Dear Teman-Teman Milis,..... � Kalau di Taiwan, kira-kira bagaimana Pak,...... Atau mungkin ada yang dapat memberikan pencerahan..... � Salam,.... Yusuf Senopati Riyanto
--- On Thu, 7/10/08, Adyanto Aditomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Adyanto Aditomo <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Jam Kerja Pindah ke Sabtu-Minggu To: [email protected] Date: Thursday, July 10, 2008, 1:00 AM Secara teknis PLTN memenuhi syarat sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik. Kelemahannya adalah : Resikonya terlalu besar jika terjadi kecelakaan. Kasus kecelakaan Chernobil di Rusia saja, dimana kecelakaan terjadi th. 1986, dampak negatifnya masih dirasakan sampai hari ini. Tahun 2007 kemarin saya ketemu diplomat kita yang saat itu sedang bertugas di KBRI Belanda, terkena kanker di sekujur tubuhnya, yang sedang dirawat di RS. Medistra Jakarta. Dia curiga itu akibat dampak Chernobil, karena saat kecelakaan terjadi, dia sedang bertugas pada jarak sekitar 200 KM dari lokasi kecelakaan. Dampak negatif semacam itu yang ditakutkan oleh banyak orang. Bangsa Indonesia ini kan terkenal ceroboh. Untuk yang termasuk kategori sederhana saja, misalnya merawat PLTU dengan Bahan Bakar Gas atau Batubara, Kilang Minyak, dan sebagainya, sering terjadi kecelakaan, yang membuat produksi terhenti total, sehingga suplai ke konsumen menjadi terhambat. Walaupun seluruh komponen bangsa sudah teriak - teriak sampai suara hampir putus, karena itu menyangkut hajat hidup orang banyak, tetap saja pengelolaannya ceroboh, sehingga gangguan produksi tidak terelakkan. Bisa dibayangkan kalau yang dikelola itu PLTN, apa tidak menakutkan jika "mental" pengelolanya begitu ceroboh??? Penglola PLTN harus sangat disiplin, mulai dari Penentuan lokasi penyimpanan Limbah Nuklir, proses penyimpanan limbah Nuklir sampai sistem operasinya, semua harus benar - benar dilakukan secara ketat. Tidak boleh ada penyimpangan. Jadi yang menghambat pembangunan PLTN di Indonesia bukan masalah teknis, tetapi "mental" pengelolanya yang diragukan. Belum lagi ada persoalan"moral" dalam pelaksanaannya, dimana ada potensi spesifikasi material yang digunakan bisa diturunkan akibat "fulus" ikut bermain. Jadi kesimpulan saya: Secara teknis PLTN OK saja, tetapi secara "mental" dan apa lagi "moral" pengelolanya, membuat banyak pihak takut menghadapinya. Salam, Adyanto Aditomo
