Ksatria Cokorda Mantuk, Pujangga yang Melegenda

Né mawasta prana wasa yakti,

Sané sampun mawindu manada,

Yén boya okara tulén,

Kari dados katuduh,

During nata during sajati,

During mawasta sinah,

Sami darang durung,

Kari rasane jatjatan,

Kari matak glisan madhemang gni,

Kalpak jerih panas

Ini merupakan salah satu bait petikan geguritan Manah Sajati karya Ida
Cokorda Mantuk. Puisi itu, lebih kurang, artinya, Cokorda Mantuk
menyebutkan bahwa tidak layak seorang raja jika diri sejatinya belum
mencapai keseimbangan. Raja itu pun tidak layak disebut seorang ksatria.

Dalam beberapa naskah geguritan, Cokorda Mantuk mengungkapkan, raja
adalah panutan yang antara perbuatan atau kelakuan dan ucapannya
selalu terjaga dan dapat dipercaya. Kepentingannya menjadi kepentingan
paling bawah. Kepentingan yang dijunjung tinggi adalah kepentingan rakyat.

Ia adalah Raja Puri Badung (Denpasar sekarang) yang memerintah pada
1902-1906. Ia bernama asli I Gusti Ngurah Made Agung dan merupakan
raja yang menentang agresi Belanda saat itu dengan perlawanan
habis-habisan yang disebut Puputan Badung, 20 September 1906.

Ida Cokorda Mantuk gugur dalam peperangan antara ribuan masyarakat
Badung saat itu dengan penjajah Belanda. Meski banyak yang menyebutnya
raja berjiwa pujangga dan sastrawan puisi melankolis, Cokorda Mantuk
tetap gagah berani maju di medan perang memimpin prajurit dan masyarakat.

Sejarah mengenai serangan Puputan Badung pertama kali dibukukan tiga
editor, Helen Creese, Darma Putra, dan Henk Schulte. Di dalamnya
memuat, awal mula peperangan terjadi karena penjajah Belanda menuduh
rakyat Badung merampas isi Kapal Sri Kumala yang terdampar di Pantai
Sanur, 27 Mei 1904. Itu menjadi alasan Belanda datang bersama
pasukannya ke Pulau Dewata melalui Sanur.

Menurut Raja, rakyatnya tidak menjarah, malah memberikan pertolongan.

Apa yang dijarah? Isi kapal hanya terasi busuk dan ikan amis.
Gara-gara laporan berbeda pemilik kapal kepada Pemerintah Belanda,
Raja didesak membayar kompensasi 3.000 ringgit.

Raja tak berkenan membayar kompensasi sehingga hubungan Belanda dengan
Bali tegang. Perselisihan atas Kapal Sri Kumala memberi alasan kuat
Belanda menekan Raja Badung dan menggempur dengan kekuatan militer.

Terjadilah perang yang melibatkan ribuan rakyat Badung. Puluhan ibu
hamil pun turut serta berbaris mendampingi suami yang bersimbah darah.
Perang itu habis-habisan sehingga disebut puputan dan populer dengan
Puputan Badung.

Meski puputan dimenangkan pihak Belanda, semangat yang dibawa Raja
Cokorda Mantuk tak pernah hilang. Sejak tahun 1973 atau 67 tahun
setelah peperangan, pemerintah memprakarsai memperingatinya setiap 20
September dan dipusatkan di Lapangan Puputan Badung.

Harapannya, semangat puputan dapat diejawantahkan dalam pembangunan
Bali sekarang.

Lahir di Denpasar, 5 April 1876, hingga akhir hayatnya Cokorda Mantuk
menghasilkan sembilan naskah berisi pawarah (anjuran dan saran) dan
petuah, yang bermanfaat serta relevan bagi masyarakat, seperti petikan
geguritan di atas. Naskahnya abadi, begitupun namanya akan terus
melegenda.

Beberapa karyanya dalam bentuk kakawin (menggunakan bahasa Jawa kuno),
kidung (bahasa Jawa pertengahan), geguritan (bahasa Bali halus),
geguritan Nengah Jimbaran (bahasa melayu).

Kerajaan Hindu

Penelitian Prof Dr I Nyoman Weda Kusuma, guru besar Fakultas Sastra
Universitas Udayana, Denpasar, kesusastraan Jawa kuno berkembang di
pusat-pusat kerajaan Hindu sekitar abad ke-9 sampai abad ke-16. Sastra
yang lahir di antaranya kakawin Bharatayudha, Arjuna Wiwaha,
Gatotkacasraya, dan Siwaratrikalpa. Kebudayaan Hindu-Jawa tersebut
memengaruhi sekitar awal abad ke-11.

Pengaruh kebudayaan Hindu-Jawa di Bali makin meluas setelah ekspansi
Majapahit pada tahun 1343. Karena itu, naskah Nengah Jimbaran,
berdasarkan penelusuran Weda Kusuma, menjadi pertama dan satu-satunya
naskah tradisional Bali yang menggunakan bahasa Melayu. Geguritan ini
ditulis sang pujangga Cokorda Mantuk pada tahun 1903 atau 25 tahun
sebelum didengungkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Dalam geguritan bahasa Melayu itu, Cokorda Mantuk mengungkap seputar
karma. Manusia tidak dapat dihindarkan dari karma baik dan buruk
selama hidupnya karena kodrat Tuhan. Apa pun yang ia tebar, suatu saat
akan ia tuai, baik kesetiaan, kepatuhan, maupun kejahatan.

Sebagai raja, ia disegani rakyatnya. Ia mengikonkan seorang pemimpin
bagai situasi alam. Seorang pemimpin hendaknya seperti air hujan.
Artinya, tidak pandang bulu kepada rakyatnya, harus merata. Hendaknya
seperti api jika ingin memberantas kejahatan. Bagai singa saat menjaga
negeri. Berhati-hati seperti burung merak.

Sebagai sosok pujangga yang melegenda dan pahlawan bagi masyarakat
Bali dengan diperingati setiap tahun di Denpasar dan Kabupaten Badung,
layakkah Cokorda Mantuk atau I Gusti Ngurah Made Agung diajukan
sebagai pahlawan nasional? Gubernur Bali Made Mangku Pastika
mengungkapkan, pihaknya tengah mempertimbangkan hal itu, seperti Raja
Ali Haji dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang telah mendapat
gelar pahlawan nasional.
 (Ayu Sulistyowati)



http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/00473245/102.tahun.puputan.badung.1906-2008

Kirim email ke