http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.12.2124077&channel=1&mn=1&idx=1

BANDAR LAMPUNG, SELASA- Dunia pendidikan Indonesia saat ini sudah
carut marut. Itu terjadi karena kurikulum pendidikan mengabaikan
pendidikan dasar seperti pendidikan budi pekerti.

"Budi pekerti itu merupakan nilai-nilai luhur budaya kita sendiri yang
sudah diajarkann jauh-jauh hari oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar
Dewantara dan para pendiri bangsa ini," kata Pakar Pendidikan Holistik
dan Meditasi Anand Krishna.

Anand berbicara dalam Simposium Nasional Pendidikan bertema "Peran
Pengajara, Dokter, dan Psikolog dalam Membangun Arah Pendidikan yang
Berbasis Budaya demi Keselamatan Generasi Bangsa" di Gedung Serba Guna
Universitas Lampung, Selasa (12/2).

Selain Anand sebagai pembicara utama, hadir pula Kepala Dinas
Pendidikan Lampung Hery Suliyanto, Kep ala Dinas Kesehatan Lampung
Wiwiek Ekameini, dan Sekretaris Forum Martabat Guru Independen (FMGI)
Lampung Gino Vanollie sebagai pembicara. Simposium yang digelar Forum
Pengajar, Dokter, dan Psikolog Bagi Ibu Pertiwi (For Adoksi-BIP)
Lampung itu di ikuti 2.000 guru, dokter, dan psikolog dari seluruh
Lampung.

Lebih lanjut Anand mengatakan, diabaikannya nilai luhur bangsa seperti
budi pekerti menjadikan sistem pendidikan di Indonesia tidak
mengajarkan anak didik mampu menghargai atau menghormati orang lain,
atau bersikap tenggang rasa. "Sekarang ini anak didik cenderung
mendapat contoh atau teladan buruk tidak saja dari lingkungannya,
tetapi juga dari tenaga pengajar sendiri. Bagaimana guru bisa melarang
murid tidak merokok kalau dia sendiri secara sembunyi-sembunyi keluar
dari ruang kelas untuk merokok?" kata Anand.

Untuk itu, sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Departemen
Pendidikan Nasional mulai mengevaluasi kurikulum dan sistem pendidikan
nasional. Setidaknya pemerintah melalui dinas-dinas pendidikan dan
sekolah bekerja sama dengan para guru dan orangtua murid mulai
tergerak untuk mengajarkan budi pekerti.

HLN

Kirim email ke