Oleh Ester L Napitupulu
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/27/01222831/buka.diri.ke.dunia.internasional



Daya tarik perguruan tinggi di Kanada tampaknya belum banyak diketahui
masyarakat Indonesia. Padahal, Kanada memiliki perguruan tinggi
berkualitas dunia dan memberi peluang kerja yang luas buat mahasiswa
internasional guna memperkaya pengalaman belajar dan kerja.

Guna meningkatkan daya tarik pelajar internasional, Kementerian
Kewarganegaraan dan Imigrasi Kanada pada April 2008 mengeluarkan
peraturan baru soal izin kerja. Mahasiswa bisa memperoleh izin
pascalulus kuliah selama tiga tahun, tanpa dibatasi bidang kerja tertentu.

Keinginan Kanada yang berpenduduk sekitar 33 juta jiwa, untuk
menjaring lebih banyak mahasiswa internasional, ini dibuktikan dengan
tawaran institusi pendidikan yang bermutu. Pada 2008, tercatat lima
universitas di Kanada masuk dalam jajaran 100 universitas top dunia
versi Times Higher-QS World University Ranking, disusul tujuh
universitas lagi masuk dalam jajaran 200 top dunia.

Pada 2007 tercatat 63.673 pelajar internasional datang ke Kanada atau
naik sekitar 4,6 persen dari tahun lalu. Mereka, antara lain, berasal
dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa. Mahasiswa Indonesia
berjumlah sekitar 400 orang. Para pelajar ini berkuliah di kota-kota
utama, seperti Montreal, Vancouver, Toronto, Ottawa, hingga kota-kota
kecil lainnya.

Program mahasiswa internasional yang ditawarkan banyak perguruan
tinggi di Kanada ini bukan hanya menarik mahasiswa asing dari berbagai
negara. Mahasiswa Kanada juga didorong untuk memiliki pengalaman
internasional dengan mengikuti kuliah atau proyek di negara-negara
lain yang menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan mereka
selama satu hingga dua semester.

"Menarik sekali menyaksikan mahasiswa dari beragam negara bisa belajar
bersama. Suasana ini memperkaya pengalaman mahasiswa, dosen, dan
masyarakat di sini," kata Kathleen Scherf, President and Vice
Chancellor Universitas Thomson Rivers, di Kota Kamploops, Provinsi
British Columbia.

Dari kunjungan Kompas yang diundang Kedutaan Besar Kanada dan Canadian
Education Center (CEC) Indonesia ke sejumlah perguruan tinggi di
bagian barat Kanada, semisal Universitas Thomspon Rivers, Universitas
British Columbia, Emilly Carr University of Art + Design, Universitas
Victoria, Langara College, dan Columbia College di Provinsi British
Columbia; serta Universitas Alberta, Universitas Calgary, dan Southern
Alberta Institute of Technology di Provinsi Alberta, masing-masing
perguruan tinggi memiliki divisi khusus yang melayani program
internasional bagi mahasiswa di luar Kanada.

Di tempat inilah proses pendaftaran, konsultasi pribadi, dan akademik
hingga program-program pembauran dan peningkatan prestasi pribadi
setiap mahasiswa asing difokuskan.

Masa belajar mahasiswa tidak sekadar difokuskan untuk mengejar
prestasi akademik. Beragam kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan dan
penelitian, seni budaya, olahraga, dan kesukarelawanan ditawarkan
untuk lebih memperkaya pengalaman hidup mahasiswa selama menyelesaikan
studi.

Perguruan tinggi juga mengembangkan kerja sama yang luas dengan
institusi dan perguruan tinggi di berbagai negara. Kerja sama ini bisa
dalam bentuk proyek kemanusiaan, penelitian, dan pertukaran pelajar.
Sayangnya, kerja sama perguruan tinggi Kanada-Indonesia masih terbatas.

Dukungan pemerintah

Meskipun perguruan tinggi publik ternama di Kanada mampu mengembangkan
diri untuk bisa go international, pendanaan dari pemerintah tetap
kuat. Banyaknya mahasiswa internasional yang jumlahnya bisa mencapai
10-20 persen dari total mahasiswa dengan biaya kuliah 2-4 kali lipat
dari mahasiswa lokal, bukan berarti dana dari pemerintah setempat minim.

Fasilitas pendidikan di perguruan tinggi Kanada amat lengkap dan
modern. Penelitian para dosen juga berkembang pesat.

Britta Baron, Vice Provost and Associate Vice President Universitas
Alberta, mengatakan, dukungan dana dari Pemerintah Provinsi Alberta
bisa mencapai 70 persen. Dana ini dipakai untuk mengembangkan sarana
dan prasarana serta mutu pendidikan di kampus tersebut.

Peringkat 74 universitas top dunia itu berkembang dan diminati
mahasiswa asing. Dana penelitian dari berbagai lembaga mengalir dan
menjadikan universitas ini unggul dalam penelitian nano-teknologi,
pertanian, dan kesehatan.

Universitas British Columbia yang masuk jajaran 34 top dunia mendapat
subsidi dari pemerintah sekitar 50 persen.

Gardiner Wilson, Direktur Kebijakan Publik dan Penelitian CEC Network,
menjelaskan, tidak ada sistem pendidikan nasional di Kanada.

Untuk pendidikan dasar dan tinggi, mulai dari kurikulum dan
pendanaannya merupakan tanggung jawab setiap pemerintah provinsi.
Rupanya tanpa embel- embel kata "nasional" pun negara telah
bertanggung jawab penuh....


Kirim email ke