Benar Bud, saya pernah ketemu bapak-ibumu di Cipinang. Saat itu beliau
sudah kenal, karena sebelumnya pernah singgah ke rumah meminta tolong
untuk nasib kamu (ketika tertangkap). Saat itu adalah ketika saya
sudah menyelesaikan "longmarch denpasar-MPRRI", beliau berdua menemui
saya di ampera cilandak.
Eh ketika ketemu di Cipinang saya disapa secara berbareng "kapan bapak
masuk ke sini?" Keruan saja saya bingung menjawab, ketika dituduh
makar pun kok nggak nyusul kamu. Semua itu telah lewat, good luck ya
bud....dengan "keberanian kamu untuk belajar" agar kaya dan pintar.
Lebih dari itu untuk membebaskan kemiskinan masyarakat yang struktural
sifatnya (akibat keterjajahan).
salam, robama.


--- In [email protected], Budiman Sudjatmiko
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Elrobama
> �
> Saya mau mengaku nih (pengakuan ini belum pernah saya sampaikan ke
orang lain hehehe...): saya berkuliah sampai dpt gelar sarjana
sebenarnya lebih sebagai�cara saya untuk sedikit bisa menyenangkan
orang tua (apalagi mereka masih mau repot-repot setiap minggu datang
mengunjungi saya ke Cipinang...membawakan sayur asem, makanan
favourite saya, karena mereka tahu bahwa 'saya akan mati' kalau�gak
makan sayur asem dalam waktu seminggu hehehe...Jangan2 bapak Elrobama
malah pernah ketemu bapak ibu saya di sana).
> �
> Sejak SMP saya sdh tidak terlalu percaya dgn cara pendidikan di
Indonesia. Satu-satunya bulan 'madu saya' dgn pendidikan di Indonesia
adalah�saat SD (meskipun menurut saya masih terlalu banyak dijejali
mata pelajaran). Sekolah selebihnya saya rasakan sebagai ruang tahanan
yang sengsaranya melebihi�LP Cipinang, (minimal di Cipinang saya
mendapatkan lebih banyak pelajaran dari para tahanan politik, seperti
Xanana Gusmao, Kolonnel Latief, Sri Bintang, Muchtar Pakpahan, Fauzi
kasus Lampung�maupun pelajaran dari para koruptor, pengguna narkoba,
pembunuh, penculik dan sebagainya, ketimbang sekolah saya setelah SD.
Tapi ini bukan berarti saya mau belajar jd koruptor ataupun pembunuh
ya pak hehehe...).���
> Tapi kembali ke topik pendidikan di Indonesia. Di SD kita terlalu
banyak dijejali pelajaran. Menurut saya, saat SD, seorang anak itu
hanya perlu/wajib diberikan 6 mata pelajaran:
> 1. Matematika (agar tahu logika), diajarkan khusus pada hari Senin
> 2. Bahasa Indonesia, khususnya tata bahasa, debat�dan mengarang
(agar sejak kecil kita terlatih berartikulasi dlm lisan maupun
tulisan), diajarkan khusus pada hari Selasa
> 3. Bahasa Inggris, khususnya grammar dan mengarang (agar terlatih
dlm pergaulan dunia), diajarkan khusus pada hari Rabu
> 4. Bahasa daerah setempat (agar sadar akar budaya asal atau tempat
kita tinggal), diajarkan khusus pada hari Kamis
> 5. Sejarah (agar sadar akar bangsa dan logika sejarah, bukan sekedar
menghafal), diajarkan khusus pada hari Jum'at (setelah itu bagi yang
muslim bisa belajar agama di masjid, yang beragama lain bisa
difasilitasi di tempat ibadahnya masing-masing)
> 6. Pengantar Filsafat�(agar berlatih utk logis, etis dan
estetis� sejak kecil), diajarkan khsusus pada hari Sabtu.
> �
> Tentu semuanya harus disesuaikan dgn standard SD. Baru setelah SMP
para anak didik disalurkan ke minat-minat penjurusan yang ada, dgn
tetap mengajarkan ke 5 pelajaran di atas sebagai pelajaran wajib, dgn
mengecualikan pelajaran bahasa daerah. Jadi anak jurusan fisika atau
biologi sekalipun, tetap belajar sejarah bangsa plus sejarah ilmu
pengetahuan/sejarah penemuan-penemuan).
> Pertanyaannya kemudian: uangnya dari mana utk biayai itu semua?
> Jawabnya adalah:
> 1. Kenakan pajak progresif bagi penduduk Indonesia yang menengah ke atas
> 2. Negosiasi ulang seluruh kontrak karya pengelolaaan sumber daya
alam, agar lebih menguntungkan kita. Emas di freeport dan lain-lain
untuk biaya subsidi pendidikan anak Indonesia, bukan utk kepentingan
pihak lain).
> �
> Gak berani memulai melakukan itu?
> 'KE LAUUT AJA...!' kata anak remaja jaman sekarang...
>
> wassalam
>
> Budiman Sudjatmiko
> (yang baru mengenalkan sejumlah buku 'BLA..BLA..BLA..UNTUK PEMULA'
Terbitan MIZAN utk anak saya biar dia sadar bahwa memulai segala yang
baru itu tidak selalu menakutkan, tapi sangat bisa menyenangkan. Belum
terlalu miskin sehingga gak sanggup beli buku2 itu, tapi juga mulai
dipusingkan dgn kebutuhan sekolah yang banyak utk anak)

Kirim email ke