pengusaha pendukung pengimpor daging dari Brazil memberi data klasik tentang kekurangan pemenuhan kebutuhan protein hewani dengan tingkat konsumsi begitu rendah dibanding negara lain, lalu memaksakan impor daging merah dari Brazil, tidak cuma dari Australia dan Selandia Baru semata yg benar-benar bebas PMK; seolah-olah bangsa ini begitu dahsyatnya kekurangan daging merah seperti tidak ada alternatif lain. alternatif yang diajukan pengusaha macam itu pun tidak ada sama sekali dan bilang tidak ada selain negara itu, seolah kita harus impor daging merah itu semata untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. protein hewani kita tahu tak cuma dari daging merah, daging putih pun tak kurang-kurang. pengusaha yang ngebet impor daging brazil pun memakai dalih bahwa Dr Drh Denny Lukman yang menjadi tim penilai itu sudah bilang bahwa resiko dari impor daging brazil yg riskan terkena PMK dari negeri yang tidak bebas PMK itu sungguhlah sangat rendah bahkan dengan perlakuan ketat dengan teknologi tinggi resiko itu dapat mencegah kemungkinan masuknya virus PMK. Rupanya pengusaha ngebet ini tidak memakai seluruh penilaian Dr Drh Denny Lukman yang selanjutnya bilang bahwa intinya karena segala sistem yang kita punya tidak memenuhi standar yang diharapkan untuk mengatasi segala resiko itu, maka resiko itu pun menjadi meningkat alias lebih tinggi. Pengusaha yang ngebet macam itu bisa jadi malah menyalahkan dokter hewan dan pemerintah mengapa tidak meningkatkan keamanan resiko itu. Keadaan yang sesungguhnya terjadi adalah ketika kita bebas dari PMK pada tahun dulu itu, sesuai standar OIE semua peralatan untuk pemeriksaan PMK haruslah dimusnahkan, dan negara bebas PMK tidaklah boleh menyimpan sama sekali virus untuk vaksin (padahal untuk vaksin sediaan benih virus harus selalu diperbarui), pemusnahan peralatan deteksi dan untuk penanggulangan virus PMK saat pemberantasan dulu sungguhlah menghabiskan dana begitu besar! dan tidak mungkin kita menyediakan peralatan itu lagi karena prioritas untuk pemeriksaan penyakit itu kini ditujukan buat penyakit lain semacam AI/ flu burung. kalaupun untuk memeriksa setiap daging tanpa jeroan yang sudah mengalami perlakuan agar diyakini bebas dari PMK pun kita mesti ke Thailand tak terhitung biaya dan waktu yang dibutuhkan. belum lagi faktor kesahihan dan kebenaran yang diimpor itu benarkah dari zona bebas Santa Catarina di Brazil yang sejatinya merupakan daerah bebas PMK tanpa vaksinasi yang sangat kecil wilayahnya dan tidak cukup jumlah daging yang disediakan atau diekspor, sangat memungkinkan daging asal Brazil lolos bukan hanya dari daerah itu. Di sisi lain di dalam negeri kita sendiri, sistem otoritas veteriner yang kita punya sejak reformasi malah terkebiri dengan perangkat-perangkat keamanan kesehatan hewan menjadi begitu lemah (contoh kewenangan kesehatan hewan masihlah bukan di dokter hewan sepenuhnya karena aparat dokter hewan tunduk di bawah profesi lain di pemerintahan yang meski secara politik tetap saja dokter hewan berpengaruh pada kebijakan namun secara otoritas veteriner belulah sepenuhnya bisa terkontrol, hanya sejauh memberi masukan dan menekan pemerintah sesuai dengan kekuatan disiplin ilmunya; lalu dinas peternakan yang ada bidang kesehatan hewannya dipreteli dengan begitu banyak berubah wujud menjadi atau disatukan dinas lain yg tak langsung terkait kesehatan hewan), menjadikan kondisi kita untuk jaminan keamanan membentengi masuknya berbagai penyakit yang ikut produk asal ternak seperti daging dari negara tidak bebas PMK bahkan penyakit-penyakit lain. malah hal itu yang