He he. Tampaknya ini bukan lagi tentang rokok. Tapi tentang kebencian kultural 
(atau institusional?). Kebencian merokok sebagai budaya, bukan kesehatan lagi. 
Plus kegagalan menangkap konteks sederhana.
Respon saya terhadap post pak Eko semata-mata merujuk pada teks ""orang2 yg 
menuangkan perasaan dng hal2 yg negatif seperti merokok adalah orang2 yg tidak 
cerdas." yang punya hubungan kontekstual, perfectly. Bukan teks yang paralel, 
tapi sepenuhnya in-line. Sama sekali bukan Analogi.
Lets review.
cukup pak, gak perlu ditambahin daftarnya.
"toh analoginya juga nggak nyambung."
Perhatikan sekali lagi, apakah ada ANALOG-i dalam post saya.
"konklusi mereka besar krn perokok adalah absurd
tdk ada statistical reportnya"
Dalam bahasa Anda sendiri: "orang2 yg menuangkan perasaan dng hal2 yg negatif 
seperti merokok adalah
orang2 yg tidak cerdas."

Dalm post saya terdahulu, saya mengutip kata-katanya pak Einstein. "Pipe 
smoking contributes to a somewhat calm and objective judgment of human 
affairs." Ini pendapat subyektif pak Einstein. Ia perokok berat dan 
menggunakannya untuk berpikir.
"setidaknya sy belum nemu.
statistican bilang cuma kebetulan.
bukan jawaban scientic, hanya sekedar asal ada jawaban."
He he, ini lagi! Siapa sih orang yang mau menggunakan metodologi kuantitatif 
pada subyektifitas? Tolong jangan bilang bahwa pak Eko BENAR-BENAR BERPIKIR 
bahwa hal itu dapat dilakukan!
Jadi siapa yang absurd sebenarnya di sini?

"mendingan keluar rumah aja.
lihat kalangan bawah, cermati persoalan mereka..
gak bisa sekolahin anak, nafkah keluarga diabaikan.
mereka memaki-maki pemerintah, salahin nasib.
sambil meneruskan kepulan asap rokok mereka"
Saya rasa Anda yang harus banyak keluar .. dan maksud saya benar-benar "keluar" 
dari kotak yang Anda diami itu. Kotak yang dibatasi oleh: Merokok - kangker 
paru-paru = mati. Merokok = tidak cerdas. Merokok = 300rb sebulan = seharusnya 
dipakai buat makan saja. Wah, betapa sederhana sekali dunia ini terlihat dari 
dalam kotak Anda itu.

"kalo sy bilang lebih cerdas dari mereka, oh..tentu saja.
silakan anda catat atau apapun."
Sudah pak. Sudah dicatat. Anda cari di google dan nama Anda, atau saya, akan 
ketemu pembicaraan ini. Dimana Anda dengan sangat arogan mengatakan bahwa Anda 
lebih cerdas dari Albert Einstein atau 40 jutaan rakyat Indonesia, hanya karena 
mereka merokok untuk mengekspresikan perasaanya (dengan menekankan bahwa 
ekspresi TIDAK SAMA dengan berusaha menunjukkan sesuatu pada orang lain). 
Dengan memperhatikan bahwa CERDAS adalah sesuatu yang menjelaskan banyak 
kualitas manusia. Empati, kemampuan untuk memahami, dsb, juga kualitas 
kecerdasan manusia. Juga dengan memahami bahwa CERDAS adalah sesuatu yang TIDAK 
SAMA dengan "WELL INFORMED", "AKSES TERHADAP EDUKASI", dan sebagainya. 

"soalnya tokoh intuitif spt james bondpun keliatanya sudah sadar
orang lain.....? tanyain aja, atau tes iq aja sekalian."
Siapa ? Jems bond? Oh ... si tokoh FIKSI itu ya?
Dor ... dor. Aaaaak. Mati deh penjahatnya. - sesederahana itu ya, dunia?


----- Original Message ----
From: EKO KERTAJAYA <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 27, 2008 10:16:06
Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] JAMES BOND PUN DILARANG MEROKOK


cukup pak, gak perlu ditambahin daftarnya..
toh analoginya juga nggak nyambung.
konklusi mereka besar krn perokok adalah absurd
tdk ada statistical reportnya, setidaknya sy belum nemu.
statistican bilang cuma kebetulan.
bukan jawaban scientic, hanya sekedar asal ada jawaban.
mendingan keluar rumah aja.
lihat kalangan bawah, cermati persoalan mereka.
gak bisa sekolahin anak, nafkah keluarga diabaikan.
mereka memaki-maki pemerintah, salahin nasib.
sambil meneruskan kepulan asap rokok mereka
kalo sy bilang lebih cerdas dari mereka, oh..tentu saja.
silakan anda catat atau apapun.
soalnya tokoh intuitif spt james bondpun keliatanya sudah sadar
orang lain.....? tanyain aja, atau tes iq aja sekalian.

Kirim email ke