Hehehe...Bung Erwin ini sudah pasti tipe warga yang disukai pejabat: asal 
terima saja, tidak ada kritisi apalagi sumbang saran. Dia sudah lupa bahwa 
semestinya pemerintahlah yang harus duluan memberi solusi kemacetan (misalnya 
membenahi permasalahan transportasi publik), bukan sebaliknya malah menyuruh 
warga untuk repot2 duluan.
 
Jangan-jangan justru polemik seperti inilah yang diinginkan para pembuat 
kebijakan itu, supaya masyarakat sibuk berpolemik sendirian, dan dengan 
demikian menjauhkan panggang dari api. 
 
Saya pikir kita tetap harus fokus ke permasalahan utama: kemacetan lalu-lintas 
dan transportasi di Jakarta. Pak Manneke sudah benar ketika mengingatkan bahwa 
tidak ada angka pasti tentang berapa persen anak sekolah yang berangkat 
sendiri, naik mobil/motor sendiri, diantar sopir (bagi anak kaya dan manja), 
atau bareng sama orangtuanya. Ini penting, karena tiba2 saja keluar keputusan 
bahwa anak sekolahlah yang harus berangkat lebih pagi. Keputusan ini tidak 
mempertimbangan satu faktor bahwa banyak anak yang harus nebeng ortunya 
sekalian ketika berangkat kerja. Kalau jumlah yang ini besar (sekali lagi: 
tidak ada angka yg pasti), kemacetan akan tetap terjadi, karena ortu juga 
mungkin akan berangkat lebih pagi karena sekaligus mengantar anak ke sekolah.
 
Saya ingin mencoba mengambil kondisi Hong Kong sebagai sumber inspirasi. Di 
sana, pemerintah memberlakukan tarif yang sangat tinggi untuk pajak dan parkir 
kendaraan bermotor. Umur kendaraan juga dibatasi, kalau tidak salah hanya 10-15 
tahun. Jadi percuma saja kan punya mobil dan bayar mahal untuk pajak dan parkir 
hanya untuk waktu singkat? Pendek kata, mereka yang memiliki kendaraan bermotor 
memang orang-orang berduit. Sejauh ini logis.
 
Namun pada saat yang sama, sebagai kompensasi, pemerintah Hong Kong juga 
menyediakan sarana transportasi yang sangat lengkap dan terintegrasi, mulai 
dari trem, bus besar dan minibus, dan juga kereta bawah tanah (Mass Transit 
Railway/MTR). Semua alat transportasi publik itu sangat mewah, bersih, dan 
murah. Trem adalah pilihan yang paling murah dan santai (karena jalannya yang 
lebih lambat dibanding yang lain) jika Anda tidak ingin terburu-buru pergi ke 
tempat tujuan. Tarif MTR sedikit lebih tinggi, tapi alat transportasi ini 
adalah yang paling cepat dan massal, sesuai namanya. Sistem pembayaran juga 
sangat canggih dan praktis, cukup menempelkan kartu magnetik ke display yang 
tersedia di semua alat transportasi. Kalau "pulsanya" habis, isi ulang saja di 
stasiun2 MTR dan terminal bus kota. Jam operasi juga sangat memadai, dari jam 
05.00 sampai jam 01.00.
 
Ada satu wacana yang saya lihat hampir tak pernah diangkat, yaitu masalah 
sistem setoran pada angkutan umum. Saya kira kalau Pemprov DKI mau melakukan 
terobosan, sistem gaji untuk semua pengemudi bus layak dicoba. Sistem setoran 
yang selama ini dilakukan terbukti menyumbang peranan cukup besar terhadap 
kemacetan. Sistem setoran memaksa pengemudi bus untuk melulu ngetem demi 
mendapat penumpang. Itu pun di sembarang tempat, sehingga ketika jam sibuk 
tiba, kemacetan justru makin menggila. Ini konsekuensi logis, mengingat 
penghasilan mereka akan sangat kecil kalau tidak memenuhi setoran harian. Itu 
pun masih dipotong "pajak" jalanan oleh para preman timer dan oknum petugas 
sendiri. Sudah seharusnya Pemprov mengganti sistem primitif bernama setoran 
dengan sistem gaji. Sebenarnya proyek busway cukup bagus dan ideal, walau tak 
dijalankan dengan becus. 
 
