Oleh Maria Hartiningsih / Ahmad Arif/ Sri Hartati Samhadi

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.20.12320934

Perjalanan sebagai ilmuwan mengajari Dr Ir Dja’far Shiddieq, MSc (60)
untuk selalu berhati-hati melangkah. Dua pertanyaan yang berdiam di
ruang batinnya adalah, ”Kalau ilmuwan sudah menggadaikan ilmunya, apa
lagi yang tersisa? Apa yang bisa dibanggakan kalau saya mengkhianati
nurani saya?”

Perbincangan dengan ahli Ilmu Tanah dari Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada itu menjadi seperti oase yang menyegarkan.
Udara petang terasa sejuk di rumahnya yang asri di sebuah perkampungan
di bagian Utara kota Yogyakarta.

Semua pernyataan itu terkait dengan pembelaannya pada petani lahan
pasir di pesisir Pantai Selatan Yogyakarta. Saat ini ribuan petani di
wilayah itu berhadapan dengan kekuasaan yang menghendaki konversi
lahan pertanian yang telah digarap selama belasan tahun, menjadi
kawasan penambangan biji besi berskala besar.

Dja’far memulai penelitian di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan,
Kabupaten Kulon Progo sekitar tahun 1996-1997 karena tertarik pada
pengembangan pertanian di kawasan yang gumuk pasirnya bergerak itu.
Tiga tahun terakhir ini secara rutin ia membawa mahasiswanya ke desa
itu untuk berguru langsung pada petani.

Ia juga mengundang Sukarman, petani yang merintis pertanian lahan
pasir untuk menjadi menjadi ”dosen” di kelas, mengajar mata kuliah
Pengelolaan Tanah.

”Biar mahasiswa tahu bahwa ilmu di kampus bukan segala-galanya. Ada
ilmu di luar itu, seperti kearifan lokal yang bisa diangkat. Mahasiswa
puas, Pak Karman pun merasa ada ilmunya yang bisa dibagikan,” ujar
Dja’far.

Wilayah Bugel menjadi laboratorium hidup yang tak hanya berguna bagi
pendidikan pertanian untuk para mahasiswa, tetapi terutama
memperlihatkan kepada mereka realitas sosial yang berpunggungan dengan
asumsi umum bahwa petani bodoh, picik dan malas; bahwa desa adalah
wilayah yang tertinggal dan karena itu ditinggalkan; bahwa sektor
pertanian tak lagi memberi harapan.

”Di Fakultas pertanian di mana pun jumlah mahasiswa turun,” lanjut
Dja’far, ”Angkatan muda sekarang tak mau lagi melirik pertanian karena
memang tak menjanjikan dan tak menjamin hidup, tetapi di Bugel,
petani-petaninya mayoritas muda karena kegiatan bertani menjamin hidup
mereka. Yang terjadi di situ adalah kehebatan gagasan anak-anak muda
dikombinasikan dengan kearifan yang tua-tua.”

Kenyataan di Desa Bugel juga membalik seluruh asumsi yang merendahkan
kapasitas dan perjuangan petani, serta membuktikan bahwa gerak ekonomi
dari sektor pertanian di desa meniupkan napas kepada kehidupan dan
penghidupan di kota.

Acungi jempol

Dja’far mengatakan, lahan pasir itu sangat marjinal, sangat tandus dan
telantar sebelum petani datang. Mengubah lahan seperti itu menjadi
lahan pertanian produktif dan berkelanjutan tak hanya ekstra sulit,
tetapi butuh keuletan dan kesabaran yang luar biasa.

”Lahan pasir sulit mengikat air, penguapannya tinggi sehingga kalau
disiram dengan air langsung ambles. Kandungan hara dan bahan organik
rendah sekali. Nalar keilmuwan kita mengatakan, lahan seperti itu
sulit dikelola,” ujarnya.

Tetapi keuletan petani menaklukkan semua kesulitan ya?

Petani dengan caranya sendiri mampu menyulap lahan tersebut menjadi
lahan yang sangat produktif. Sebagai akademisi, kami acungi jempol
pada mereka. Dari ilmu kesesuaian lahan, petani tahu bagaimana cara
mengelola lahan seperti itu dan memilih jenis tanaman yang cocok,
seperti cabai semangka, sayur-mayur, kentang, ubi, bawang, dan labu,
bukan mangga, durian, kelapa. Mereka juga menemukan sistem sumur
renteng untuk menyiram tanaman. Ini kan pengetahuan dari kearifan
lokal yang bisa dijelaskan dengan ilmu fisikaâ€"termodinamika

Mereka memahami hubungan antara kelengasan (kadar air tanah), suhu
tanah, perkembangan akar, struktur tanah, kaitannya dengan hara dan
dampak pada produksi pada kondisi lingkungan yang panas sekali.

Lalu mereka mencoba mencampur tanah dengan bahan organik, terus
dicoba, sampai berhasil. Mereka tak bisa menjelaskan secara ilmiah,
tetapi hasilnya sangat hebat. Dari coba-coba itu, produksinya naik.
Bawang merah, misalnya, meningkat dari 15 ton per hektar menjadi 26
ton per hektar setelah ada perlakuan khusus terhadap lahan.

