Semoga saja, para petani pesisir di Kulon Progo masih bisa bertanam n tidak termarjinalkan..
TEP On 21/04/2008, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh Maria Hartiningsih / Ahmad Arif/ Sri Hartati Samhadi > > http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.20.12320934 > > Perjalanan sebagai ilmuwan mengajari Dr Ir Dja'far Shiddieq, MSc (60) > untuk selalu berhati-hati melangkah. Dua pertanyaan yang berdiam di > ruang batinnya adalah, "Kalau ilmuwan sudah menggadaikan ilmunya, apa > lagi yang tersisa? Apa yang bisa dibanggakan kalau saya mengkhianati > nurani saya?" > > Perbincangan dengan ahli Ilmu Tanah dari Fakultas Pertanian > Universitas Gadjah Mada itu menjadi seperti oase yang menyegarkan. > Udara petang terasa sejuk di rumahnya yang asri di sebuah perkampungan > di bagian Utara kota Yogyakarta. > > Semua pernyataan itu terkait dengan pembelaannya pada petani lahan > pasir di pesisir Pantai Selatan Yogyakarta. Saat ini ribuan petani di > wilayah itu berhadapan dengan kekuasaan yang menghendaki konversi > lahan pertanian yang telah digarap selama belasan tahun, menjadi > kawasan penambangan biji besi berskala besar. > > Dja'far memulai penelitian di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, > Kabupaten Kulon Progo sekitar tahun 1996-1997 karena tertarik pada > pengembangan pertanian di kawasan yang gumuk pasirnya bergerak itu. > Tiga tahun terakhir ini secara rutin ia membawa mahasiswanya ke desa > itu untuk berguru langsung pada petani. > > Ia juga mengundang Sukarman, petani yang merintis pertanian lahan > pasir untuk menjadi menjadi "dosen" di kelas, mengajar mata kuliah > Pengelolaan Tanah. > > "Biar mahasiswa tahu bahwa ilmu di kampus bukan segala-galanya. Ada > ilmu di luar itu, seperti kearifan lokal yang bisa diangkat. Mahasiswa > puas, Pak Karman pun merasa ada ilmunya yang bisa dibagikan," ujar > Dja'far. > > Wilayah Bugel menjadi laboratorium hidup yang tak hanya berguna bagi > pendidikan pertanian untuk para mahasiswa, tetapi terutama > memperlihatkan kepada mereka realitas sosial yang berpunggungan dengan > asumsi umum bahwa petani bodoh, picik dan malas; bahwa desa adalah > wilayah yang tertinggal dan karena itu ditinggalkan; bahwa sektor > pertanian tak lagi memberi harapan. > > "Di Fakultas pertanian di mana pun jumlah mahasiswa turun," lanjut > Dja'far, "Angkatan muda sekarang tak mau lagi melirik pertanian karena > memang tak menjanjikan dan tak menjamin hidup, tetapi di Bugel, > petani-petaninya mayoritas muda karena kegiatan bertani menjamin hidup > mereka. Yang terjadi di situ adalah kehebatan gagasan anak-anak muda > dikombinasikan dengan kearifan yang tua-tua." > > Kenyataan di Desa Bugel juga membalik seluruh asumsi yang merendahkan > kapasitas dan perjuangan petani, serta membuktikan bahwa gerak ekonomi > dari sektor pertanian di desa meniupkan napas kepada kehidupan dan > penghidupan di kota. > > Acungi jempol > > Dja'far mengatakan, lahan pasir itu sangat marjinal, sangat tandus dan > telantar sebelum petani datang. Mengubah lahan seperti itu menjadi > lahan pertanian produktif dan berkelanjutan tak hanya ekstra sulit, > tetapi butuh keuletan dan kesabaran yang luar biasa. > > "Lahan pasir sulit mengikat air, penguapannya tinggi sehingga kalau > disiram dengan air langsung ambles. Kandungan hara dan bahan organik > rendah sekali. Nalar keilmuwan kita mengatakan, lahan seperti itu > sulit dikelola," ujarnya. > > Tetapi keuletan petani menaklukkan semua kesulitan ya? > > Petani dengan caranya sendiri mampu menyulap lahan tersebut menjadi > lahan yang sangat produktif. Sebagai akademisi, kami acungi jempol > pada mereka. Dari ilmu kesesuaian lahan, petani tahu bagaimana cara > mengelola lahan seperti itu dan memilih jenis tanaman yang cocok, > seperti cabai semangka, sayur-mayur, kentang, ubi, bawang, dan labu, > bukan mangga, durian, kelapa. Mereka juga menemukan sistem sumur > renteng untuk menyiram tanaman. Ini kan pengetahuan dari kearifan > lokal yang bisa dijelaskan dengan ilmu fisika�€"termodinamika > > Mereka memahami hubungan antara kelengasan (kadar air tanah), suhu > tanah, perkembangan akar, struktur tanah, kaitannya dengan hara dan > dampak pada produksi pada kondisi lingkungan yang panas sekali. > > Lalu mereka mencoba mencampur tanah dengan bahan organik, terus > dicoba, sampai berhasil. Mereka tak bisa menjelaskan secara ilmiah, > tetapi hasilnya sangat hebat. Dari coba-coba itu, produksinya naik. > Bawang merah, misalnya, meningkat dari 15 ton per hektar menjadi 26 > ton per hektar setelah ada perlakuan khusus terhadap lahan. > > Bersama petani, kami kemudian melakukan percobaan dengan aplikasi > bentonit, pada berbagai kedalaman