Den Haag, Kompas - Indonesia kehilangan tenaga terdidik dan
profesional karena setiap tahun jumlah emigrasi tenaga terdidik dan
profesional ke luar negeri terus meningkat. Untuk membangun dan
meningkatkan daya saing Indonesia di dunia, diperlukan strategi untuk
membangun jaringan ilmuwan dan tenaga profesional yang saat ini
tersebar di negara lain. Hal ini telah dilakukan negara lain, seperti
Singapura, India, China, dan Irlandia.

Pemikiran itu diungkapkan gabungan mahasiswa: Riza, Ahmad, Yulfian,
dan Rifki dari International Islamic University; Dedy H BW dari Delft
University of Technology; Oki Muraza dari Eindhoven University of
Technology; dan Syarif Junaidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia,
dalam panel khusus Konferensi Pemuda dan Pelajar Indonesia (PII) di
Den Haag, Belanda (26/10).

Dalam pemaparannya, mereka menyebutkan, perpindahan tenaga terdidik
Indonesia ke luar negeri, baik untuk tujuan pendidikan, penelitian,
maupun profesional terus bertambah dengan kenaikan rata-rata per tahun
hingga 5 persen. Mereka memilih bekerja di negara lain karena tidak
menemukan peluang untuk bekerja sesuai dengan harapan mereka di negeri
sendiri.

Banyak alasan yang menyebabkan tenaga terdidik dan profesional
Indonesia pindah ke negara lain, terutama ke Malaysia, Singapura,
Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, dan Jepang. Biasanya karena
lingkungan kerja dan infrastruktur di Indonesia yang tidak kondusif,
kurangnya kolaborasi antara universitas dan industri, kurangnya dana
penelitian, hingga sedikitnya pendapatan di dalam negeri.

Achmad Aditya (29), mahasiswa program doktor dari Universitas Leiden,
misalnya, mengaku gamang untuk pulang ke Indonesia karena meragukan
ilmunya akan terserap di dalam negeri.

Menurut para panelis, saat ini negara lain berupaya menarik
tenaga-tenaga terdidik dan profesional dari berbagai negara. Irlandia,
misalnya, melaksanakan program nyata untuk menarik tenaga terlatih dan
profesional masuk ke negara mereka dengan membentuk Science Foundation
Ireland (SFI) dan Singapura membentuk Singapore's Agency for Science
and Technology Research (A STAR's).

Kedua lembaga ini memiliki otoritas tinggi dan jaringan kuat dengan
dewan ekonomi nasional dan kegiatan investasi, komitmen yang kuat dari
pemimpin negara, dan punya mekanisme pendanaan untuk mempromosikan
kolaborasi penelitian internasional.

India dan China memiliki jaringan tenaga terdidik dan profesional di
luar negeri.

Para panelis mengusulkan dibentuknya jaringan internasional ilmuwan
dan profesional Indonesia, mendirikan organisasi brain circulation
berdasarkan prioritas atau bidang, mengembangkan lingkungan penelitian
yang kondusif di Indonesia terutama untuk mempermudah kolaborasi
antara dunia akademik dan industri. (AIK)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/27/01211670/indonesia.kehilangan.tenaga.terdidik

Kirim email ke