Menurut saya kebijakan 'menaikkan harga BBM' ini lebih tepatnya disebut
'menyesuaikan harga BBM'. Kita sejak dulu memang terlena dengan harga BBM
yang tidak riil. Jadi selama ini tertanam di benak kita kalau BBM itu produk
murah. Dengan harga yang murah ini tadi, respek kita terhadap produk tsb
jadi kurang. Lihat saja perilaku konsumen BBM, mereka cenderung tidak peduli
dengan kesehatan mesin kendaraannya, tidak menggunakan kendaraan sebagaimana
urgensinya, penggunaan listrik yang boros, dan lain2. Menurut saya,
kebijakan menyesuaikan harga BBM ini sudah tepat. Agar mendidik
masyarakat/konsumen untuk dapat lebih menghargai bahan bakar yg
non-renewable ini.

Namun, seharusnya kebijakan ini diiringi dengan menguatkan perekonomian
masyarakat. Misalnya dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya,
baik melalui pemerintah, maupun menggandeng sektor swasta. Dengan
tercapainya tingkat kesejahteraan masyarakat, ini akan membantu meredam
dampak penyesuaian harga BBM tadi. Masyarakat akan dapat lebih kuat
perekonomiannya, sehingga lebih tahan terhadap gejolak harga2.

Namun memang banyak kelemahan dari penciptaan lapangan kerja ini, misalnya
rendahnya pendidikan, keterampilan, dan mahalnya investasi di bumi Indonesia
ini. Secara awam, jawaban dari problem tsb adalah dengan meningkatkan
alokasi anggaran pendidikan nasional, memangkas birokrasi dan titik rawan
pungli. Selintas memang mudah mengatakannya, tapi merealisasikan hal ini
sulitnya minta ampun. Mental/moral birokrat yang membentengi terealisasinya
hal tsb.

Dari uraian di atas, kunci pokoknya memang mental/moral. Apabila
mental/moral setiap individu di birokrat tidak punya keinginan maju dan
sejahtera bersama, niscaya semua angan2 untuk 'Indonesia Bisa' sebagaimana
dicanangkan dalam seabad kebangkitan nasional bbrp waktu yang lalu
dipastikan memang sekedar slogan atau NATO.

Salam prihatin,
Dewono



2008/7/2 Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>:

>
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/02/00010586/presiden.tak.pernah.menyesal.menaikkan.harga.bbm
>
> Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku tidak akan
> pernah menyesal mengeluarkan keputusan menaikkan harga bahan bakar
> minyak, akhir Mei lalu.
>
> Sebab, kata Presiden, seorang pemimpin harus berani mengambil
> keputusan yang paling berisiko.
>
> Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disampaikan Juru Bicara Kepresidenan
> Andi Mallarangeng menjawab pers seusai menghadiri pelantikan Kepala
> Staf TNI Angkatan Laut di Istana Negara, Jakarta, Selasa (1/7).
>
> == cut
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke