http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/26/00300469/reformasi.1998.dinilai.gagal

Yogyakarta, Kompas - Gerakan reformasi tahun 1998 dinilai gagal sebab
tidak ada ideologi, konsep, dan rencana yang dipersiapkan setelah
tumbangnya rezim Orde Baru.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, San Afri Awang dalam diskusi bertema ”Bisunya
Reformasi, Matinya Pemimpin Bangsa” di Kampus Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta, Sabtu (24/5). Diskusi diadakan sebagai
peringatan 10 tahun reformasi dan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

”Setelah Soeharto lengser, mahasiswa tidak memikirkan bagaimana
seharusnya bangsa ini dibangun,” kata Afri.

Ia juga menuturkan, perjuangan mahasiswa pascareformasi 1998 juga
cenderung sporadis karena terpecah oleh kepentingan tiap-tiap
golongan. ”Dengan demikian, kontrol sosial politik terhadap penguasa
menjadi lemah,” ucapnya lagi.

Afri menyebutkan, banyaknya aset ekonomi bangsa yang dikuasai pemodal
asing, seperti Indosat dan Telkom, serta kenaikan harga bahan bakar
minyak menjadi bukti, kebijakan pemimpin pascareformasi belum berpihak
kepada rakyat.

”Penghilangan subsidi dan privatisasi yang diterapkan di Indonesia
merupakan dua dari 10 butir Konsensus Washington tahun 1989. Hal itu
penanda kuatnya cengkeraman neoliberalisme di negara kita,” tuturnya.

Menurut Afri, bukti lain reformasi tak berjalan adalah pembangunan
yang terjadi saat ini tidak menghidupkan modal sosial rakyat.

Ketua Pergerakan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Titok Haryanto
mengatakan, pascareformasi 1998, gerakan sosial di seluruh Indonesia
terfragmentasi secara besar-besaran. Perhatian gerakan sosial pun
bergeser dari negara ke daerah. ”Mestinya gerakan sosial ini bisa
memfasilitasi partisipasi dari masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Titok, reformasi yang menyebabkan tumbangnya Orde
Baru mengakibatkan sistem multipartai diberlakukan. Namun, Indonesia
malah terjebak dalam demokrasi elektoral yang mengagung-agungkan
pemilu dan mengabaikan kemungkinan yang bisa ditimbulkan oleh pemilu
multipartai.

Titok mencontohkan, terpinggirkannya hak sebagian masyarakat untuk
ikut bersaing memperebutkan kekuasaan menjadi di luar kendali pejabat
terpilih. ”Jika pendekatan ini digunakan, demokrasi sekadar sistem
yang memperlihatkan elite politiknya memperoleh kekuasaan dengan suara
rakyat,” kata Titok. (A06)

 

Kirim email ke