Kalau saja menujur JK yang menikmati BBM itu adalah 80% dikalangan orang2 kaya. maka kenyataannya memang benar.
Saya sendiri tidak suka di subsidi, bahkan bensin premium untuk kendaraan saya tidak saya beli, saya menggunakan Pertamax/Shell. Nah yang menjadi pertanyaan saya adalah ketika Harga Premium menjadi Rp. 6000, apakah bisa rakyat kecil diselamatkan? Proyek BLT bagi saya juga salah satu factor untuk mensubsidi masyarakat, agar mereka menjadi tidak terbebani. Memang sih untuk beli Minyak diluar Jakarta yang menjadi 2500 (Dijakarta sekarang di wilayah eceran udah mencapai 7000/liter) dengan bantuan 100rb per kk akan memudahkan, tapi bagaimana dengan dampak2 yang akan timbul. Apakah pemerintah tutup mata ketika saat ini banyak sopir2 Angkot/Bus/Ojek,dll sudah menaikkan hingga 35% bahkan Organda menuntut pengelola angkutan untuk menaikkan 50%. Nah, seperti postingan saya yang sudah2, untuk kendaraan diluar plat KUNING harus tidak disubsidi, nah untuk plat KUNING disubsidi penuh agar ongkos angkutan menjadi murah, sehingga harga yang sekarang sudah ada dapat diturunkan. Ketika BBM Naik maka: 1. Pengguna Kendaraan akan meningkat khususnya di tingkat pengendara RODA, coba lihat perkembangan penjualan Sepeda Motor bulan Mei/Juni/Juli ini, pasti akan ada kenaikan yang cukup signifikan, karena dengan BBM naik ini maka otomatis ongkos akan membengkak. Anggap saja dengan kenaikan 500 perak saja maka pengeluaran mereka yang bulanan akan meningkat, dan kalau dihitung2 mending saya mengambil motor, dengan bensin 1 liter yang seharga 6000 rupiah sudah dapat mengantarnya pulang pergi ke kantor dan rumah. 2. Harga-harga akan melambung dikarenakan biaya untuk menyewa angkutan akan menjadi mahal karena bensin naik 3. Sementara itu, pegawai swasta seperti saya akang mengurangi pengeluaran saya, bahkan untuk acara refresing pasti saya akan kurangi. Nah, kalau ada banyak yang seperti saya maka warung2 sembako dan warung2 makan akan berkurang pendapatannya, bahkan di sector pariwisata akan berkurang pengunjungnya karena orang akan lebih memilih berhemat 4. Konsumsi BBM akan meningkat tajam, karena orang2 akan beralih kekendaraan pribadinya (baik yang sudah ada maupun membeli baru), dengan peningkatan tajam ini akan menimbulkan konsumsi BBM semakin tinggi, dengan konsumsi BBM yang semakin tinggi maka akan menimbulkan IMPOR BBM semakin tinggi dan bila IMPOR BBM Tinggi berapa lagi PEMERINTAH akan menanggung SUBSIDI tersebut, 5. Makin banyak orang SUSAH 6. Dan masih banyak lagi. 7. Dari industry otomotif khususnya di produsen kendaraan roda 2 akan meningkatkan aktifitasnya, jadi bohong besar bila kenaikan BBM ini akan melemahkan penjualan mereka. Sebaliknya akan meningkatkan penjualan mereka, karena banyak konsumen akan memilih kendaraan jenis ini dibanding naik angkot yang sudah naik harganya Jadi, sudah tepatkah kenaikan BBM ini dilakukan?? Bagi saya sudah tepat, tapi cara implementasinya bagi saya masih banyak yang kurang. Dengan mahalnya harga bensin diharapkan masyarakat beralih ke kendaraan umum, namun masalahnya kendaraan umum pun terkena imbasnya, mereka akan mengeluarkan uang lebih untuk membeli solar/premium yang sudah naik, sehingga tariff mereka dinaikkan, dengan tariff yang dinaikkan mending konsumen membeli kendaraan pribadi nah kalau sudah begini konsumsi bensin meningkat, subsidi bengkak dan ini terus terulang bila pemerintah tidak mau merubahnya. Coba di buat SMART CARD khusus kendaraan umum, agar PREMIUM/SOLAR untuk kendaraan UMUM bisa dibawah 3000 rupiah, jadi ongkos akan lebih murah dan konsumen akan lebih memilih kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi, dengan banyak orang menggunakan kendaraan umum maka konsumsi BBM akan berkurang dan akan menipiskan SUBSIDI Pemerintah untuk BBM dan penghematan BBM akan terwujud. Namun masalahnya kalau sudah begini sektor penjualan kendaraan pribadi (maupun roda 2) akan berkurang dan pendapatan Negara dari PAJAK IMPOR akan berkurang, pendapatan Pertamina juga berkurang, nah kalau sudah berkurang pendapatan pemerintah dari pajak penjualan BBM juga akan berkurang, dan begitu seterusnya. Jadi, bagaimana nih.. Saya sendiri pusing untuk memikirkan hal ini, tapi untuk jangka panjang saya lebih setuju untuk mensubsidi sebanyak-banyaknya untuk kendaraan angkutan masal agar masyarakat tidak terbebani dan kendaraan pribadi tidak usah di subsidi. Tapi kalau dimilis ini ada yang punya pendapat lain mohon di bahas agar saya pun mendapat pencerahan dengan kasus seperti ini.. RBH www.htgmedia.net YM. [EMAIL PROTECTED] Skype. ronalhutagaol Yang sedang pusing memirkan harga SHELL Super Rp. 9.750/Liter dan mau beralih ke Pertamax Rp. 8.950 dan pengennya sih ke Premium Rp. 6.000 (tapi karena tidak mau disubsidi tetap ke pertamax) [Non-text portions of this message have been removed]
