Oleh Hermawan Kartajaya
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/23/0720280/itaposs.not.segmentation.anymore.itaposs.communitization



DALAM Legacy Marketing, langkah pertama untuk menyusun strategi
marketing adalah dengan melakukan segmentasi. Segmentasi ini bisa
dilakukan berdasarkan sejumlah variabel, yang umum digunakan adalah
variabel geografis, demografis, psikografis, dan perilaku (behavioral).

Secara geografis misalnya, bisa dibuat segmen pasar perkotaan dan
pedesaan. Kemudian secara demografis, bisa dibuat segmen pelanggan
berusia di bawah 20 tahun dan di atas 20 tahun. Secara psikografis,
ada segmen yang suka produk-produk bermerek walaupun mahal, ada juga
segmen yang lebih suka produk-produk yang harganya terjangkau.
Kemudian, secara perilaku (behavioral), ada pelanggan yang membeli
produk secara rutin, ada yang sesekali saja tergantung kebutuhan.

Itulah sedikit bahasan tentang segmentasi yang mungkin sudah sangat
Anda pahami. Namun, dalam era New Wave Marketing saat ini, yang harus
dilakukan bukanlah melakukan segmentasi, tapi Communitization. Ya, New
Wave Marketer harus bisa membentuk suatu komunitas atau memanfaatkan
komunitas yang ada.

Definisi komunitas sendiri ada macam-macam. Namun, bagi saya, definisi
yang paling tepat adalah definisi yang terdapat dalam buku The
Cluetrain Manifesto. Di dalam buku ini, komunitas didefinisikan
sebagai sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari
yang seharusnya.

Jadi, dalam komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para
anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau
values. Beda dengan segmentasi yang anggota segmennya bisa tidak
peduli satu sama lain. Inilah salah satu perbedaan yang jelas antara
segmentasi dengan Communitization. Kemudian, dalam segmentasi,
pembentukannya dilakukan oleh perusahaan sehingga sifatnya vertikal.
Prosesnya berlangsung dari atas ke bawah. Pelanggan dan calon
pelanggan dianggap berada di bawah produsen.

Sementara dalam Communitization, pembentukannya dilakukan oleh orang
per orang yang setara sehingga bersifat horisontal. Juga, kalau dalam
Segmentasi yang terjadi adalah high-budget high-impact marketing, maka
dalam Communitization yang terjadi adalah low-budget high-impact
marketing.

Mengapa demikian? Ya karena sifat segmentasi yang inisiatifnya dari
perusahaan. Untuk melakukan segmentasi biasanya sebuah perusahaan
harus melakukan riset pasar terlebih dahulu atau membeli laporan riset
pasar yang harganya mahal. Segmentasi ini juga tidak ada yang
"merawat", karena memang antar anggota segmen tersebut bisa tidak
kenal satu sama lain, dan kita juga tidak peduli akan hal ini.
Sementara dalam Communitization, perusahaan tidak harus melakukan
riset pasar. Cukup mengidentifikasi komunitas yang sudah ada. Kalau
ternyata tidak menemukan komunitas yang dianggap cocok, maka barulah
perusahaan tersebut mempelopori berdirinya suatu komunitas.

Setelah komunitas ini terbentuk, perusahaan tersebut sebenarnya sudah
bisa "lepas tangan", karena komunitas tersebut akan "dirawat" sendiri
oleh para anggota komunitasnya. Maka, kalau komunitas sudah terbentuk,
praktis perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun.

Komunitas ini bisa berbentuk komunitas online, komunitas offline, atau
hibrida dari keduanya, seperti yang sudah saya jelaskan juga dalam
tulisan saya yang berjudul "A Tale of Three Communities:
Harley-Davidson, Facebook and HTML". Dalam komunitas online, karena
memang berbasis Internet, orang-orang yang ada di komunitas tersebut
bisa lintas demografis, lintas geografis, lintas agama, dan
seterusnya. Yang penting, sekali lagi, adalah adanya kesamaan interest
di antara para anggota komunitas tersebut.

Contohnya di Facebook. Kalau Anda punya account di Facebook, pasti
Anda sering mendapat undangan (invitation) untuk bergabung (join)
dengan suatu komunitas (group). Kalau komunitas itu kita anggap sesuai
dengan interest kita, pastilah kita akan langsung bergabung, walaupun
kita mungkin belum mengenal orang yang mengundang kita. Setelah
bergabung, barulah kita bisa saling mengenal anggota komunitas
tersebut dan bisa cepat akrab karena memang punya interest yang sama.

Jangan salah, yang namanya komunitas ini sebenarnya bukan barang baru.
Sudah sejak dulu kita berkomunitas secara offline. Kalau Anda
bapak-bapak, mungkin sering bermain kartu sambil ngobrol-ngobrol
dengan tetangga Anda di pos ronda pada malam hari. Ini komunitas.
Kalau Anda ibu-ibu, pastilah Anda sering mengikuti arisan atau
pengajian. Ini juga komunitas.

Jadi, dalam era New Wave Marketing saat ini, bukan lagi masanya
segmentasi yang bersifat vertikal. Marketer harus bisa melakukan
Communitization yang sifatnya horisontal.

Kirim email ke