Bung Rudy,
kok malah penolak PLTN yang mesti mencari detil nan rinci alternatif energi 
yang lain selain PLTN? Bukannya itu tugas pemerintah? Mestinya pemerintah 
memberikan beberapa alternatif sumber energi, dengan rincian studi dan riset 
serta perhitungan yang matang, lalu disodorkan terbuka kepada masyarakat. Dari 
situ kan masyarakat akan lebih tahu, mana sih yang lebih baik dan efisien. Kalo 
sekarang yang terjadi kan pemerintah cuma menghitung detil untuk PLTN, 
sedangkan yang lain hanya asumsi, entah mahal, susah, dan teknologi belum ada. 
Bukankah ini malah yang disebut kacamata kuda?

Selain itu, yang tidak boleh dilupakan selain hitung2an teori adalah praksis 
yang selama ini ada. Baik itu proses pengerjaannya, maintenancenya, amdal, dll. 
Selama ini, sering kita dengar korupsi sudah ada pada awal pengerjaan proyek, 
maintenance seringkali diabaikan, amdal berkali2 dianggap tidak penting. Ini 
seolah sudah menjadi 'budaya' untuk proyek2 pemerintah. 
Dengan resiko yang begitu besar, budaya ini yang mesti diperangi. 

riyanto



----- Original Message ----
From: rudyanto_nebeng <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 24, 2008 9:14:30 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Empat PLTN akan dibangun..- KACAMATA KUDA

Rekan-Rekan FPK,

Inilah yang saya katakan dengan KACAMATA KUDA. Penolak PLTN selalu 
melihat pada SATU SISI RESIKO. Mereka selalu diam seribu bahasa kalau 
diajak bicara mengenai KRISIS ENERGI yang sudah membayang di depan 
mata. 

Naik mobil beresiko kecelakaan, tapi resiko kecelakaan itu kecil 
kalau kita berhati-hati. Tapi kalau rumah Anda di Tangerang, kantor 
Sudirman, berangkat JALAN KAKI, berapa WAKTU yang dibutuhkan?
Saya rasa Rekan-Rekan FPK juga setuju kalau lebih baik berisiko 
kecelakaan (yang kemungkinannya kecil sekali) dibanding harus 
menghabiskan waktu DELAPAN JAM TIAP HARI pulang pergi Tangerang-
Sudirman jalan kaki.

Orang Perancis sudah membuktikan menggunakan energi listrik dari PLTN 
SEPULUH TAHUN YANG LALU sebesar 80% dari kebutuhannya, masakan orang 
Indonesia tidak mampu menggunakan energi listrik dari PLTN SEPULUH 
TAHUN YANG AKAN DATANG sebesar 10% dari kebutuhannya. Kalau MINDER, 
JANGAN KEBANGETAN!! !

Pernyataan "Kan masih banyak sumber energi lain" tidak diikuti 
dengan pengetahuan apakah SUMBER ENERGI LAIN tersebut bisa mencukupi. 
Inilah yang saya sebut dengan KACAMATA KUDA.

Setuju kita harus menggunakan NALAR SEHAT, tetapi penting juga bahwa 
nalar sehat diikuti dengan perhitungan MATEMATIKA yang valid. Jangan 
cuma dicap merek "NALAR SEHAT".

Mungkin kalangan penolak PLTN sebaiknya menunjukkan angka DAYA yang 
bisa dipenuhi oleh SUMBER ENERGI LAIN dalam sebelas tahun ke depan. 
Katakanlah kita membutuhkan 25GW PEMBANGKIT LISTRIK BARU dalam waktu 
sebelas tahun dengan rincian sbb:
1) BATUBARA 10GW (Resiko GLOBAL WARMING)
2) PLTN 5GW (Resiko BOCOR)
3) SUMBER ENERGI LAIN 10 GW (Resiko TIDAK PUNYA MODAL)

Sebaiknya kita tidak memasukkan minyak bumi dan gas dalam skenario di 
atas. Saat ini 30% Pembangkit listrik menggunakan MINYAK. Adalah 
suatu pertanyaan besar apakah GAS bisa menggantikan 30% Pembangkit 
Listrik tersebut (existing).

Selama penolak PLTN belum bisa menjelaskan dari mana saja SUMBER 
ENERGI LAIN 10 GW tersebut, selama itu pula tidak berlebihan kalau 
saya katakan KACAMATA KUDA tetap terpasang.

Btw, meneliti itu pasti sempat-sempat saja. Cuma kalau penelitinya 
ditodong 10 GW dalam waktu 11 tahun lagi, jawabnya pasti klasik : 
MAY...

Best Regards,
Rudyanto
Kita BELUM KEHABISAN MINYAK, tapi kita KEHABISAN WAKTU

Kirim email ke