Oleh Anies Baswedan
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/27/00293465/bentangkan.optimisme.bangsa



Para pemuda yang berkumpul di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 memiliki
kesadaran bersama tentang masa depan. Mereka menyadari transformasi
masyarakat tradisional menuju masyarakat modern mulai terjadi di
Nusantara.

Pendidikan sebagai kendaraan menuju kemajuan mulai menyebar di bangsa
ini. Para pemuda sadar, mereka masih tersekat kebhinekaan. Tantangan
mereka adalah meruntuhkan sekat-sekat pembeda. Kebhinekaan disatukan
dalam basis yang lebih luas, basis kebangsaan.

Ada kesadaran baru, suku-suku bangsa di Nusantara ini akan meraih masa
depan gemilang jika bisa mereka menemukan rumus sederhana untuk semua.
Persatuan dan kebersamaan adalah rumusan itu. Keputusan untuk
menggunakan bahasa bersama, yaitu bahasa Indonesia, adalah keputusan
jenius. Hingga hari ini, banyak urusan bangsa menjadi sederhana karena
bahasa yang diterima seluruh rakyat.

Dunia internasional sering terpukau menyaksikan pluralitas bangsa
penghuni sekitar 5.000 pulau yang merentang sepanjang khatulistiwa,
yang memiliki 250 lebih bahasa dan dialek, terdiri 1.000 lebih etnis
dan subetnis. Sebuah bangsa yang hiperplural, tetapi bisa hidup
berdampingan secara—relatif—damai.

Polarisasi, friksi, bahkan konflik antara berbagai komponen bangsa
memang tidak absen. Konflik sering terjadi. Meski demikian,
seburuk-buruknya konflik di Indonesia, pada saat harus duduk semeja
berdialog dan merundingkan kepentingannya, mereka berkomunikasi tanpa
penerjemah, duduk menyelesaikan konflik dengan menggunakan bahasa
bersama, bahasa Indonesia. Sebuah bukti kesadaran sebangsa yang luar
biasa, sebuah bukti kejeniusan para pemuda di tahun 1928.

Di berbagai belahan dunia lain situasi ini absen. Bahkan, di
negara-negara maju dan modern yang mengalami proses federalisasi atau
unifikasi salah satu problem utama yang sulit diselesaikan adalah
kesepakatan rakyat (bukan kesepakatan formal negara) atas sebuah
bahasa bersama.

Kesadaran perlunya instrumen pemersatu kebhinekaan adalah fondasi
terwujudnya satu negara. Kemampuan membaca perubahan zaman itu
diterjemahkan dengan besarnya optimisme anak-anak muda tentang masa
depan bangsanya. Diperlukan 17 tahun, sejak deklarasi sebangsa 28
Oktober 1928 hingga deklarasi Republik Indonesia. Selama 17 tahun itu,
usaha meraih kemerdekaan dipertahankan dengan optimisme kolektif.
Optimisme bahwa kemerdekaan akan tercapai dan menjadi jembatan emas
menuju Indonesia yang adil dan makmur.

Optimisme bangsa

Saat meraih kemerdekaan, mereka dihadapkan kenyataan menyesakkan,
kemelaratan merata dan keterbelakangan. Negara tidak punya anggaran.
Infrastruktur ekonomi runyam. Melihat potret bangsa dan negara yang
parah itu, persyaratan untuk pesimistis menjadi lengkap dan sah.
Namun, anak-anak muda dan pendiri republik justru optimistis, bangsa
ini bisa meraih janji kemerdekaannya, menjadi bangsa yang cerdas dan
sejahtera. Optimisme itu digelorakan dan dibentangkan sehingga menular
menjadi optimisme kolektif bangsa. Rakyat seluruh negeri—meski melarat
dan tak terdidik—ikut optimistis atas masa depan, sebagaimana
optimisme para pemimpinnya.

Kini, 80 tahun setelah deklarasi Sumpah Pemuda, ada keprihatinan atas
melorotnya optimisme kolektif bangsa. Belakangan ini diskusi tentang
Indonesia sering diwarnai perasaan suram. Dalam berbagai forum, di
hotel berbintang hingga obrolan di warung kopi, diwarnai keluh kesah.
Gelembung semangat yang dulu dikagumi di Asia bahkan dunia, kini
seolah kempes. Bangsa ini sedang dilibas pesimisme kolektif. Bahasa
bersama adalah bahasa pesimistis. Kondisi ini benar-benar tidak sehat.

Kini, meski persyaratan untuk optimistis tersedia, tetapi bangsa ini
justru tenggelam dalam pesimisme. Pesimisme kolektif itu muncul dan
subur, antara lain disebabkan krisis ekonomi, krisis politik dan
transisi politik berkepanjangan. Ditambah minimnya teladan pemimpin
membuat bangsa ini serasa disoriented. Sebagian media—sadar atau
tidak—menjadi mesin pengganda opini yang menciutkan optimisme. Berita
televisi menghujani masalah, masalah, dan masalah ke seluruh negeri.
Padahal, berita televisi itu powerful dalam memengaruhi pikiran,
perasaan, dan perilaku kolektif. Sadar atau tidak, bangsa ini merusak
diri sendiri, ada semacam self-defeating mechanism. Bahkan,
self-fulfilling profecy, kegagalan terjadi karena secara kolektif kita
memprediksi akan gagal.

Situasi pesimistis juga muncul karena kegagalan membedakan sikap
kritis dengan sikap pesimistis, juga gagal membedakan sikap optimistis
dengan mendukung pemerintahan. Ada kesan jika optimistis, berarti
mendukung pemerintah. Sebaliknya, jika pesimistis berarti kritis
kepada pemerintah. Menyamakan sikap pesimistis dengan kritis adalah
kekeliruan fatal.

Harus berubah

Dalam kondisi demikian, bangsa Indonesia harus berubah, harus bisa
kritis tetapi tetap optimistis. Bangsa ini perlu fokus pada inspirasi
tentang kemajuan, bukan ilustrasi kegagalan dan kekacauan. Bangsa
Indonesia perlu memiliki perasaan kolektif positif untuk maju dan
berkembang. Di sinilah pentingnya pemuda dan pemimpin bangsa sadar
pentingnya optimisme. Pesimisme dikubur, munculkan optimisme.

Anak-anak muda dan pemimpin di berbagai sektor dan segala strata harus
menjadi motor tumbuhnya optimisme. Sudut pandang dalam setiap realita
yang dihadapi harus diubah. Realitas bangsa dipandang dengan kacamata
optimisme. Hadapi tantangan sebagai peluang untuk kemajuan, bukan
masalah untuk keluh kesah dan mencari kambing hitam. Media pun perlu
menggadakannya agar menjadi optimisme kolektif.

Janji kemerdekaan telah lunas dibayar pada sebagian bangsa Indonesia.
Tetapi itu bukan berarti keluh kesah bagi yang belum menerima janji
kemerdekaan seperti kesejahteraan, keadilan, dan kecerdasan. Kini
saatnya Bangsa Indonesia bekerja lebih keras untuk melunasi janji
kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sumpah Pemuda 1928 membalikkan semangat kesukuan menjadi kebersamaan
sebuah bangsa. Delapan puluh tahun kemudian, bangsa ini harus
membalikkan pesimisme menjadi optimisme. Masa depan gemilang seperti
janji kemerdekaan hanya bisa diraih melalui optimisme kolektif. Kini
saatnya membentangkan kembali optimisme kolektif bangsa ini.

Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina


Kirim email ke