PRESS
RELEASE
INDUSTRI
KELAPA SAWIT TIDAK AKAN PERNAH BERKELANJUTAN
Jakarta,
21 November 2008. Tanggal
18-20 Nopember 2008 lalu, industri sawit bertemu sekali lagi di Bali-
Indonesia, untuk melanjutkan perencanaan strategi ekspansi perkebunan
kelapa sawit skala besar. Dalam pertemuan tersebut WALHI menuntut
dihentikannya secara
total penebangan hutan dan konversihutan
menjadi perkebunan kelapa sawit, pembatalan
hubungan perdagangan antara perusahaan-perusahaan yang membeli minyak
sawit dan penyedia-penyedia yang merusak kehidupan adat masyarakat
serta melanggar HAM, kemudian penghentian
kekerasan dan perampasan sumber-sumber kehidupan warga masyarakat,
serta penyelesaian konflik-konflik antara warga dengan perusahaan.
UN
Intergovernmental Panel on Forests menemukan bahwa penyebab dari
penebangan dan degradasi hutan adalah kebijakan-kebijakan pemerintah
yang menggantikan hutan dengan perkebunan industri, seperti minyak
sawit. Minyak sawit sendiri diproduksi di daerah tropis untuk
keperluan ekspor ke pasar global (terutama EU,
Cina, India dan Amerika Serikat) dan diproduksi secara monokultur
(tanaman satu jenis)
berskala besar.
Dampak
buruk dari perkebunan monokultur kelapa sawit telah dirasakan jelas
di Indonesia, Malaysia, Papua-New Guinea, Kamerun, Uganda, Côte
d’Ivoire (Pantai Gading), Kamboja dan Thailand dan juga di
Kolombia, Equador, Peru, Brasil, Guatemala, Mexico, Nicaragua serta
Kosta Rica.
Perkebunan
minyak sawit telah mengakibatkan hilangnya hutan-hutan primer unik
yang sesungguhnya merupakan bagian dari tanah leluhur dan masyarakat.
Ini mengakibatkan habisnya sumber air, makanan, obat, spiritualitas
dan budaya. Padahal penebangan hutan di dunia merupakan sumber
terbesar kedua yang berperan dalam meningkatnya level karbon dioksida
di atmosfer..
Forum
Permanen PBB yang menangani isu masyarakat adat (UN Permanent Forum
on Indigenous People) menyatakan bahwa sekitar 60 juta orang adat di
seluruh dunia terancam kehilangan tanah dan sumber kehidupannya
akibat perluasan perkebunan untuk produksi agro-energi. Di antara
jumlah ini, 5 juta orang tinggal di Borneo (Indonesia). Namun,
rencana pertanian dan perhutanan Pemerintah adalah untuk membangun
jutaan hektar perkebunan kelapa sawit
"WALHI menolak
RSPO karena prinsip,
asas dan kriteria yang dibuat oleh RSPO adalah hanya untuk
kepentingan ‘berkelanjutan’ perkebunan kelapa sawit skala
raksasa, bukan untuk perkebunan rakyat.", kata Berry Nahdian Forqan, Direktur
Eksekutif Nasional WALHI. RSPO dirancang untuk
mengesahkan perluasan industri minyak sawit secara terus menerus dan
berkelanjutan, sementara model apapun yang mencakup pengubahan
bentang alam menjadi perkebunan monokultur skala besar tidak akan
pernah bisa diartikan berkelanjutan.
RSPO
didominasi oleh industri dan tidak sungguh-sungguh berkonsultasi
dengan masyarakat yang terkena dampak dan yang akan menerima dampak
negatif paling parah. Skema RSPO memungkinkan perusahaan-perusahaan
untuk mengesahkan perkebunan secara parsial/individual, sehingga
dapat menghindari penilaian terhadap keseluruhan produksi yang
dihasilkan dari keseluruhan perkebunan mereka. RSPO sekali lagi
adalah usaha untuk menyamarkan dan memungkiri situasi/keadaan yang
sesungguhnya, sebuah usaha “green-wash” untuk membuat model
produksi yang pada hakekatnya bersifat merusak dan secara sosial dan
lingkungan tidak berkelanjutan tampak seolah-olah “bertanggungjawab”.
Semakin
drastisnya perubahan iklim, ancaman terhadap eksistensi masyarakat
adat, perampasan dan konfik tanah, serta pelanggaran hak asazi
manusia antara lain hak atas kedaulatan pangan, kemudian meningkatnya
penggunaan bahan-bahan kimia dalam skala besar adalah dampak-dampak
yang dibawa oleh perkebunan mokultur kelapa sawit secara
besar-besaran. Dan yang paling diuntungkan tentunya
perusahaan-perusahaan itu sendiri bukan masyarakat.
Contact
Person:
Mukri
Friatna (Manager Region Sumatra, WALHI EKNAS) - 0813 69721800
Devi R. Ayu
Media Relation
(WALHI - Friends of The Earth Indonesia)
Jl. Tegal Parang Utara no.14 Jakarta 12790
Phone : +62 21 794 1672, 7919 3363
Fax : +62 21 794 1673
Mobile Phone: +62 8156 100 353
Email : [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, namun kemampuan untuk menghadapi
rasa takut dan berkata 'aku mensyukuri apa yang aku rasakan saat ini'. Dan
apapun yang dirasakan saat ini, aku akan terus maju ke depan!"
- Philip Baker -
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
[Non-text portions of this message have been removed]