Singkat kata, gagasan saya dapat diringkas seperti ini:
1. Pemprov (kalau perlu pemerintah pusat) harus meningkatkan jumlah dan 
kualitas transportasi publik yang murah dan terintegrasi (termasuk meremajakan 
bus2 tidak layak jalan seperti Metro Mini dan Kopaja, juga meneruskan program 
monorail dan MRT yang hanya berhenti di mulut dan awang-awang). Dampaknya: 
masyarakat akan mau menggunakan transportasi publik ketimbang memakai atau 
membeli kendaraan pribadi. 
2. Ketika poin 1 sudah berjalan baik, langkah berikutnya adalah pemerintah 
harus meningkatkan pajak kendaraan bermotor dan tarif parkir. Tapi jangan poin 
2 ini yang didahulukan. Ngawur namanya. Dampaknya: masyarakat akan berpikir 10 
kali lipat untuk membeli dan memakai kendaraan pribadi. Selama ini pemakaian 
kendaraan pribadi juga adalah salah satu penyumbang kemacetan. Toh kalau moda 
transportasi sangat layak, pemilik kendaraan pribadi juga pasti akur2 saja.
3. Berlakukan sistem gaji untuk pengemudi alat transportasi publik. Dampaknya: 
pengemudi akan bersikap lebih tertib, tidak akan ngetem dan berhenti di 
sembarang tempat, karena gaji mereka aman dan tidak dicatut oleh para timer dan 
preman berseragam. Masyarakat juga bisa "dipaksa" belajar tertib dengan tidak 
menunggu dan memberhentikan bus di sembarang tempat, karena pengemudi tidak 
akan berhenti kecuali di halte. Kalau masih ugal-ugalan dan primitif juga? Ya 
potong saja gajinya, atau pecat sekalian. 
 
Jadi menurut saya, kita tak usah ribut soal bangun pagi, sholat subuh, repot 
mengatur waktu, siapa yang duluan masuk pagi, merusak keheningan pagi yang 
indah, bawa sarapan dari rumah, dandan di kantor, dsb. Haloo, rambut ubanan 
cuma satu helai kok langsung botakin kepala?? Jangan ikut2an ngaco kayak bos2 
Jakarta itu dong. Sepertinya banyak miliser di sini sudah dikadalin sama para 
pembuat kebijakan ngawur itu. 
 
Kembalikan saja ke pertanyaan berikut: apakah Anda yakin kebijakan ini akan 
mengurangi kemacetan? Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya adalah: TIDAK. 
Selama Pemprov DKI Jakarta tidak fokus pada sumber utama kemacetan, yaitu hal2 
yang terkait dengan kendaraan pribadi dan transportasi publik seperti uraian 
saya di atas, kebijakan jam belajar anak sekolah ini hanya akan MEMPERPANJANG 
durasi kemacetan lalu-lintas, bukan menguranginya. Melaksanakan poin2 tadi 
memang butuh biaya, tapi apa gunanya pajak kalau begitu? Minta duit ke investor 
juga bisa, seperti pada kasus monorail yang mengawang-awang. Intinya: sediakan 
dulu kebutuhan masyarakat, baru meminta mereka untuk mematuhi kebijakan. Jangan 
dibolak-balik.
 
Saya hanya menyayangkan bahwa pemerintah melulu memaksa publik untuk 
melaksanakan kebijakan yang mereka buat, dan bukannya menyediakan solusi 
terlebih dahulu baru kemudian mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Daripada 
keluar biaya, pemerintah lebih suka menyuruh anak sekolah dan karyawan untuk 
masuk lebih pagi. Kalau cuma begitu gampang banget dong, para pendukung 
kebijakan ini juga bisa bikin peraturan kayak begitu. Saya juga bisa. Tapi 
untuk melakukan itu butuh biaya dan keberanian, dua hal yang tidak dimiliki 
bos-bos Jakarta itu.
 
- Indra 









Separoh pertama tulisan Anda di bawah ini adalah "ocehan" juga. Paroh kedua 
tulisan Anda malah gak nyambung sama ocehan pada paroh pertama.
 
Tugas rakyat itu salah satunya ngoceh, sebab merekalah yang membayar gaji para 
pejabat itu. Kalo betul bahwa antara kebijakan dan alasan yang dipakai untuk 
menetapkan kebijakan itu kaga nyambung (kata Anda, kaga relevan), lalu kenapa 
mesti didukung? Emang Anda kira rakyat itu goblok semua, mau aja disuruh dukung 
kebijakan yang kaga nyambung? Sori, mek! Not me.
 
manneke

--- On Thu, 11/27/08, [EMAIL PROTECTED] co.id <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] co.id <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: Re: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Re: Mulai 1 Januari, Sekolah Masuk Pukul 
06.30
To: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com
Received: Thursday, November 27, 2008, 9:30 PM

kalau masalah survey, hmmm kayanya kurang baik dijadikan sbg acuan.
kata2 ini : " karena ketika libur kerja, kemacetan justru jauh lebih 
berkurang." yah susah disurvey, lah wong kalo libur kerja ya pasti anak 
sekolah juga liburlah..
yang sering libur malah anak sekolah dibandingkan yg kerja, sebenernya ini 
ga bisa jadi patokan untuk memecahkan masalah.
masalah siapa duluan yg masuk kerja menurut saya sih ga penting, yg 
penting apakah kita sekalian mau berubah dan beradaptasi untuk menjalankan 
salah satu strategi pemerintah yg bertujuan utk mengurangi kemacetan 
(walaupun mungkin belum tentu berhasil).
kalo rakyat terus ngoceh tapi ga mau mendukung pemerintah mlulu, kapan 
jalannya suatu program, ya mendingan bikin negara sendiri d he3

Regards,

Erwin
-orang awam yg nimbrung komentar-
 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke