Lha iyo, Nun di FPK ini pinjam cucuk Mad Dollah dari Kenduri Cinta utk jadi 
pengacaranya. Dol, anda pasti beritahukan ini semua ke Ngainun. Tolong bilang 
ke dia, ditunggu warga korban lumpur mau diajak selamatan pake 'uang terima 
kasih kpd Nun' dari 4 desa. Kalau sudah terima uang terima kasih, masak mau 
tinggalkan korban lapindo. Sing bosok LSM opo Ngainun? Kalau Nun tdk terima 
uang terimakasih itu, berarti cecunguk2nya yg njendul kepala Nun. Masak wali 
gak tahu cecunguknya makan uang derita korban lapindo? Ini bukan fitnah kpd 
wali, tapi warga korban sendiri bilang urunan uang terima kasih utk Nun, ada 
tanda terimanya. Doa Nun di Porong: 'Ya Alloh, jika hambamu ini tdk jujur dlm 
menjalankan mandat ini, semoga Engkau hukum kami.' Tapi kejujuran itu juga 
urusannya dg korban lapindo. Makanya tolong Cak Nun datanglah ke warga korban 
utk jelaskan semua itu agar kejujuran itu terjelaskan. Agar catatan buruknya 
tdk tambah. Katanya melawan rezim Pak Harto
 sendirian, berani menuding-nuding Bambang Tri? Katanya Nun wali? Saya juga 
wali... Wali murid... Saya tdk benci sama Nun yg mengagumkan. Tapi tolong dia 
jelaskan ke warga korban terkait skema cash and resettlement hasil rundingan 
Nun dg Nirwan Bakrie yg meresahkan dan memecah belah korban lapindo dan 
ternyata skema itu tdk diakui pemerintah. Pak Doll, sekali lagi, Nun diminta 
tanggung jawabnya oleh korban lapindo! Penerima mandat tanggung jawab kpd 
pemberi mandat. Dollah sbg penyambung lidah Nun, sampaikan ini kepada Nun. 
Nanti Nun bisa sakit paru-paru lo ya! Anda tahu kalau Tuhan melahirkan Isa AS 
dari rahim ibu suci yg dianiaya penguasa. Nun sudah kena sumpah serapah korban 
lapindo yg teraniaya. Salam.


bc nusantara wrote:
> Wah ternyata masih panjang toh... Mas Dollah, dalam pertemuan hari
> ini(5/8/2008) dengan bupati, bpn, bpls, sudah jelas bahwa skema penyelesaian
> cash&resettlement hanya akal-akalan MLJ untuk ngolor-ngolor waktu dan
> nambahi derita warga. Akal-akalan untuk tidak membayar dengan dalih petok D,
> letter C, sk yasan dan gogol tidak isa di AJB-kan. Dasar hukum lengkap
> cak...bupati dan jajarannya juga tidak pernah diajak ngomong soal cash
> ressetlement ini. BPN juga menyatakan dasar hukum warga sudah jelas dengan
> surat BPN bulan maret lalu.
> Jadi penyelesaian pembayaran sisa 80% yang sudah mulai terlambat ini memang
> akan coba diolor lagi dengan skema yang dimuat dalam cash&resettlement yang
> sama sekali tidak jelas dasar hukumnya. Soal mandat-mandatan yang sampeyan
> bilang, hehehe mbok jangan ngeklaim setelah mendapatkan mandat terus bisa
> melakukan apapun sampai-sampai 'mandat' yang diberikan dilampaui dan tidak
> ada nilainya. Kalau sampeyan  hidup bersama warga tentunya realita yang
> njenengan sampaikan hanyalah dari  orang-orang yang merasa mewakili warga
> dan dengan  bekal 'surat mandat' atau berkas-berkas tanah warga yang dengan
> berbagai cara bisa didapatkan. Insyaallah kawan-kawan tidak mendapatkan
> mandat yang demikian luas, hanya mandat untuk mendampingi warga yang
> memperjuangkan haknya. Soal keputusan apapun juga selalu tidak diputuskan di
> kalangan 'perwakilan' warga, tapi seluruh warga yang memiliki hak yang
> sampai kapanpun tidak bisa dihapus. Jadi, tidak ada pahlawan cak
> disini...yang ada warga yang mau merdeka dari jerat sesat korporasi dan
> tetap memperjuangkan haknya...
> Kasihan cak warga yang njlungup dalam skema C&R, semakin panjang jalurnya,
> apalagi peluang lepas tangan dengan menghadapkan warga dengan pihak
> pengembang perumahan, walhasil 'lapindo' lepas dari kewajibannya. Mosok
> Negoro dikalahno *blekethekan* ngene... Apa tega membiarkan warga dalam
> derita seperti ini....KEBACUT! Bener cak Bagyo, pancen niate dagang
> kuwi...wis dagang nakal maneh... Nek cak Nun pancen ngerti kondisi koyo
> ngene mbok ngomong dewe kono gak usah nyilih *cucuk*-e wong... Ben ngerti
> cak, pean kuwi *jan-jane* mbelo lapindo opo warga...
> --caturaka--

Kirim email ke