he3x..

Remote Office, maka kita akan pilih Internet Way lebih penting dari
Bus Way (itu pendekatan infrastruktur)..

Pertanyaannya, itu speedy aja jelas jalurnya pakai kabel telpon, tapi
200 rebu aja masih pakai mbps..

Tanpa bermaksud promosi.. sejak 1,5 tahun terakhir saya beruntung
sampai juga internet Kabel yang bisa 384Kbps dengan Un-limited
pemakaian seharga Rp. 99 ribu (sekitar 15 liter bensin).. sejak ituj
saya memang sering kerja di rumah.. diskusi isu via YM dengan Web Cam
nya

Tapi itu kan tidak merata.. saya sih beruntung terlewat internet
murah... dari tahun 2000 saya sih sering diskusi sama Kang Onno W
Purbo soal RT-RW Net secara masif lalu didorong dengan implementasi
Opa Michael Sungiardi.. dengan wajanBolic dsb..

Tapi masalahnya adalah Bandwidth-nya mahal.. serta habit untuk sharing
cost dengan tetanga sangat tergantung dari rasa butuh bersama..

demand yang tak tumbuh inilah bukti dari tidak adanya inisitif
pemerintah ke sana.. beda dengan Korea mereka merasa memperbesar
internet literasi adalah transmisi pelaksanaan Budaya Investasi Lokal
.. Saya pernah nulis soal ini di Kompas 9 Oktober 2003 dengan judul
"Di Koperasi WajarNet ada Mie Ayam" yang bisa dibaca dokumentasinya di
http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=135

Nah sekarang seperti Pak Samali atau saya mungkin termasuk yang
beruntung bahwa bekerja bisa mengikuti daya kerja dan kreasi
individual, sehingga ber-teknologi untuk berhemat bisa jadi pilihan..
Bahkan, saya sekarang terjangkit.. kalau mau ada acara & ketemu orang
saya padatkan di satu hari yang sama..

Saya bahagia menjadi orang beruntung yang masih dapat "memilih", TAPI
masalahnya secara masif itu tidak bisa terjadi... banyak yang tak
beruntung.. dan ada yang eruntung TAPI tak punya pilihan.. Kalau yang
tak beruntung, internet Way masihlah fatamorgana dari mimpi memiliki
pekerjaan itu sendiri :)..

Bagi yang beruntung TAPI tak punya pilihan, itulah yang mesti pergi
ngantor kan.. semua demi "Upah".. jangan salah mereka ini upahnya
semakin tergerus loh sama tekanan daya beli (ada survey Indeks daya
Beli dari OPSI soal ini).. kenapa tetap "boros" dan "macet".. ya itu
tadi bos ini soal "upah" dan tak banyak memilih.. naik Transportasi
Umum.. seperti apa??? liat BusWay di jam pulang kerja di haltenya
antrean panjang Bos.. macet .. ada yang mikir ya mendingan macet di
mobil..Ini soal Infrastruktur kan??? Ini peran pemerintah kan??? kalau
mau digeser ke remote office bisa aja ..

 TAPI sekali lagi ada soal Infrastruktur juga dan habit menggeser
bekerja di rumah .. Padahal tahu tidak, 90% orang yang kerja di
segitiga emas akan kena potongan gaji atau tak menerima transport JIKA
telat hadir di mesin absensi..

Ah panjang deh.. Intinya butuh Fokus dari pemerintahan.. sepanjang
"SUDAH tak punya FOKUS, seenaknya naikkan harga" .. ya sama aja dengan
"Petruk Jadi Raja" dengan lakon "Onani Sistem Pasar" ha3x.. Itu
masalahnya, Pemimpin yang lemah.. yang sibuk dengan citra.. sehingga
sibuk dengan wacana.. tanpa implementasi.. dan pelarian ke nulis lagu
katanya ha3x.. Asoy Geboy Gedebug huhuy :)

Salam Upah Nombok,
-Yanuar Rizky-
mail to: [EMAIL PROTECTED]
on the net: http://www.elrizky.net
elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal::


2008/7/4 Samali Djono <[EMAIL PROTECTED]>:
> sekedar sharing cara penghematan BBM, terhindar kemacetan dan ketentraman
> pikiran karena tidak
> perlu bermacet-ria.
> sejak tahun lalu kami, ber 6 selaku sales/marketing tidak kekantor dan
> melakukan kegiatan promosi
> dan jualan melalui e-mail / fax / telepon dan alat-alat komunikasi lainnya
> dari rumah (home-office).
> kalu perlu kunjungan kepelanggan, kami berangkat dari rumah langsung,
> walaupun itu boleh dibilang
> sangat jarang. sekali dalam seminggu kami bertemu dengan rekan2 dan pimpinan
> dikantor untuk laporan dlsb. selama ini hanya 2 - 3 orang saja yang berada
> dikantor, seperti staff administrasi dlsb.
> alhamdullilah, ongkos-ongkos BBM / toll dlsb turun dratis. ini tentunya juga
> secara tidak langsung turut mengurangi kendaraan2 operasionil kami
> dijalanan, walaupun pastinya akan sangat-sangat kecil sekali persentasenya
> dibanding dengan kendaraan2 yang berseliweran diseantero Jakarta
> sehari-harinya.
>
> kalu makin banyak cara2 seperti ini dilakukan, tentunya persentase kendaraan
> akan makin berkurang
> yang berada dijalanan sehari-harinya. walau sekecil apapun, adalah lebih
> baik dari pada tidak.
>
> Salam,
> DjS

Kirim email ke