Oleh Hermawan Kartajaya 
http://kompas.com/read/xml/2008/10/26/06194136/quotitaposs.not.targeting.anymore.itaposs.confirmingquot



DALAM legacy marketing, setelah melakukan segmentasi, langkah
berikutnya adalah memilih segmen mana yang akan Anda layani. Inilah
yang disebut targeting. Segmen yang Anda layani ini namanya target
market. Target market ini bisa terdiri atas satu segmen, bisa juga
beberapa segmen.

Mengapa kita perlu melakukan targeting? Ya, karena sumber daya kita
yang terbatas. Kita harus mengalokasikan sumber daya kita tersebut
secara tepat. Targeting adalah tentang bagaimana kita menempatkan
dengan tepat perusahaan kita ke dalam segmen yang sudah dipilih.
Karena itu, saya menyebutnya sebagai fitting strategy.

Ada empat kriteria yang biasa dipakai untuk menilai menarik-tidaknya
sebuah segmen pasar untuk dijadikan target market. Kriteria itu, yaitu
ukuran pasar, pertumbuhan pasar, situasi persaingan, dan keunggulan
daya saing. Secara singkat, penjelasannya sebagai berikut. Ukuran
pasar yang semakin besar menunjukkan jumlah konsumen yang semakin
banyak juga. Hal ini tentu ini akan semakin menarik minat perusahaan
untuk masuk ke pasar tersebut. Kemudian, walaupun ukurannya saat ini
kecil, namun kalau pertumbuhan pasarnya terus meningkat, berarti
prospek pasar tersebut di masa depan juga cukup cerah.

Perusahaan juga harus melihat situasi persaingan, apakah pemain di
pasar tersebut masih sedikit atau sudah terlalu banyak. Kalau sudah
terlalu banyak, tentu pasar tersebut jadi kurang menarik karena
berarti perusahaan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk masuk ke
situ. Nah, kriteria yang terakhir yang sebenarnya paling penting,
yaitu keunggulan daya saing. Ketiga kriteria sebelumnya bisa saja
diabaikan kalau Anda benar-benar punya daya saing yang kuat.

Jadi, bisa saja target market Anda saat ini ukurannya masih kecil dan
pertumbuhannya juga tidak terlalu pesat. Namun, karena Anda
benar-benar punya produk yang unggul, Anda yakin bahwa produk Anda
akan diterima oleh pelanggan dan membuat pasar itu semakin membesar.
Anda juga tidak perlu khawatir dengan para pemain lainnya karena Anda
yakin bahwa mereka tidak dapat meniru keunggulan produk Anda itu.

Itulah penjelasan singkat tentang targeting dalam legacy marketing.
Namun, dalam era new wave marketing saat ini, yang harus dilakukan
bukanlah melakukan targeting, tapi confirming. Confirming ini sejalan
dengan langkah awal dalam Strategi yang sudah kita lakukan sebelumnya,
yaitu communitization. Setelah kita bisa mengidentifikasi sejumlah
komunitas, kita akan meng-confirm ke komunitas mana kita akan
bergabung (join). Dengan melakukan konfirmasi, berarti kita berupaya
menguji kebenaran dari sesuatu. Kita berupaya menghilangkan semua
keraguan yang ada dengan mencari fakta-fakta yang kuat.

Konfirmasi ini kita lakukan untuk menemukan apa yang disebut sebagai
"sweet spot." Jadi, kita harus menemukan komunitas yang mampu
memberikan manfaat kepada kita secara optimum. Sama seperti pada
segmentasi vs communitization, pada confirming ini prosesnya juga
berlangsung secara sejajar, bersifat horisontal. Beda dengan targeting
yang lebih bersifat top-down alias vertikal.

Maksudnya, targeting dilakukan oleh perusahaan. Jadi, suka-tidak suka,
setuju-tidak setuju, seseorang bisa menjadi target market sebuah
perusahaan. Hal ini memang karena sedari awal, sejak proses
segmentasi, orang tersebut tidak pernah menjadi subyek, hanya obyek
semata.

Sementara itu, dalam confirming, kalau ada yang mau bergabung dengan
suatu komunitas, entah itu individu atau perusahaan, komunitas
tersebut punya dua pilihan, apakah mau meng-confirm atau
meng-ignore-nya. Orang atau perusahaan ini tidak bisa berbuat apa-apa
kalau di-ignore oleh komunitas tersebut. Sebaliknya, kalau kita
tergabung dalam suatu komunitas, kita juga bisa meng-confirm atau
meng-ignore orang-orang yang mau bergabung dengan kita.

Ini menunjukkan bahwa sebuah komunitas tersebut sama powerful-nya
dengan sebuah perusahaan. Semua pihak berdiri sejajar. Seth Godin
dalam bukunya Permission Marketing sebenarnya sudah membahas secara
prinsip pentingnya menempatkan pelanggan sebagai subyek, bukan lagi
obyek. Bedanya, dalam Permission Marketing pelanggan masih dianggap
sebagai individu, sementara pelanggan dalam Confirming adalah suatu
komunitas. Juga, ketika Godin menulis Permission Marketing tersebut
belum lahir Web 2.0 yang berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan
dan peranan komunitas online.

Jadi, perlakukanlah pelanggan Anda sebagai subyek, sebagai manusia
yang sama dengan Anda. Dalam era new wave marketing saat ini, bukan
lagi masanya targeting yang bersifat vertikal. Marketer harus bisa
melakukan confirming yang sifatnya horizontal.

Kirim email ke