aolah pak, sy nggak bawa ke masalah kebencian budaya, kultural atau apapun 
kok, kejauhan.
ini seperti anda bilang, konteks sederhana, masalah sederhana, bahkan sangat 
sederhana.
kalo saya bawa ke teorema statistic, semata-mata instink sy saja lihat anda 
bawa nama2
besar dikorelasikan dng perokok.
inipun juga sy akhiri saja dng melihat judgement anda thd statistics 
science.
balik lagi deh ke awal kesederhanaan tadi.
bagi saya seh pak, dng adanya informasi medis ttg bahaya merokok adalah 
cukup utk
melakukan tindakan menghentikan merokok, linier dng informasi medis ttg 
bahaya narkoba
bagi kesehatan. sederhana sekali bukan.
lantas kenapa yg sederhana seperti itu susah juga nangkepnya. jawaban arogan 
sy memang
masalah kecerdasan. klo ini menyinggung perasaan, tentu saja sy mohon maaf.
banyak sekali orang pandai, mempunyai ide2 cerdas, berkomitmen  penuh akan 
isu2
peradaban, budaya, teknologi etc. namun apa yg mereka katakan jika disodori 
selembar
kertas info medis bahaya merokok. sekonyong-konyong resistensinya muncul dng 
berbagai
argumen fiksinya. linier juga seperti misalnya para pakar hukum di yudikatif 
yg tdk diragukan
lagi komitmen keilmuannya, namun jika disodori data korupsi di lembaganya, 
ramai2 mereka
menolaknya.
sederhana bukan ? apakah kurang sederhana juga ?
sederhana..  hmmm sy suka kata tsb.krn  banyak sekali yg membikinya menjadi 
rumit.

ps.
now klo einstein disodori report medis bahaya merokok, apakah ia jadi malas
dan jadi bodoh ya ? he...he....a such of textual thinking.


----- Original Message ----- 
From: "verdi adhanta" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, August 28, 2008 7:44 AM
Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] JAMES BOND PUN DILARANG MEROKOK


He he. Tampaknya ini bukan lagi tentang rokok. Tapi tentang kebencian 
kultural (atau institusional?). Kebencian merokok sebagai budaya, bukan 
kesehatan lagi. Plus kegagalan menangkap konteks sederhana.
Respon saya terhadap post pak Eko semata-mata merujuk pada teks ""orang2 yg 
menuangkan perasaan dng hal2 yg negatif seperti merokok adalah orang2 yg 
tidak cerdas." yang punya hubungan kontekstual, perfectly. Bukan teks yang 
paralel, tapi sepenuhnya in-line. Sama sekali bukan Analogi.
Lets review.
cukup pak, gak perlu ditambahin daftarnya.
"toh analoginya juga nggak nyambung."
Perhatikan sekali lagi, apakah ada ANALOG-i dalam post saya.
"konklusi mereka besar krn perokok adalah absurd
tdk ada statistical reportnya"
Dalam bahasa Anda sendiri: "orang2 yg menuangkan perasaan dng hal2 yg 
negatif seperti merokok adalah
orang2 yg tidak cerdas."

Dalm post saya terdahulu, saya mengutip kata-katanya pak Einstein. "Pipe 
smoking contributes to a somewhat calm and objective judgment of human 
affairs." Ini pendapat subyektif pak Einstein. Ia perokok berat dan 
menggunakannya untuk berpikir.
"setidaknya sy belum nemu.
statistican bilang cuma kebetulan.
bukan jawaban scientic, hanya sekedar asal ada jawaban."
He he, ini lagi! Siapa sih orang yang mau menggunakan metodologi kuantitatif 
pada subyektifitas? Tolong jangan bilang bahwa pak Eko BENAR-BENAR BERPIKIR 
bahwa hal itu dapat dilakukan!
Jadi siapa yang absurd sebenarnya di sini?

"mendingan keluar rumah aja.
lihat kalangan bawah, cermati persoalan mereka..
gak bisa sekolahin anak, nafkah keluarga diabaikan.
mereka memaki-maki pemerintah, salahin nasib.
sambil meneruskan kepulan asap rokok mereka"
Saya rasa Anda yang harus banyak keluar .. dan maksud saya benar-benar 
"keluar" dari kotak yang Anda diami itu. Kotak yang dibatasi oleh: Merokok - 
kangker paru-paru = mati. Merokok = tidak cerdas. Merokok = 300rb sebulan = 
seharusnya dipakai buat makan saja. Wah, betapa sederhana sekali dunia ini 
terlihat dari dalam kotak Anda itu.

"kalo sy bilang lebih cerdas dari mereka, oh..tentu saja.
silakan anda catat atau apapun."
Sudah pak. Sudah dicatat. Anda cari di google dan nama Anda, atau saya, akan 
ketemu pembicaraan ini. Dimana Anda dengan sangat arogan mengatakan bahwa 
Anda lebih cerdas dari Albert Einstein atau 40 jutaan rakyat Indonesia, 
hanya karena mereka merokok untuk mengekspresikan perasaanya (dengan 
menekankan bahwa ekspresi TIDAK SAMA dengan berusaha menunjukkan sesuatu 
pada orang lain). Dengan memperhatikan bahwa CERDAS adalah sesuatu yang 
menjelaskan banyak kualitas manusia. Empati, kemampuan untuk memahami, dsb, 
juga kualitas kecerdasan manusia. Juga dengan memahami bahwa CERDAS adalah 
sesuatu yang TIDAK SAMA dengan "WELL INFORMED", "AKSES TERHADAP EDUKASI", 
dan sebagainya.

"soalnya tokoh intuitif spt james bondpun keliatanya sudah sadar
orang lain.....? tanyain aja, atau tes iq aja sekalian."
Siapa ? Jems bond? Oh ... si tokoh FIKSI itu ya?
Dor ... dor. Aaaaak. Mati deh penjahatnya. - sesederahana itu ya, dunia?

Kirim email ke