Sebagai DOKTER HEWAN, kenapa Anda atau korps Anda tidak mendorong (bahkan mengupayakan) agar Indonesia memiliki lab canggih seperti yang Anda maksud itu. Bukankah ancaman PMK itu bisa datang dari mana saja termasuk Australia. Apalagi faktanya Australia juga mengimpor daging dari Brazil untuk menutupi kekurangan produksinya. Sangat mungkin daging asal Brazil yang di impor Australia karena memang sapi Brazil jauh lebih dari Australia sendiri, dan akhirnya di re-ekspor ke Indonesia. Bukankah lebih baik, jika para dokter hewan, selain menerapkan prosedur teknis yang ketat, juga memiliki kepekaan sosial untuk mendorong agar harga daging kompetitif dan terjangkau rakyat banyak?
Salam, SL ----- Original Message ----- From: [email protected] <[email protected]> To: [email protected] <[email protected]> Sent: Fri Nov 21 14:10:05 2008 Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: isk assesment dan impor daging Brazil KAMI DOKTER HEWAN BUKAN PEDAGANG ...! Akan sangat bagus jadinya negara Indonesia kalau kita mempunyai risk assesment yang valid, untuk penyakit apapun, tidak hanya untuk PMK. Pertanyaanya apakah anda mengerti apa itu Risk assesment? jangan berkelit dengan mengatas namakan itu tugas tim analisa Risk Assesment sama seperti jawaban anda pada saat tanggapan pertama keluar. Kalau anda tidak mengerti persyaratan Risk Assesment ya tidak ada gunanya memulai perdebatan. Imported Risk Assessment HANYA BISA DILAKUKAN JIKA NEGARA PENGIMPOR MEMILIKI KEMEMPUAN UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT MELALUI ALAT UJI YANG VALID DAN STANDARD. Pertanyaan berikutnya : Apakah Indonesia memiliki peralatan uji standard untuk mendeteksi virus PMK dalam daging ? sampai detik ini tidak ada satupun laboratorium di Indonesia yang memiliki kapabilitas ataupun pernah berhasil mendeteksi virus PMK dalam daging YANG HANYA BISA DILAKUKAN DENGAN UJI PCR. Anda mengerti apa itu PCR ? uji Polymerase Chain Reaction untuk mendeteksi keberadaan material genetik virus. Diperlukan waktu cukup lama dan biaya yang cukup banyak untuk menstandardkan uji seperti ini di Indonesia. Laboratorium yang dapat dan diperbolehkan melakukan uji ini berdasarkan Kepmen thn 1983 hanyalah PUSVETMA di Surabaya yang telah terbakar dan tidak berfungsi lagi sejak tahun 2005 silam. Komentar anda yang dengan mudahnya mengatakan " memang berapa sih biaya untuk membuat lab ? ya gampang tinggal buat saja " itu sangat menyinggung perasaan para Dokter Hewan di Indonesia, apalagi mereka yang pernah berperan dalam mengeradikasi PMK di Indonesia. Kami mohon maaf jika kami bersifat kepala batu dalam hal ini. Karena memang sudah menjadi tugas kami para Dokter Hewan untuk mencegah penyakit berbahaya masuk ke Indonesia apapun resikonya, Dan kami telah disumpah untuk melakukan tugas ini. Kami melihat dari sudut pandang pencegahan penyakit dan kami tidak pernah memihak kepada pihak manapun. Tidak hanya anda, jika pak Suhaji pun berniat akan mengimpor daging dari Brazil, atau India, atau Malaysia, atau tempat manapun didunia yang belum bebas PMK kamipun tetap akan menentang. Apalagi jika alasan impor hanya pada kata SELISIH HARGA, mohon maaf, kami tetap akan menentang anda. KAMI DOKTER HEWAN BUKAN PEDAGANG. --- In [email protected] <mailto:Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com> , Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya bisa informasikan bhw ada tim independen yg membuat analis > aresiko impor daging Brazi dan menyimpulkan bhw impor hanya daging ( > bukan sapi hidup bukan jeroan ) resikonya adalah extreme low. Lali > tim menyarankan bbrp hal utk tindakanmitigasi spy jadi > negligible risk , misalnya perlu ada lab. khusus utk PMK dan ada nya > cadangan dana bencana di APBN utk hadapi penyakit ternak. > > Nah menurut saya mestinya para penolak bukan teriak,, kita gak > punya lab jadi larang > > melainkan besama menjajagi agar punya lab tsb agar rakyat untung > dapat daging murah dan status bebas PMK tetap dapat di pertahankan > > Soal adanya dana bencana penjakit diAPBN ya haruslah ada., bukan > bencana alam aja spy kita siap hadapi flu burung anthrax PMK atau apa > salah yg nanti muncul. > > > Lalu ya sudahlah jangan mutar mutar lagi.nghotot lagi bilang.... > kalau... andai andai ada yg lolos dstnya > > > Uni Eropa buat risk assement itu lalu mengakreditasi ratusan rumah > potong yg produknya di perkenankan di ekspor ke UE yg notabene jauh > lebih strict dari kita soalsyaratnya > > Filipina spt sy kutip ya gitu juga. > > lalu ..kenapa kita jadi ajaib ?? > > Sebenatrnya kalau seorang dokter hewan saya nanya begini : > > kalau ada sapi daerah bebas PMK, di periksa sebelum dipotong ( ante > mortem ) dinyatakan dia bebas PMK, lalu di potong , dan diperiksa > lagi daging dan lain lainya juga ternyata bebas PMK > (pemeriksaan post mortem, alias di otopsi lah) , lalu daging ini > dilayukan selama setidahknya 24 jam sampai mencapai ph tertentu > dimana pasti kalaupun ada virus PMK ya akan mati , lalu daging > dilepas drai tulangnya secara hygienis , di bekukan dimasukkan ke > kemasan karton..tanpa ada rekontaminasi .. . > > Amankah daging itu dr PMK ? > > apakah ada kemungkinan virus PMK di daging itu.. Kalau dokter > hewannya waras pasti bilang gak mungkin.gak pakai andai andai . > > Maka bayangkan berapa resikonya kalau daging ini juga sesampainya di > Indonesia gak masuk ke wilayah peternakan tapi masuk ke wilayah > konsumsi manusia yg sebelum makan ya dimasak dulu ( lagi lagi kalau > ada .. ya matilah virus itu) > > Tapi pastinya mrk akan bilang lagi... andai kan ...andaikan ada juga > gimana. ?/ > > > > Nah tolong di cek apakah bisa di trace back setiap barang yg akan > masuk.., kalau bisa ya yakinlah pasti kita bisa cegah agar gak terjadi. > > > Risk assesment akan melihat apakah semua prosedur sudah benar > shg hanya barang yg sehat yg dikirkm dan bisa di cek balik ( trace > back) asal usulnya > > > semuanya sudah o k ya o k lah > > Bukannya andaikan .. andaikan.. > ] > > kan gak ada jaminan sama sekali gak ada resiko > > Lha dimana ada reskio nol ? kita tidur juga ada resiko kejatuhan > pesawat terbang.../ mau larang pesawat terbang liwat ?? > > Saya contohkan gini dee > > > > rumah saya dekat Halim perdana Kusuma .. jadit iap hari diliwtai > pesawat terbang. > > saya mau resiko rumah saya ketiban pesawat terbang adalah nol., > makanya saya minta supaya pesawat terbang jangan liwat atas rumah saya. > > lalu saya di jelaskan.., bahwa kejadian pesawat jatuh sangat kecil.. > kemudian di jelaskan juga kalau jatuh pun lebih kecil lagi > kmeungkinan jatuhnya persis di rumah saya. > > jadi resikonya negligible deee > > sedang biaya mindahi lapangan terbangkan mahal.. , lalu kalau toh > terjadi .. saya pasti dapat ganti ruhi. > > > lalu saya ngotot.. ya tetap aja munkin jatuh di rumah saya .,jiwa > kan gakbisa diganti.. . andai andai terjadi .. lalu bisa aja saya > nasibnya spt korbanlumpr Lapindo yg dijanjikan gant irugi tapi gak > dapat juga gimana ? > > Pokoknya jangan liwat atas rumah saya. > > nyebelin gak saya kala berargumen spt itu ?/ > > > rasa saya se kepala batu itulah para penolak daging Brazil itu.
