Lho? Mau ngomongin manusia kok contohnya ayam kabur? Kalo saya pilih filem Lion
King aja deh, sekalian nggak tanggung-tanggung kalo mau binatang-binatangan.
Kita tidak dikejar waktu, Pak. Kitalah yang sibuk mengejar-kejar waktu.
Makanya panik melulu...
Btw, saya nggak mau mati sebagai pecundang, dan juga gak mau mati sebagai
jagoan. Saya mau hidup aja. Makanya saya tolak PLTN. Inilah yang namanya faktor
kemanusiaan itu.
manneke
rudyanto_nebeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bung Manneke,
Saya ngerti kok, maksudnya hitung-hitungan saya benar (indah) kan?
OK kalau kita sudah sepakat, marilah kita lanjutkan ke faktor "DEMI
KEMANUSIAAN".
Sudah pernah lihat film CHICKEN RUN?
Bagi yang belum lihat, saya coba ceritakan secara singkat:
Pada sebuah peternakan ayam petelor, sang peternak menjalankan aturan
bahwa ayam petelor yang tidak lagi menghasilkan telor akan berakhir
nasibnya di penggorengan. Ayam-ayam petelor lain pun merasa khawatir
nasibnya akan berakhir sama karena mereka tidak tahu kapan akan
berhenti bertelor.
Di saat inilah datang seekor ayam jago dengan cara "terbang".
Sebagian ayam petelor pun terinspirasi untuk kabur (chicken run)
dengan cara "terbang". Semangatnya adalah daripada berakhir di
penggorengan, lebih baik DIE TRY.
Kisah film kartun CHICKEN RUN ini hendaknya menjadi pelajaran bagi
bangsa Indonesia bahwa pada waktunya nanti masa kejayaan kita sebagai
produsen gas, batubara dan minyak bumi (telor) akan berakhir.
Daripada kita menunggu nasib di "penggorengan", adalah lebih baik
kita menempuh jalan DIE TRY.
Rencana kabur (CHICKEN RUN) harus dilaksanakan secara matang, bukan
hanya cuma modal "59 tahun dari sekarang pasti sudah akan ada
perkembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan" karena kita
sedang dikejar WAKTU (penggorengan sudah menunggu keesokan hari).
Kematian adalah suatu ujung kehidupan kita sebagai makhluk mortal.
Hanya bagaimana cara kita mati? Apakah kita menempuh jalan DIE TRY
atau mati sebagai pecundang.
Btw, kita cuma mengenal HOMO SAPIENS, kita tidak mengenal HOMO
SAPIENS KAUKASIAN apalagi HOMO SAPIENS INDON. Itu kalau kita mau
bicara mengenai "manusia".
Best Regards,
Rudyanto
To be OR not to be, that is the question