Oleh UMI KULSUM
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/26/00271943/masyarakat.meragukan.kebangkitan.indonesia


Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei dirayakan dengan
gegap gempita di lapangan Gelora Bung Karno dan dipimpin langsung oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden berpidato dan
mengungkapkan, Indonesia adalah bangsa yang berkemampuan dan bisa
mengubah nasib. Indonesia akan mampu menghadapi krisis energi dan
krisis pangan. Namun, bagaimanakah komentar langsung dari masyarakat?

Litbang Kompas melakukan jajak pendapat tanggal 21-23 Mei untuk
mengetahui opini masyarakat atas kondisi Indonesia akhir-akhir ini.

Hasilnya, sekitar 82 persen responden mengatakan, pemerintah belum
mampu mengatasi krisis pangan. Sebanyak 84 persen responden menjawab,
negara juga belum mampu mengatasi krisis energi (BBM dan listrik).
Bahkan, sebagian responden menyatakan tidak yakin Indonesia mampu
mengatasi kedua persoalan tersebut dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Tidaklah mengherankan jika masyarakat berpandangan demikian. Situasi
saat ini membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar
hidup mereka. Kemampuan daya beli menurun karena harga bahan pangan
meningkat. Biaya hidup lainnya melonjak sehingga penghasilan tetap
mereka berkurang nilainya.

Kenyataan itu membuat perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional menjadi
”gempita dalam sunyi”. Sebagian besar responden melihat, kemudahan
usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan harga kebutuhan pokok sangat
buruk saat ini. Masyarakat merasakan, kini situasi ekonomi sama sekali
tidak menjanjikan perbaikan kehidupan.

Pesimisme dirasakan ibu rumah tangga, kalangan yang belum memperoleh
pekerjaan, pelajar/mahasiswa, karyawan swasta, pegawai negeri, dan
terlebih dirasakan kalangan pengusaha.

Krisis energi dan pangan yang menimpa bangsa ini, dalam kenyataannya,
belum menumbuhkan semangat proaktif untuk memunculkan gagasan-gagasan
baru yang mencoba bangkit dan mencapai kemandirian.

Meski terlihat masyarakat mulai peka dan memiliki kesadaran akan
krisis energi, bukan mustahil perubahan pola hidup lebih dipengaruhi
oleh merosotnya kemampuan ekonomi sehingga tidak ada pilihan kecuali
menurunkan standar hidup.

Responden sebanyak 90,4 persen menyatakan telah melakukan penghematan
listrik dalam kehidupan sehari-hari, seperti mematikan lampu jika
tidak digunakan atau sedang tidur, mengurangi penggunaan pendingin
ruangan, hingga mengurangi intensitas menonton televisi.

Demikian halnya dengan penghematan BBM, 65,4 persen responden mengaku
telah mengubah gaya hidup sehari-hari, terutama dalam hal
transportasi. Bagi responden yang memiliki kendaraan roda empat, hal
pertama yang mereka lakukan adalah mengurangi intensitas penggunaan
kendaraan pribadi dan beralih dengan naik kendaraan umum atau sepeda
motor. Sementara itu, untuk kelompok yang lebih rendah tingkat
ekonominya, standar hidup pun menurun lagi, seperti mengganti gas
dengan minyak tanah, menggunakan sepeda ke kantor.

Bahkan, untuk ibu rumah tangga, mahalnya BBM membuat mereka harus
mengurangi volume masakan sehari-hari atau membuat menu makanan yang
tidak terlalu lama dimasak.

Sementara semangat untuk melakukan perlawanan terhadap kondisi bangsa
yang terpuruk ini dengan melakukan tindakan proaktif untuk kemandirian
belum jelas terlihat.

Ketergantungan kepada pasar barang konsumsi membuat pilihan hidup
bergantung pada dua hal: ketersediaan barang di pasar dan ketersediaan
uang di kantong. Sikap dominan publik untuk bertindak sebagai pelaku
yang menentukan kondisi pasar jelas tidak terlihat.

Dalam mengatasi krisis pangan, misalnya, sikap enggan kalangan
pengusaha/wirausaha untuk terjun ke bidang pertanian lebih banyak
terlihat, sebagaimana terlontar dari pernyataan 50,3 persen responden
kalangan ini. Mereka tegas-tegas menolak untuk terjun ke pertanian.
Semangat untuk kemandirian pangan justru terlihat di kalangan
pelajar/mahasiswa, karyawan swasta, pegawai negeri, dan kalangan yang
belum/tidak bekerja. Rata-rata keinginan mereka untuk terjun ke bidang
pertanian di atas 50 persen.

Kebangkitan Nasional, yang diartikan sebagai semangat kebangsaan,
dalam realitas masyarakat sepertinya tidak terlalu menggema.

Sebagian besar responden (69,5 persen) menyatakan solidaritas nasional
bangsa Indonesia saat ini lemah. Hanya 23,7 persen responden yang
mengungkapkan bahwa toleransi antarkelompok, seperti kaya dan miskin,
serta antaretnis cukup kuat. Sementara 73,1 persen menyatakan
solidaritas antargolongan lemah. Hal itu tidaklah mengherankan jika
melihat kenyataan, dalam kondisi keterpurukan ekonomi saat in, masih
saja ada golongan kaya yang menghamburkan uang untuk berpesta.

Responden menilai bahwa persoalan mendesak yang harus diselesaikan
saat ini adalah segala hal yang berkaitan dengan persoalan ekonomi
(58,7 persen), kemudian korupsi, pendidikan, dan hukum.

Krisis ekonomi dan sosial tentu menjadi pekerjaan yang sangat berat
bagi pemerintah saat ini, meski tidak dimungkiri bahwa karut-marutnya
kondisi saat ini tidak lepas dari kepemimpinan masa lalu. Namun,
hendaknya pemerintah saat ini lebih tegas dalam memihak masyarakat
luas daripada kepentingan golongan tertentu saja.

Keputusan konkret dan dukungan nyata dari pemerintah dan badan
legislatif untuk mewujudkan kebangkitan Indonesia akan selalu menjadi
sorotan masyarakat. (Litbang Kompas)

Kirim email ke