Waduh mas-e Manneke, lha gimana kalau yang menyekolahkan keluar negri itu 
menggunakan uang perusak lingkungan dan penghancur kehidupan�rakyat 
di�Sidoarjo?
�
Alih-alih akan memporak- porandakan bisnis mereka jika sudah duduk dikursi 
empuk....lha kan malahan menyuburkan bisnis mereka nantinya, bukan?? Dan 
kepentingan masyarakat luas akan masuk keranjang sampah.
Apa mau menghancurkan perusahaan yang menanggung sekolahnya diluar negri 
nantinya?
�
Salam,
Yuli


--- On Wed, 7/16/08, manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Catatan ringan tentang politik praktis dan 
kaum politisi
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 16, 2008, 2:46 AM






Makanya, Bung Ulil, kalo sudah jelas bahwa jadi politisi itu susah, dan 
tugasnya berat sebab dituntut menjembatani antara harapan dan kenyataan, lha 
kok masih banyak amat ya politisi yang ngaco? Jangankan mengerjakan tugasnya 
yang paling fundamental tersebut, lha mengesampingkan kepentingan pribadi aja 
belum sanggup kok. Masih doyan memperkaya diri sendiri, pakai fasilitas negara 
buat urusan yang enggak-enggak, bikin skandal, terima sogokan, dll. Intinya, 
lebih mikir perut sendiri daripada nasib rakyat.
�
Inilah wajah umum politisi kita saat ini bukan? Jadi gimana dong? Masa mesti 
ditolerir hanya karena kenyataannya memang begini? Kalo boleh ngutip Obama, kan 
kata kuncinya mestinya CHANGE? Jadi, tak bisa semua kebobrokan yang kini 
dipraktikan para politisi itu ditolerir. Begitu kompromi-kompromi dibuat, maka 
habislah idealisme.
�
Nanti ujung-ujungnya kita semua dipaksa menerima bahwa "politis kan juga 
manusia, bukan malaikat." Wah, ya repot kalo gitu.
�
manneke

Kirim email ke