Media Advisori (20/5): Besok, FPR aksi Tolak Kenaikan Harga BBM!

FPR Menolak Kenaikan Harga BBM

FPR [20/5] Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyatakan menolak kenaikan harga BBM. 
Penolakan ini akan disampaikan dalam aksi massa yang dilakukan esok (21/5) di 
Jakarta. Aksi akan dimulai dari Bundaran HI pada pukul 09.00 WIB dan bergerak 
menuju Istana Negara. Kurang lebih 4.000 massa, dari berbagai sector seperti 
buruh, petani, miskin kota, perempuan, mahasiswa, dan lain-lain, akan turut 
dalam aksi tersebut. Aksi FPR menolak kenaikan BBM ini juga akan dilakukan 
secara serempak di 23 kota di Indonesia

Dalam siaran persnya, FPR menyatakan bahwa alasan kenaikan harga BBM yang 
direncanakan pemerintah sesungguhnya tidak bisa diterima. Tingginya beban 
subsidi BBM yang katanya mencapai 25 persen dari total dana APBN 2008 
sesungguhnya masih jauh lebih kecil dibandingkan beban utang luar negeri. 
Selain itu, pemerintah pun sesungguhnya tidak harus menaikkan harga BBM untuk 
memberikan santunan bagi rakyat miskin dalam bentuk BLT.

“Masalah utama yang kita hadapi dari pemerintah Indonesia sekarang adalah 
ketidakberanian SBY-JK untuk memotong dana pembayaran utang dan cicilan utang 
luar negeri yang sebenarnya memakan lebih dari 40 persen APBN 2008,” tegas Rudi 
HB Daman, Koordinator FPR. “Dengan menaikkan harga BBM tanpa memotong 
pembayaran utang sama dengan mencabut subsidi bagi rakyat miskin Indonesia dan 
memberikannya kepada negara-negara pemberi utang yang kaya raya.”

RANGKAIAN protes yang meluas ke berbagai penjuru negeri, sesungguhnya 
menunjukkan kemuakkan Rakyat Indonesia atas politik energy SBY-Kalla yang tidak 
diabdikan bagi kepentingan rakyat Indonesia. Liberalisasi yang digenjot tinggi 
pasca krisis ekonomi 1997 hanya memperpanjang penjajahan minyak dan gas di 
Indonesia, memperburuk krisis energy di dalam negeri, dan memperhebat 
perampokkan kekayaan alam.

Terkait dengan penyaluran dana BLT yang persiapannya dimulai hari ini, FPR 
memandang bahwa BLT adalah upaya SBY-Kalla untuk membungkam keresahan rakyat. 
Dengan BLT, SBY-Kalla berusaha menyibukkan rakyat dengan 
pertentangan-pertentangan horizontal yang dipicu oleh ketidakadilan dalam 
distribusi dana bantuan tunai. “Pemberian BLT kepada sebagian keluarga miskin 
adalah taktik ‘belah-bambu’ SBY-Kalla. Sebagian diangkat, sebagian diinjak,” 
jelas Rudi.

Lebih lanjut, Rudi juga memandang melalui penyaluran BLT, pemerintah pusat 
berusaha “mendistribusikan” beban dan tekanan politik dari istana negara ke 
kantor-kantor kepala desa hingga rumah-rumah ketua RT dan RW. Beban politik 
bagi jajaran pemerintah terendah sudah barang tentu akan lebih berat 
dibandingkan pemerintah pusat. Jajaran pemerintah terbawah adalah pihak yang 
sudah pasti akan secara langsung berkonfrontasi dengan rakyat, baik dari mereka 
yang kecewa akibat kenaikan harga BBM maupun mereka yang marah karena tidak 
kebagian dana BLT.

FPR sendiri tidak menolak pemberian BLT kepada kaum miskin. Bagaimana pun 
pemerintah memiliki kewajiban konstitusional untuk menyantuni kaum miskin yang 
saat ini hidup dalam kesusahan dan kesengsaraan. Artinya, BLT atau 
santunan-santunan lain sejenis itu merupakan merupakan kewajiban pemerintah dan 
hak kaum miskin sebagai warga negara Indonesia.

Yang ditolak oleh FPR adalah mekanisme pelaksanaan BLT yang rawan konflik dan 
tujuan politik yang bersemayam dibalik rencana penyaluran BLT. Dalam hal 
mekanisme pelaksanaan BLT, penentuan kriteria keluarga miskin yang berhak 
mendapatkan santunan dana secara langsung dilakukan secara terpusat dan tidak 
mengindahkan keberagaman masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, FPR mengajak berbagai kalangan untuk turut serta dalam aksi 
unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM. Perjuangan bersama lintas sektor ini 
menduduki peranan penting untuk memaksa pemerintah SBY-Kalla membatalkan 
niatnya untuk menaikkan harga BBM.***


Tentang Front Perjuangan Rakyat (FPR)  

FPR adalah aliansi organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang pada 
awalnya dibentuk untuk merespon perayaan Hari Buruh se-Dunia 2008. FPR 
menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar klas buruh dan kaum tani sebagai 
komponen pokok perubahan sosial. Selain melakukan aksi-aksi, FPR juga menggelar 
diskusi-diskusi yang mengulas berbagai persoalan sosial di masyarakat. Dalam 
politiknya, FPR berpegang pada prinsip kebebasan dalam inisiatif dan 
kemandirian dalam politik.  

Organisasi-organisasi yang bergabung dalam FPR:
Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria 
(AGRA), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong (ATKI-HK), Organisasi 
Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Serikat Buruh Aspirasi Pekerja Indonesia 
(SB-API), Forum Buruh Cengkareng (FBC), Serikat Buruh Koas Eterna Jaya 
Industries (SBK-EJI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Gerakan Mahasiswa 
Keristen Indonesia (GMKI), Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), 
Gerakan Mahasiswa Nasional Kerakyatan (GMNK), Perhimpunan Mahasiswa Katolik 
Republik Indonesia (PMKRI), Central Gerakan Mahasiswa Universitas Bung Karno 
(CGM-UBK), Sarekat Hijau Indonesia (SHI), Liga Pemuda Bekasi (LPB), Komite 
Pemuda Cengkareng (KPC), Arus Pelangi (AP), Gerakan Angkatan Muda Kristen 
Indonesia (GAMKI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional 
Indonesia Univ. Bung Karno (GMNI UBK), Forum Pemuda Kota Bekasi (FORDASI), 
Gerakan Rakyat Indonesia (GRI),  Aliansi Perlawanan Rakyat (APR),
 Kesatuan Buruh Transportasi Indonesia (KBTI), Serikat Pekerja Hukum Progresif 
(SPHP), Serikat Bajaj Jakarta (SEBAJA), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), 
INFID, INDIES, LP3ES, MIGRANTCARE, UPC, UPLINK, PBHI Nasional. 


E-mail             : [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
BLOG               : http://fprsatumei.wordpress.com


      

Kirim email ke