Kabar mengenai kehidupan TKI/TKW di luar negeri banyak ditulis di
berbagai surat kabar, termasuk online diskusi dengan maraknya. Isi
tulisan rata rata mengecam ketidakbecusan pemerintah mengelola
situasi, tidak mampu memberi kesempatan kerja kepada rakyatnya, maka
terpaksa bertualang ke negeri orang bekerja sebagai kuli kasar dan
pembantu rumah tangga. Dalam diskusi, perhatian ditumpuhkan pada
buruknya pelayanan yang dihadapi oleh para pekerja pembantu rumah
tangga, ada yang dibantai, diperkosa bahkan dibunuh. Apa yang
dikabarkan itu semuanya benar terjadi, dan seperti juga cerita drama
tragis, lekas mengait rasa haru, rasa ketidakadilan pembaca. Rasa
marah mudah membakar emosi, mengobar rasa kasihan kepada para korban.
 
Jarang yang melihatnya dari sisi lain. Hubungan buruk antara majikan
dan pekerja selamanya tidak mungkin tidak ada, baik di dalam mau pun
di luar negeri. Bedanya, kalau sampai terjadi di Singapura, majikan
diseret ke pengadilan diberi hukuman yang sebanding dengan tindakan
kejahatan yang dilakukan, tidak pandang bulu apakah majikan tersebut
termasuk orang berstatus tinggi atau rendah, kaya atau miskin.
Masyarakat umumnya mencaci maki perbuatan majikan yang dianggap tidak
berperikemanusiaan.
 
Dalam kehidupan sehari hari warga Singapura gemar sekali keluar makan
beramai sekeluarga, biasanya bersama tiga generasi; oma/opa, ayah/ibu
dan anak. Dalam scenario family outing, pembantu rumah tangga selalu
turut serta, duduk bersama satu meja di restoran, dan ada satu dua
hidangan halal spesial diperuntukan bagi yang bersangkutan. Coba
tanyakan pada diri sendiri sejujurnya, apa gejala ini sering terjadi
di tanahair, lebih tepat lagi, apa pernah terjadi?
 
Kalau ditoleh kebelakang, sejarah Asia Tenggara penuh dengan catatan
migrant workers, terutama dari China dan India yang datang berbondong
bondong ke Semenanjung Malaya dan nusantara. Di Pulau Bangka misalnya,
Chinese workers yang disebut mai cu cai  menjual kebebasan diri untuk
bayar ogkos perjalanan, mereka dipekerjakan di lombong timah dan
perkebunan sahang yang banyak terdapat di daerah Mentok, Jebus dll.
Nasib mereka berada dibawah alas sepatu bot kepala parit yang tugasnya
mengawasi pekerjaan dan gerak gerik para kuli. Kalau terdapat sesuatu
yang tidak diinginkan; mencuri makanan karena lapar, tertidur di bawah
pohon karena terlalu penat bekerja, atau lebih parah lagi berusaha
melarikan diri dari tempat kerja, mereka ditangkap, diikat pada batang
pohon kelapa dan disabet punggungnya yang tidak berbaju berkali kali
hingga kulit badan merekah bercucuran darah. Sementara mereka yang
dianggap bermasalah ingin berontak, digiring ke dalam hutan semak,
dibantai kepalanya dengan senapang hingga pecah. Bangkainya ditimbun
dengan dedaunan kering terdapat dilantai hutan, akhirnya menjadi
makanan binatang liar. Banyak saksi mata pada hari ini yang dapat
membuktikan terjadinya kekejaman pada masa itu. Sejarah dunia penuh
dengan kekejaman. Dimana ada manusia, di situ ada kekejaman.
 
Kembali kepada pembantu rumah tangga di Singapura, yang terbesar
jumlahnya adalah orang Filipina. Di sini terdapat perbedaan attitude.
Lain dari pembantu rumah tangga dari Indonesia yang selalu dipandang
sebagai kumpulan yang perlu dikasihani, pekerja Filipina tidak merasa
bahwa dirinya perlu dikasihani, tidak juga merasa kasihan diri. Dalam
sehari hari mereka nampak bergairah dalam menjalankan tugas, bahkan
terkesan profesionil dan bangga dengan tugasnya, sama sekali tidak ada
bayangan rendah diri. Banyak dari mereka yang mengirim uang ke kampung
halaman secara teratur. Kantor pengiriman uang Western Union di gedung
Lucky Plaza selalu penuh dengan Filipino maid yang berpakaian trendy
dengan gaya percaya diri, duduk menunggu bagian masing masing
men-tranfer uang ke bank account di negerinya. Uang itu untuk
mengongkosi adik adiknya masuk universitas, ada yang lulus jadi guru
sekolah, engineer, lawyer, dokter. Ada lagi yang mengongkosi
orangtuanya membeli tanah dan rumah. Banyak diantara mereka rumahnya
di Filipina jauh lebih besar dari pada rumah majikannya di Singapura
yang umumnya berupa apartment berukuran kecil.
 
Mungkin apa yang diperlukan bagi TKI, bukannya dikasihani, tapi diberi
pendidikan dan pengetahuan yang memandang hidup sebagai suatu
tantangan dan kesempatan. Bagaimana pun, mereka sudah mendapat
pekerjaan di luar negeri, dapat melihat dan mengalami kehidupan yang
berlainan dari lingkaran kampung halaman yang sempit. Pergunakanlah
kesempatan yang ada, mengambil pelajaran dari kehidupan dan pekerjaan.
Perasaan kasihan diri berupa rantai yang kita belenggukan pada diri
kita sendiri. Buang rantai itu.
 
MAY SWAN
 

Kirim email ke