
tahun 80-an berusaha keras menerbitkan dan memasarkan Buku Teks Perguruan 
Tinggi, baik yang ditulis oleh Ilmuwan Indonesia maupun menerbitkan buku teks 
yang digunakan Mahasiswa manca negara dalam bentuk terjemahan.
Kendala penerjemahan adalah kurangnya penghargaan akademis terhadap Dosen 
penerjemah sehingga kami cukup sulit mendapatkannya. Di lain pihak, kami juga 
kesulitan mendapatkan penulis untuk Mata Kuliah Dasar sebab mereka tidak berani 
bersaing dengan colleganya di luar negeri.
Yang mendasari diterbitkannya buku terjemahan adalah "Mahasiswa belajar Ilmu 
yang dikandung buku teks dan bukan belajar bahasanya" sehingga impian kami, 
Lulusan S1 di Indonesia akan sama pengetahuannya dengan Mahasiswa di LN karena 
belajar dari buku yang sama (beda bahasa).
Pengalaman memasarkan buku teks di kalangan Mahasiswa luar biasa sulitnya baik 
karena dianggap mahal (padahal sudah >50% lebih murah dari buku berbahasa 
Inggris), tidak semua topik diajarkan di depan kelas, ataupun karena tidak 
disuruh oleh dosen (?).
Pertanyaan sekarang adalah korelasi antara kepemilikan atau belajar dengan buku 
teks dengan kemelorotan peringkat univ unggulan.
Horas

Dharma hutauruk
www.erlangga.co.id

  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Hamonangan 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, February 13, 2008 9:31 AM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Peringkat Universitas Unggulan Melorot


  
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.13.02132711&channel=2&mn=4&idx=4

  Bandung, Kompas - Citra pendidikan tinggi Indonesia di kancah
  internasional menurun dalam setahun ini. Hasil survei Times Higher
  Education terakhir menunjukkan peringkat universitas-universitas
  unggulan Indonesia melorot tajam, terdepak dari posisi 200 besar dunia
  yang sebelumnya sempat diraih.

  Menurut hasil survei Times, majalah ternama Inggris, dari enam
  perguruan tinggi Indonesia yang masuk ke dalam jajaran 500 besar
  universitas dunia, Universitas Gadjah Mada berada di posisi terbaik,
  yaitu peringkat 360. Disusul Institut Teknologi Bandung (369),
  Universitas Indonesia (395), serta Universitas Diponegoro, Institut
  Pertanian Bogor, dan Universitas Airlangga (404).

  Tahun 2006, UI menempati ranking 250, diikuti ITB (258) dan UGM (275).
  Survei internasional lainnya, yaitu versi Shanghai Jiao Tong, tidak
  menunjukkan hasil yang lebih baik. Hingga akhir 2007 belum ada satu
  pun perguruan tinggi di Indonesia yang menembus peringkat 500 besar
  dunia menurut riset universitas ternama di China ini.

  Universitas Harvard dari Amerika Serikat masih bercokol di urutan
  teratas hasil survei ini, diikuti Universitas Cambridge dan Oxford
  dari Inggris di posisi berikutnya.

  Ketua Forum Rektor Indonesia Djoko Santoso yang ditemui Selasa (12/2)
  memaklumi penurunan peringkat itu. �Layaknya lomba, ya ada yang naik
  dan ada yang turun. Kita semestinya bersyukur masih bisa masuk 2
  persen universitas ternama di dunia dari total 12.000-an yang
  dinilai,� ujar Rektor ITB ini.

  Ketua Satuan Penjamin Mutu ITB Deny Juanda Puradimaja mengatakan,
  survei bergengsi versi Times maupun Shanghai Jiao Tong masih sulit
  diikuti perguruan tinggi di Indonesia. �Parameter yang diukur sulit
  dicapai universitas Indonesia yang rata-rata masih berorientasi
  teaching based, belum research based university,� ungkapnya. Namun, ke
  depan, ITB optimistis mampu menembus 500 besar versi Shanghai Jiao
  Tong. (JON)



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke