http://kompas.com/read/xml/2008/07/17/06075724/siapa.yang.menikmati.uang.dari.yusuf
KONFLIK di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum kunjung berakhir. Kini bahkan kembali meruncing setelah salah seorang kadernya, Yusuf Emir Faishal dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus gratifikasi alih fungsi hutan bakau di Tanjung Siapi-api, Sumatera Selatan. Kedua kubu, Muhaimin Iskandar dan Gus Dur pun saling tuding dan saling bantah. Yusuf yang suami penyanyi kondang Hetty Koes Endang dan mantan Ketua Komisi IV DPR itu pun sepertinya harus berjalan sendiri. Jumpa pers kedua kubu yang digelar pada hari Rabu kemarin, semakin menguatkan bahwa tak satu kubu pun akan siap memback up Yusuf, seperti halnya yang dilakukan partai lain, ketika kadernya berurusan dengan hukum. Gus Dur dengan tegas mengatakan tak akan membela siapapun yang bersalah. "PKB tidak akan membela orang yang salah," kata Gus Dur dalam keterangan pers di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sekjen PKB, Yenny Wahid mengatakan, upaya Faishal mengait-ngaitkan kasusnya dengan partai hanya untuk cari selamat dan membuat KPK keder. Sebab, menurut Yenny, kasus Faishal tidak ada kaitannya sama sekali dengan PKB. Dari pihak Muhaimin, Nursyahbani Katjasungkana mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan mengirimkan penasihat hukum untuk Yusuf Faishal. Alasannya, Yusuf Faishal sudah memilih pengacara sendiri. "Dalam etikanya tidak bisa kita masuk begitu saja," ujar Nur. Pada pernyataannya yang lain, Nursyahbani yang pernah ditunjuk Muhaimin menjadi Ketua Tim Investigasi kala konflik PKB mencuat, memberi penegasan bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan pembuktian dari apa yang sempat diutarakannya dulu. "Sayakan pernah bilang bahwa PKB harus dibersihkan dari anasir-anasir jahat. Inilah anasir jahat itu," katanya. Meski demikian, Nursyahbani dan koleganya, Ida Fauziah, mengakui bahwa Yusuf Emir Faishal merupakan sosok yang loyal dan punya peran besar dalam membesarkan partai. Soal aliran uang Tak berhenti sampai di situ, kubu Gus Dur juga menegaskan bahwa pihaknya tak ikut menikmati uang gratifikasi yang dituduhkan kepada Yusuf. Uang yang disetorkan Yusuf, dikatakan Bendahara PKB Aris Junaidi merupakan uang partai. "Dari kubu sana (Muhaimin) yang pada banyak dapat. Kita enggak ada yang dapat sama sekali," lontar Aris sembari menyebutkan sejumlah nama kubu Muhaimin yang disebut Yusuf ikut menerima uang. Tudingan itu tentu saja dibantah kubu Muhaimin. Mereka bahkan meminta pembuktian, dan menyatakan bahwa mereka berada di luar koordinasi atas segala hal yang berkaitan dengan keuangan dan administrasi partai. "Cak Imin hampir dua tahun ini secara defacto dimakzulkan sebagai Ketua Umum. Ini tindakan keji Yenny Wahid dan Gus Dur. Habis manis sepah dibuang. Kami tidak terlibat apapun dengan itu," kata salah satu Ketua DPP PKB kubu Muhaimin, Marwan Djafar. Bahkan dengan tegas dia menyatakan, secara posisi politik Yusuf berada di pihak Gus Dur. "Dia hadir di MLB Parung dan merupakan anak buah Muamir Syam. Muamir adalah anak buah Sigit, Yenny, dan Gus Dur. Tidak ada hubungannya dengan DPP kami," ujar Marwan. Lalu, dimana posisi Yusuf sebenarnya? Sepertinya dia harus berjalan sendiri. Siapa pula yang sebenarnya menikmati aliran uang dari Yusuf? Inggried Dwiwedhaswary Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