lapis kedap antara 15 sampai 45 cm > yang bisa meningkatkan produksi antara 20-25 persen. Modal awalnya > agak besar, sekitar Rp 750.000 setiap petani, tetapi efektif berfungsi > selama lima sampai tujuh tahun. Modal itu kembali dalam setahun. > Banyak percobaan kami lakukan, tak hanya penggunaan bentonit, tetapi > juga lempung, pupuk kandang dan mulsa jerami. > > Bagaimana perkembangan sosial ekonomi warga menurut penelitian Anda? > > Dari survei sosial ekonomi diketahui, dari lahan 1.500 meter, > rata-rata produktivitasnya 2,014 ton per satuan luas. Pendapatan > bersih petani mencapai Rp 11,5 jutaan, waktu harga cabai masih Rp > 7.000 per kilogram. Tanaman sawi yang diusahakan petani pada luasan > antara 0,02-0,08 hektar, produktivitasnya 2,020 ton per satuan luas, > dengan pendapatan bersih paling sedikit Rp 1 juta. Saya sempat tak > percaya, tetapi petani bilang, "kalau enggak percaya apa sepeda motor, > rumah tembok, dan masjid yang kami bangun itu dari hasil mencuri?" > > (Menurut Widodo, seorang petani di Bugel, hasil panen sawi yang > merupakan tanaman sampingan cukup untuk membiayai seluruh proses > produksi tanaman cabai dan sawi sekaligus. Sawi dipanen setiap satu > sampai satu setengah bulan) > > Itu artinya usaha tani di lahan pasir membuat mereka sejahtera, bisa > menyekolahkan anak-anak ke luar desa. Ini jawaban bagi kita di negara > agraris, kalau kita mau seperti petani Kulon Progo itu sebenarnya kita > bisa sejahtera. > > Pertanian berkelanjutan > > Dja'far paham ada persoalan kepemilikan dalam kaitannya dengan lahan > garapan petani. Lahan telantar itu, menurut Dja'far adalah tanah > pasiran, tak ada yang memiliki. > > "Pernah dicek ke kepala desa," ujarnya, seraya melanjutkan, "Dalam > reforma agraria, kalau ada tanah telantar, tak digunakan dengan baik, > lalu dimanfaatkan petani, ya boleh-boleh saja. Lahan itu lahan tak > bertuan, tetapi sejak tahun 2004 tiba-tiba berubah menjadi tanah > Pakualaman." > > Bagaimana Anda memandang petani Kulon Progo? > > Petani lahan pasir Kulon Progo sudah melakukan apa yang diinginkan > pemerintah. Pertama, menggunakan teknologi secara arif, yaitu > teknologi ramah lingkungan untuk menjamin pertanian berkelanjutan. > Contohnya, mereka tak mengubah gumuk- gumuk pasir itu dan tak menggali > terlalu dalam. Kedua, mereka sudah menjalankan integrated farming > system, dengan menggabungkan pertanian dan peternakan. Banyak dari > mereka yang beternak sapi. Kotoran ternak dimanfaatkan untuk > memperbaiki kesuburan tanah. Sekarang ini trennya orang ramai-ramai > kembali ke yang serba organik. Petani lahan pasir Kulon Progo sudah > melakukannya dengan baik. > > Saya prihatin kalau seluruh upaya budidaya dimusnahkan karena > pengalihfungsian lahan. Penggusuran akan membuat petani kehilangan > kepercayaan terhadap pemerintah. Kalau itu terjadi, saya khawatir akan > timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka kan sudah sejahtera, tak > perlu lahan banyak dan tidak merepotkan siapa pun. Sekarang ini doktor > banyak, presiden juga S-3 pertanian, tetapi kita impor pangan dan > kelaparan. Akhirnya, semua keputusan memang kembali ke hati nurani. > > Bagaimana upaya petani di situ supaya harga komoditasnya tak dipermainkan? > > Mereka sudah membentuk suatu lembaga yang mengatur supaya mereka tak > dipermainkan tengkulak sehingga harga jual hasil pertanian mereka > melampaui standar. Lembaga itu menyediakan sarana produksi pertanian. > Kalau ada petani yang kekurangan, tinggal ambil di situ. Nanti > dikembalikan setelah panen, tanpa bunga. Hanya, setiap berapa kali > pinjam, petani diwajibkan memberi sumbangan untuk keperluan lembaga. > Besarnya ditentukan secara bersama. > > Bagaimana seharusnya petani diperlakukan? > > Beri petani kesempatan untuk menggarap lahan-lahan kosong dan jangan > mengonversi lahan pertanian ke nonpertanian. Kita harus berjuang untuk > kedaulatan pangan, bukan ketahanan pangan saja, supaya tak mudah > dipermainkan luar negeri. Kalau kedaulatan pangan, kita berdiri di > atas kaki sendiri. > > Pemerintah harus lebih memerhatikan petani. Waktu zaman revolusi fisik > dulu, yang banyak membantu gerilyawan adalah petani. Waktu resesi > ekonomi, banyak yang di-PHK, pulang kampung, petani yang menampung. > > Ini bahasa sederhananya, dulu pertanian ibaratnya "ibu tua". Tetapi > kemudian pemerintah lebih tertarik dengan industri. Jadilah industri > sebagai "ibu muda", yang cantik, menarik. Tetapi ketika terjadi > resesi, "ibu muda" itu tak dapat bertanggung jawab pada rumah > tangganya. Kembali "ibu tua" yang harus menanggung semuanya. Sekarang > "ibu tua" tampaknya mau dilupakan lagi. > > > [Non-text portions of this message have been removed]
