Rekan-Rekan FPK, Memang cukup aneh kalau Indonesia yang kaya akan gas dan batubara malah akan terancam oleh krisis energi. Sudah saatnya pula kita mulai mengambil pendekatan Rusia yang memanfaatkan posisinya sebagai pemasok gas ke Ukraina dan Eropa. Gara-gara Ukraina merapat ke NATO, Rusia mulai "menyerang" dengan mempermasalahkan UTANG PIUTANG dalam perdagangan gasnya dengan Ukraina. Berita lengkapnya bisa dilihat di: http://www.bloomberg.com/apps/ news?pid=20601100&sid=a9rfip.5B2ho&refer=germany
Kelihatannya nasib program PLTU batubara 10.000 MW masih tersendat- sendat dengan tidak adanya bank yang mau mengucurkan dana. Saya kira tidak ada salahnya kalau Indonesia juga "menyerang" negara-negara yang selama ini tergantung pada pasokan gas dan batubara Indonesia, supaya turut membantu pembangunan PLTU batubara 10.000 MW agar Indonesia terselamatkan dari krisis energi. Mumpung menjelang Pemilu 2009, sebaiknya rekan-rekan anti PLTN melakukan lobby-lobby pada partai-partai politik yang ada untuk meloloskan agenda larangan ekspor gas dan batubara ini. Terus terang ekspor gas dan batubara ini menguntungkan dalam jangka pendek. Jadi untuk melarang ekspor gas dan batubara, harus ada pengorbanan juga dengan kehilangan pemasukan walaupun untuk kepentingan jangka panjang. Kuncinya harus menjadikan issue KETAHANAN ENERGI menjadi issue yang super seksi di mata para pemilih di Pemilu 2009 nanti. Btw, sebaiknya riset pembangunan PLTN jalan terus sambil menunggu rekan-rekan anti PLTN menjadikan issue KETAHANAN ENERGI lebih seksi dibanding issue BBM dan LISTRIK MURAH (Jadinya lebih untung diekspor dibanding dijual ke dalam negri). Tapi kelihatannya kita semua sepakat hal berikut: Meskipun saat ini kita BELUM KEHABISAN MINYAK, tapi kita KEHABISAN WAKTU. Best Regards, Rudyanto Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng Let's get something done TOGETHER --- In [email protected], "Iwan Kurniawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebentar lagi batubara dan gas akan habis juga karena diekspor, lalu jadi alasan impor PLTN. > > http://www.kompas.com/ > read.php?cnt=.xml.2008.03.02.22330250&channel=1&mn=53&idx=71 > > > > > > JAKARTA, JUMAT - Riset mengenai pembangunan Pembangkit Listrik > Tenaga > > Nuklir (PLTN) di Indonesia tidak akan dihentikan. Hal tersebut > > disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, > > pada pertemuan milis Forum Pembaca Kompas di Gedung BPPT, Jakarta, > > Jumat (29/2). > > > > Menurutnya, pembangunan PLTN diamanatkan undang-undang. Ia > mengatakan > > dalam undang-undang mengenai rencana jangka panjang nasional, PLTN > > menjadi salah satu sumber energi yang harus sudah tersedia sejak > tahun > > 2015. > > > > "Pemerintah punya kewajiban meneruskan amanat undang-undang > tersebut, > > kalau tidak, bisa di-impeach. Kalau memang PLTN bukan pilihan, kita > > harus amandemen dulu undang-undang itu," lanjut Kusmayanto. Selama > > masih diamanatkan undang-undang, riset PLTN jalan terus. Sejauh > ini, > > Batan Tenaga Atom Nasional (BATAN), yang ditunjuk sebagai > pengembang > > teknologi, sudah berhasil mengoperasikan pembangkit tenaga nuklir, > > meskipun hanya skala kecil 5 megawatt. > > > > Pihaknya akan tetap fokus ke PLTN dan terus mengkaji dampak positif > > dan negatifnya dari perspektif teknologi, sosial, dan ekonomi. > Hasil > > kajian ini yang akan dibawa kepada pemerintah dan DPR untuk > memutuskan > > meneruskan pembangunan atau tidak. > > > > "Pro kontra mengenai PLTN itu biasa. Justru ini ongkos pembelajaran > > publik yang paling murah," ujar Kusmayanto. Ia menyayangkan jika > > kajian mengenai PLTN berhenti hanya karena kepentingan politik. Di > > lain pihak, ia ingin tema teknologi seperti PLTN menjadi > pembicaraan > > utama di panggung politik. "Saya ingin iptek seksi di politik," > ujarnya. > > > > Milis pembaca Kompas di [email protected] > menjadi > > salah satu wadah tempat berinteraksi dan bertukap pikiran. Milis > yang > > lahir secara mandiri oleh komunitas pembaca Harian Kompas dan > > dimoderatori Agus Hamonangan ini sudah diikuti lebih dari 3000 > anggota > > yang berasal dari berbagai latar belakang.(WAH) > > Non-text portions of this message have been removed]
