Oleh Sri Rejeki
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/09/03021155/nyinden.dan.nyiter.untuk.bertahan.hidup



"Kowe nangis yo? Wis ojo nangis," hibur Kamiyem (50) kepada Sriyatun
(40) yang tiba-tiba merebak air matanya saat mengingat setiap hari
harus tidur berjejal dengan sesama pengamen musik tradisional.

"Enggak, aku enggak nangis. Aku ini pilek," kata Sriyatun mencari
alasan sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan orang-orang di sekitarnya.

Sebelumnya, sambil sesekali melempar senyum, Sriyatun menceritakan
kisah hidupnya kepada Kompas. Sriyatun, perempuan asal Ngawi, Jawa
Timur, sudah sekitar 20 tahun menjadi pesinden keliling, termasuk di
Kota Solo, Jawa Tengah. Empat tahun terakhir, ia bersama empat
rekannya, Pawirorejo (83), Kamiyem, Marjuki (60), dan Zainah (80),
menjadi "musisi" tetap yang mangkal di depan rumah makan Pecel Solo di
Jalan Dr Supomo, Solo.

Sekilas pandang saja, kelompok tua-tua ini menjadi bagian wajah Solo
dan tradisi Jawa yang ngelangut dan antik itu.

Penghasilan kelimanya dengan mengamen sejak pukul 10.00 sampai pukul
15.00 atau 16.00 dirasakan lumayan. Dalam sehari setidaknya
masing-masing bisa membawa pulang Rp 20.000.

Dengan makan siang disediakan oleh rumah makan Pecel Solo, menurut
Sriyatun, setiap hari ia bisa menyisihkan Rp 7.000 setelah
mengeluarkan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. "Jika
uang sudah terkumpul cukup banyak, saya bawa pulang. Uangnya untuk
jajan anak, bayar sekolah, dan ongkos bolak-balik ke kampung dari
Solo," kata Sriyatun di tengah petikan suara siter dan lantunan
rekannya menyinden.

Saat pengunjung rumah makan sangat ramai dan murah hati, masing-masing
bisa membawa Rp 75.000 dalam sehari, seperti saat Lebaran kemarin.

Menjadi pesinden awalnya "kecelakaan" bagi Sriyatun. Ia sebelumnya
buruh tani tebu. Lalu, ia diajak temannya ke Jakarta. "Eee ... bukan
kerja di Jakarta, malah diajak jadi sinden keliling di Pacitan. Pernah
juga saya mengamen di Ngawi. Tapi, di sana sepi. Jadi, kami pindah ke
Solo," ujar Sriyatun yang kini fasih mendendangkan tembang Jawa Caping
Gunung, Ali-ali, dan banyak lagi lagu yang mengiris hati.

Hal serupa dialami Marjuki. Sudah 40 tahun ia mengamen. Keahliannya
bermain gendang. Agar mengirit biaya, ia dan rekan-rekannya sesama
pengamen musik tradisional dari Ngawi menyewa sebuah kamar kos di
Kampung Pringgading, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota
Solo. Kamar kos berukuran 5 x 4 meter itu tidak jarang ditempati 14
orang sekaligus, paling sedikit 4-6 orang.

Biaya sewanya, menurut Sriyatun, Rp 1.500 per hari dan hanya
dibayarkan bila menginap di kamar itu. "Teman-teman dari Ngawi berasal
dari Brangkal, Geneng, Munggut, dan Dungprau. Kami semua sudah seperti
saudara, saling bantu bila ada kesulitan. Tapi, soal utang, ya, tetap
harus bayar," katanya.

Rekan-rekannya sesama pengamen musik tradisional mangkal di rumah
makan di Sumber, Loji Wetan, dan Gading. Bagi Marjuki, mengamen
menjadi pekerjaan paling menjanjikan. Marjuki pandai menabuh gendang
setelah rajin memerhatikan orang bermain gendang. Sebelum mengenal
dunia musik, ia adalah petani singkong dengan penghasilan tak menentu.
"Belum tentu setahun sekali bisa panen. Kalau mengamen begini, sehari
saya bisa dapat penghasilan yang cukup buat beli sekeranjang telo,"
kata Marjuki.

Demikian pula dengan Kamiyem. Ibu rumah tangga ini belajar menyinden
saat bergabung dengan perkumpulan ibu-ibu PKK di kampung tempat
tinggalnya di Joyotakan, Solo. Saat ketiga anaknya masih kecil, ia
menyambi membuat keset. Pernah pula ia berjualan pecel, bakmi, dan
lotis untuk menambah penghasilan keluarga.

"Ada seorang kenalan yang kemudian mengajak saya mengamen. Katanya
hasilnya lumayan untuk tambah-tambah membayar uang sekolah anak," kata
Kamiyem, ibu tiga anak.

Bagi Kamiyem yang tidak pernah mengecap bangku sekolah, melakoni diri
sebagai pesinden jalanan memberi hasil yang cukup lumayan buat ekonomi
keluarganya. Dalam kondisi tak memiliki keterampilan khusus, Kamiyem
juga tak punya banyak pilihan menjalani profesi yang diinginkannya.

"Saya tidak punya keterampilan apa-apa. Tidak punya ijazah. Mau kerja
di pabrik sudah tidak ada yang mau pakai tenaga saya karena sudah
tua," papar Kamiyem dalam balutan kebaya brokat hijau dan kain batik
lengkap dengan konde di kepala.

Pawirorejo awalnya pembuat siter. Lama-kelamaan ayah enam anak ini
malah menjadi pengajar instrumen siter. "Lha saya juga tidak tahu,
banyak orang bule datang ke sini minta diajari main siter," kata
Pawirorejo. Kerja di proyek bangunan seperti saat muda tak mungkin
lagi, sedangkan pesanan siter sebulan paling 3-4 buah.

"Harga siter saya itu Rp 500.000-Rp 800.000," kata lelaki tua yang
tinggal di Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen, Solo, itu.

Sriyatun dan teman-teman sepuhnya itu niscaya tak sekadar mencari
sesuap nasi. Mereka menghibur para pencinta pecel di rumah makan itu
sembari memperpanjang usia tradisi sastra dan karawitan Jawa....

Kirim email ke