Bung Manneke, Saya ngerti kok, maksudnya hitung-hitungan saya benar (indah) kan?
OK kalau kita sudah sepakat, marilah kita lanjutkan ke faktor "DEMI KEMANUSIAAN". Sudah pernah lihat film CHICKEN RUN? Bagi yang belum lihat, saya coba ceritakan secara singkat: Pada sebuah peternakan ayam petelor, sang peternak menjalankan aturan bahwa ayam petelor yang tidak lagi menghasilkan telor akan berakhir nasibnya di penggorengan. Ayam-ayam petelor lain pun merasa khawatir nasibnya akan berakhir sama karena mereka tidak tahu kapan akan berhenti bertelor. Di saat inilah datang seekor ayam jago dengan cara "terbang". Sebagian ayam petelor pun terinspirasi untuk kabur (chicken run) dengan cara "terbang". Semangatnya adalah daripada berakhir di penggorengan, lebih baik DIE TRY. Kisah film kartun CHICKEN RUN ini hendaknya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa pada waktunya nanti masa kejayaan kita sebagai produsen gas, batubara dan minyak bumi (telor) akan berakhir. Daripada kita menunggu nasib di "penggorengan", adalah lebih baik kita menempuh jalan DIE TRY. Rencana kabur (CHICKEN RUN) harus dilaksanakan secara matang, bukan hanya cuma modal "59 tahun dari sekarang pasti sudah akan ada perkembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan" karena kita sedang dikejar WAKTU (penggorengan sudah menunggu keesokan hari). Kematian adalah suatu ujung kehidupan kita sebagai makhluk mortal. Hanya bagaimana cara kita mati? Apakah kita menempuh jalan DIE TRY atau mati sebagai pecundang. Btw, kita cuma mengenal HOMO SAPIENS, kita tidak mengenal HOMO SAPIENS KAUKASIAN apalagi HOMO SAPIENS INDON. Itu kalau kita mau bicara mengenai "manusia". Best Regards, Rudyanto To be OR not to be, that is the question --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kaga, Bung Rudy, saya kaga tersesat, sebab gak pake kacamata kuda kaya situ. Kalau mau ngomong 59 tahun dari sekarang, ya bolehlah pakai asumsi-asumsian. Saya juga bisa berasumsi, 59 tahun dari sekarang pasti sudah akan ada perkembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan, pasti sumber-sumber energi alternatif lebih banyak tergali dan dimanfaatkan, dan pasti dunia belum akan kiamat gara-gara bencana nuklir. > > Kalau pakai PLTN, saya juga bisa berasumsi, jangan-jangan kita tak akan sempat lagi melihat apa yang akan terjadi 59 tahun dari sekarang. Sebabnya? masa gak tau sih? > > Kalau ini mau disebut "tersesat", no problem. Saya lebih suka tersesat bersama banyak miliser lain di sini yang anti PLTN, daripada menerima PLTN kaya para pemakai kacamata kuda seperti Anda, dan baru belaknagan nanti sadarnya jika ternyata telah tersesat, tapi sudah telat. > > Ngerti, Bung? Hitung-hitungan Anda semuanya indah di atas kertas, tapi satu variabel penting tak masuk di situ: manusia. Sebabnya, sebab Anda pakai kacamata kuda. Oke? > > manneke > > rudyanto_nebeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Rekan-Rekan FPK, > > Sebelum kutipan Rapimnas saya ulas, setidaknya kita sepakat dua hal: > 1) INTERMITTENT RESOURCES perlu didampingi oleh BASELOAD POWER. > Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di : > http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/82179 > 2) Indonesia membutuhkan semua bentuk energi baik air, surya dan > angin walaupun sumber-sumber ini adalah INTERMITTENT RESOURCES (tidak > bisa dijamin ketersediaannya). > > Yang ditentang habisan kalangan anti PLTN, memang PLTN itu sendiri > (yang termasuk golongan BASELOAD POWER). > Di sini lah ada perbedaan. > > Mari kita bahas datanya: > 1) cadangan minyak bumi utuk 24 thn > > Saat ini Indonesia IMPOR minyak. Untuk 24 tahun itu apakah stabil > 900.000 barel per tahunnya? > > 2) gas bumi 59 thn > > Asumsi tingkat konsumsinya berapa? Kalau separuh konsumsi > TRANSPORTASI dikonversi ke gas bumi sisa berapa tahun? > > 3) batu bara 93 thn > > Data ini data kapan? Kalau Pembangkit Listrik Batubara 10 GW nanti > beroperasi semua, sisa berapa tahun? > > 4) tenaga air 76 ,67 GW > > INTERMITTENT RESOURCES, kalau Indonesia sudah masuk bulan Juli nanti, > sudah terbayang bakal ada pemadaman listrik. Silakan tanya orang > Kalimantan yang punya Pembangkit Listrik Riam Kanan. > > 5) panas bumi 27 GW > > Kalau ini sepakat, cuma Bung Manneke saja yang masih tersesat (lagi?) > > 6) > > Biomass 49,81 gw > > sURYA SETARA DGN 4.8 KUH/M2/DAY > > > > ANGIN 9.2 gw > > URANIUM 3 gw > > Data Biomass s/d angin, anggap saja itu betul. Kalau Uranium, > mestinya dihitung sisa berapa tahun seperti minyak bumi, gas bumi dan > batu bara. > > Rangkumannya adalah: > 1) AIR 76 ,67 GW (kita anggap saja kita di musim hujan, lupakan dulu > musim kemarau) > 2) PANAS BUMI 27 GW (semoga yang tersesat sudah kembali ke jalan yang > benar) > 3) BIOMASS 49,81 GW > 4) Surya (Intermittent Resources apalagi kalau musim hujan) > 5) Angin (Intermittent Resources walaupun di musim hujan) > > Jadi total BASELOAD POWER (di luar PLTN) = (76,67 + 27 + 49,81) GW = > 153,48 GW > > Kita hitung juga proyeksi demandnya dengan asumsi sbb: > Pertumbuhan ekonomi 5% (saya korting deh) > Kapasitas Pembangkit Listrik saat ini 25 GW (jangan tersesat lagi lho) > > Artinya setiap 14 tahun, kita butuh Pembangkit Listrik DUA KALI LIPAT > dari sebelumnya (coba hitung 1,05 pangkat 14 hasilnya berapa?). Jadi > kebutuhan PEMBANGKIT LISTRIK BARU adalah: > 1) Pada tahun 2022 (14 tahun lagi) butuh 25 GW > 2) Pada tahun 2036 (28 tahun lagi) butuh 50 GW > 3) Pada tahun 2050 (42 tahun lagi) butuh 100 GW. > > Jadi 42 tahun lagi, Indonesia butuh total 175 GW PEMBANGKIT LISTRIK > BARU. Sedangkan yang tersedia CUMA 153,48 MW. Masih yakin belum butuh > PLTN? Ini pun dengan asumsi kalau listrik tidak dipakai untuk > TRANSPORTASI. > > Btw, coba dikonfirmasi dulu dengan Dekan FTUI, sudah pinjam > kalkulator belum? Supaya waktu ditanya wartawan Kompas, tidak dengan > cara mencongak. > > Kalau untuk TAHUN INI, saya memang sepakat dengan Dekan FEUI, > PERTUMBUHAN EKONOMI tidak mungkin 6% (menurut info Bung Manneke), > bahkan saya berani bilang cuma 3% (bakal banyak pengangguran, > termasuk para lulusan S1). Tapi nanyanya mesti lengkap, apa dampaknya > kalau Pertumbuhan Ekonomi konsisten di bawah 5% selama 42 tahun > berturut-turut? Semoga tidak tersesat (lagi). > > Best Regards, > Rudyanto > To be OR not to be, that is the question > Selama masih pakai OR, tidak bisa dikatakan kacamata kuda :) >
