Terima kasih penjelasannya,

latar saya memang bukan ekonomi, walau di ipb pastilah dapat juga 
kuliah ekonomi , dan lumayan angka saya cukup bagus utkmata ajaran ini..smile..

Perkiraan bhw pasar bebas dgn  invisible hand akan mengatur 
sendirinya dan pemerintah nggak boleh ikut campur jelas telah membawa 
bencana dan tidak lagi diikuti oleh negara paling liberal sekalipun.

Juga tidak Amerika atau Jerman atau Jepang.

Saya pikir  mrk selalu  menutupi kenyataan ini dgnbebrohong ketika 
bicara dgn negara lemah atau berkembang.., kata mereka kami maju 
karena membebaskan semuanya, jadi kamu bebaskan aja juga di negara 
kamu kalaumau maju spt kami

padahal   maksud mereka dgn bebas dinegar akita ( yangbahkan tidak 
dia lakukan di negaranya) itu mereka bisa melakukan penjajahan 
baruyliwat dominasi kekuatan ekonominya.

Ynagbeginian iniyang dimakan oleh Sohib

ini cara pikir sederhana berdasar common sense llho.

Bung karno bilang bhw   pasra bebas sempurna akan menyebabkan 
survival of the fittest, artinya , negara miskin akan ditelan oleh 
negara kuat ekonominya

perusahaan kecil akan  dilindas oleh perusahaan besar.

sampai akhirnya hanya si kuat itulah yang bertahan


Karena itu dalam tulisan yang saya kutip .. ada pendapat pakar yang 
mengatakan bhw negara berkembang harus membuat aturan dulu agar hal 
itu tak terjaid..


disebut disitu adanya kecenderungan abuse of dominant power, misalnya

Jawaban anti pasar bebas memang bukan perjuangan  antar kelas buruh 
dgn pemodal.., yang bis amematikan keinginan untuk efisiensi , 
,melainkanjaminan andany aFairness dalam persaingan itu


  Persaingan  yang membawa pada   efisiensi memang   patut dikembangkan

tapi nyatanya  persaingan tidak sehat bukan membawa pada efisiensi

sebagai contoh didunia nyata terbukti bhw peretail gede bukan 
bertambah efisien tapi dengan kekuatan bargaining power ( baikmarket 
maupun buying power) cuma memindahkan semua biayanya kepada 
pihak  lemah seperti tergambar bertapa sengsaranya petani pisang di 
amerika latin atau pekerja pabrik garment di  India   , untuk 
kesjahteraan   atau persaingan diantara peretail  gede Inggeris.

Sayang tawaran saya untuk   mengirim  presentasi ttg ini nggak 
ditanggapi oleh Mas Lisman,

Tapi kalao masih mau , datangi aja web.ku www.nampa-ind.com, di 
bagian e books, bisa ditemui tulisna tulisan ttg ini, seperti dunia 
tanpa petani ( world without farmer0 , atau who pays.


Selamat membaca kalau berminat

HS



At 08:24 PM 07-06-08, you wrote:
>Saya tidak semata-mata memilah trade dengan industri
>tetapi melihat aktifitas perekonomian secara
>totalitas. Pasar saya lihat sebagai elemen substansial
>dari suatu perekonomian, dan peran negara yang memihak
>kepada penyejahteraan rakyat yang sedang menderita
>sebagai di pihak lain merupakan elemen substansial
>fungsi negara.
>
>Pemahaman saya adalah begini:
>
>1. Tahun 1700-1770an, Inggeris menjadi salah satu
>negara terkuat di dunia. Industri Inggeris bangkit
>karena menjadi produsen tekstil terkemuka dunia, dan
>tidak lepas dari dua hal, mereka menguasai pasokan
>kapas dari India dan negara yang kuat melindungi
>pengusaha yang memungkinkan biaya buruh rendah. Jadi:
>para kapitalis Inggeris memperdaya rakyat, dan juga
>memperdaya negara yang dibujuk mereka dengan logika
>merkantilisme, yakni negara menjadi kuat jika punya
>banyak emas hasil perdagangan dengan negara lain.
>Rakyat miskin tetapi negara bingung.
>
>2. Adam Smith mencurigai pengusaha telah memperlakukan
>buruh dan konsumen secara tidak wajar (tidak fair).
>Dia meneliti mengapa pengusaha menjadi makmur. Dia
>ingin buka rahasia ini kepada seluruh penduduk
>Inggeris. Bukunya hebat namun menimbulkan keraguan,
>sebab Adam Smith tidak punya latar belakang bisnis.
>
>3. Sejatinya buku Adam Smith membongkar rahasia
>(keculasan) yang dimainkan pengusaha. Makanya judulnya
>adalah: "An Inquiry into the Nature of the  Wealth of
>Nation". Cuma ironisnya, karena buku itu rumit, dan
>buruh serta konsumen tidak punya waktu membacanya,
>maka buku itu beredar di kalangan atas saja...
>
>
>4. Adam Smith menganjurkan siapapun jangan merusak
>bekerjanya mekanisme pasar. Negara--terutama--perlu
>membiarkan mekanisme pasar bekerja. Negara menurut dia
>perlu menegakkan hukum, melindungi kepemilikan baik
>kepemilikan produsen maupun hak-hak konsumen dan
>pekerja dengan melembagakan kepastian kepemilikan
>(property rights). Jangan lupa, negara wajib
>melindungi rakyat dari ancaman musuh. Negara tidak
>perlu menindak si pengusaha yang culas, (kecuali
>melanggar hukum) sebab ketamakan seorang produsen
>akan membawa dirinya kepada kebangkrutan. Dan,
>faktor-faktor produksi dari si pengusaha yang bangkrut
>akan  beralih dengan harga murah ke pengusaha lain,
>begitu seterusnya. Dengan begitu si pengusaha baru
>akan merukrut tenaga kerja.
>
>5. Kelemahan dari analisis Adam Smith ialah ketika dia
>mengabaikan transaction cost. Dia hanya menghitung
>bahwa harga di pasar (dari perspektif supply),
>semata-mata ketika harga adalah biaya produksi plus
>marjin keuntungan  =  harga dari penjajagan pilihan
>konsumen (sisi demand)= harga keseimbangan. Dia
>mengabaikan gelagat biaya transaksi justru sangat
>dominan pada suatu tatanan sosial yang rentan dengan
>'kongkalikong', seperti negeri kita. Contoh, harga
>patokan gas sudah jelas, yang dihitung menurut biaya
>produksi dan keuntungan wajar bagi pemerintah. Tetapi
>ketika di pasar (gelap), harganya naik sampai 20 s/d
>30 %. Adam Smith tidak pernah menyinggung transaction
>cost, yang bukan semata-mata social cost. Padahal,
>korupsi di negeri kita sebagian besar adalah karena
>biaya transaksi. Kata lainnya uang pelicin atau
>pungli.
>
>6. Situasi di atas (5) membuat tidak jelas, apakah
>yang kerap terjadi adalah kegagalan pasar (market
>failures) atau justru kegagalan negara (state
>failures), atau dua-duanya. Situasi ini berdampak
>sama: kemiskinan rakyat menjadi-jadi, dalam arti the
>wealth of nation tidak terwujud...
>
>
>Begitu pak HS.

Kirim email ke