Bersama petani, kami kemudian melakukan percobaan dengan aplikasi
bentonit, pada berbagai kedalaman lapis kedap antara 15 sampai 45 cm
yang bisa meningkatkan produksi antara 20-25 persen. Modal awalnya
agak besar, sekitar Rp 750.000 setiap petani, tetapi efektif berfungsi
selama lima sampai tujuh tahun. Modal itu kembali dalam setahun.
Banyak percobaan kami lakukan, tak hanya penggunaan bentonit, tetapi
juga lempung, pupuk kandang dan mulsa jerami.

Bagaimana perkembangan sosial ekonomi warga menurut penelitian Anda?

Dari survei sosial ekonomi diketahui, dari lahan 1.500 meter,
rata-rata produktivitasnya 2,014 ton per satuan luas. Pendapatan
bersih petani mencapai Rp 11,5 jutaan, waktu harga cabai masih Rp
7.000 per kilogram. Tanaman sawi yang diusahakan petani pada luasan
antara 0,02-0,08 hektar, produktivitasnya 2,020 ton per satuan luas,
dengan pendapatan bersih paling sedikit Rp 1 juta. Saya sempat tak
percaya, tetapi petani bilang, ”kalau enggak percaya apa sepeda motor,
rumah tembok, dan masjid yang kami bangun itu dari hasil mencuri?”

(Menurut Widodo, seorang petani di Bugel, hasil panen sawi yang
merupakan tanaman sampingan cukup untuk membiayai seluruh proses
produksi tanaman cabai dan sawi sekaligus. Sawi dipanen setiap satu
sampai satu setengah bulan)

Itu artinya usaha tani di lahan pasir membuat mereka sejahtera, bisa
menyekolahkan anak-anak ke luar desa. Ini jawaban bagi kita di negara
agraris, kalau kita mau seperti petani Kulon Progo itu sebenarnya kita
bisa sejahtera.

Pertanian berkelanjutan

Dja’far paham ada persoalan kepemilikan dalam kaitannya dengan lahan
garapan petani. Lahan telantar itu, menurut Dja’far adalah tanah
pasiran, tak ada yang memiliki.

”Pernah dicek ke kepala desa,” ujarnya, seraya melanjutkan, ”Dalam
reforma agraria, kalau ada tanah telantar, tak digunakan dengan baik,
lalu dimanfaatkan petani, ya boleh-boleh saja. Lahan itu lahan tak
bertuan, tetapi sejak tahun 2004 tiba-tiba berubah menjadi tanah
Pakualaman.”

Bagaimana Anda memandang petani Kulon Progo?

Petani lahan pasir Kulon Progo sudah melakukan apa yang diinginkan
pemerintah. Pertama, menggunakan teknologi secara arif, yaitu
teknologi ramah lingkungan untuk menjamin pertanian berkelanjutan.
Contohnya, mereka tak mengubah gumuk- gumuk pasir itu dan tak menggali
terlalu dalam. Kedua, mereka sudah menjalankan integrated farming
system, dengan menggabungkan pertanian dan peternakan. Banyak dari
mereka yang beternak sapi. Kotoran ternak dimanfaatkan untuk
memperbaiki kesuburan tanah. Sekarang ini trennya orang ramai-ramai
kembali ke yang serba organik. Petani lahan pasir Kulon Progo sudah
melakukannya dengan baik.

Saya prihatin kalau seluruh upaya budidaya dimusnahkan karena
pengalihfungsian lahan. Penggusuran akan membuat petani kehilangan
kepercayaan terhadap pemerintah. Kalau itu terjadi, saya khawatir akan
timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka kan sudah sejahtera, tak
perlu lahan banyak dan tidak merepotkan siapa pun. Sekarang ini doktor
banyak, presiden juga S-3 pertanian, tetapi kita impor pangan dan
kelaparan. Akhirnya, semua keputusan memang kembali ke hati nurani.

Bagaimana upaya petani di situ supaya harga komoditasnya tak dipermainkan?

Mereka sudah membentuk suatu lembaga yang mengatur supaya mereka tak
dipermainkan tengkulak sehingga harga jual hasil pertanian mereka
melampaui standar. Lembaga itu menyediakan sarana produksi pertanian.
Kalau ada petani yang kekurangan, tinggal ambil di situ. Nanti
dikembalikan setelah panen, tanpa bunga. Hanya, setiap berapa kali
pinjam, petani diwajibkan memberi sumbangan untuk keperluan lembaga.
Besarnya ditentukan secara bersama.

Bagaimana seharusnya petani diperlakukan?

Beri petani kesempatan untuk menggarap lahan-lahan kosong dan jangan
mengonversi lahan pertanian ke nonpertanian. Kita harus berjuang untuk
kedaulatan pangan, bukan ketahanan pangan saja, supaya tak mudah
dipermainkan luar negeri. Kalau kedaulatan pangan, kita berdiri di
atas kaki sendiri.

Pemerintah harus lebih memerhatikan petani. Waktu zaman revolusi fisik
dulu, yang banyak membantu gerilyawan adalah petani. Waktu resesi
ekonomi, banyak yang di-PHK, pulang kampung, petani yang menampung.

Ini bahasa sederhananya, dulu pertanian ibaratnya ”ibu tua”. Tetapi
kemudian pemerintah lebih tertarik dengan industri. Jadilah industri
sebagai ”ibu muda”, yang cantik, menarik. Tetapi ketika terjadi
resesi, ”ibu muda” itu tak dapat bertanggung jawab pada rumah
tangganya. Kembali ”ibu tua” yang harus menanggung semuanya. Sekarang
”ibu tua” tampaknya mau dilupakan lagi.

Kirim email ke