membuat kita pun menjadi berpikir ulang untuk terus mengimpor dari luar, kita di sini memikirkan pula penyakit-penyakit enzootik lain. dalam kondisi ini satu-satunya kemanan kita adalah tidak memberi peluang masuknya daging dari negara yang riskan PMK meski ada secara zone base bebas dari PMK.sungguh keamanan ketahanan pangan di sini sangat penting artinya bukan hanya kepentingan sesaat bagi pengusaha-pengusaha yang suka main hit and run yang pukul lalu melarikan diri karena pengusaha macam ini tidaklah bakal sedia bertanggungjawab menanggung akibat bila segala resiko yang sudah diingatkan dan selalu diingatkan betul-betul terjadi yang berarti PMK masuk dan memangsa korban ekonomi yang begitu besar dan memporak perandakan sistem ketahanan pangan kita yang kita bangun dengan memakan dana begitu besar. paling-paling kalau hal ini terjadi pengusaha hanya bisa menyalahkan pemerintah yang telah membuka kran impor negeri tidak bebas dari penyakit macam PMK, padahal kalau pun pemerintah mengimpor itu tentu tak kurang tak lebih juga karena tekanan pengusaha macam ini yang begitu ngebet dengan segala dalih ekonomi yang semu. coba kita tanya saja pengusaha macam ini, bersedia tidak menanggung akibat bila betul-betul terjadi akibat masuknya PMK macam itu! untung pemerintah masih mendengarkan kata-kata dokter hewan yang memberi masukan kepada Mentan dan Presiden yang akhirnya meninjau langsung kondisi negeri yang diincar untuk diimpor daging sapinya itu. ah, santa catarina saja yang zone bebas PMK dan itu pun sangat kecil populasinya... lalu ada rencana kalau impor jadi itupun tidak mudah, mesti ada tukar dengan kelapa sawit, dan dagingnyanya mesti tanpa jeroan dengan perlakuan sangat ketat. setidaknya kita masih bernafas cukup panjang, sambil terus menegakkan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan, jangka panjang, tidak semata mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek; di sisi kesehatan hewan terus menegakkan sistem otoritas veteriner yang betul-betul membela kepentingan secara menyeluruh. bahkan kepentingan ekonomi jangka pendek oleh pengusaha ngebet macam itu pun patut dipertanyakan bila dikatakan harga daging dari negeri jauh di benua belahan bumi lain itu lebih murah, ongkos transpor hingga di tangan konsumen apakah tidak pernah dipikirkan, lalu apakah pengorbanan dan pelecehan terhadap resiko yang sudah selalu diingatkan oleh dokter hewan itu hanya semata-mata karena iri hati terhadap pengusaha yang mampu impor dari australia dan selandia baru, lau dengan dalih-dalih mengimbangi impor ilegal dari negara-negara perbatasan di kalimantan dan bukan malah mendukung pemberantasan impor ilegal namun malah mau memasukkan secara legal dengan dalih-dalih ekonomi dan persaingan bisnisnya yang oleh pembaca di forum ini pun penulis diingatkan jangan mengaburkan permasalahan di luar esensi, sedangkan esensi sesungguhnya di wilayah ketahanan pangan dan keamanan pangan yang sangat terkait erat dengan bidang kesehatan hewan/kedokteran hewan yang berdasar otoritas veteriner berdasar pendidikannya selalu mengingatkan akan bahaya penyakit yang akan berdampak luas pada berbagai lapisan masyarakat termasuk konsumen.(yonathanrahardjo)
2008/11/25 Y. B. Riyanto <[EMAIL PROTECTED]> > Betul Pak Mubarik, > > Gara2 Pak HS jadi terbuka mata saya tentang dunia perdagingan sapi di > negara kita. Dan mengikuti diskusi di FPK ini, saya juga sepakat untuk > berdiri di sisi Pak HS. > > Maju terus Pak, demi kemajuan bangsa kita. > > riyanto > > > Sent from my BlackBerry(R) > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
