http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/00280475/fauzi.bowo.harus.berani.dan.tegas


Kemacetan jalan di Jakarta makin parah. Kerugian akibat lalu lintas
macet amat besar, Rp 12,8 triliun per tahun—data Dinas Perhubungan DKI
Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta panik sebab gagal menerapkan
aneka jurus mengatasi macet.

Padahal, kegagalan kebijakan karena Pemprov tak fokus, tak konsisten,
tak tegas menindak yang salah dan kurang koordinasi dengan instansi,
seperti Kepolisian RI dan PT Kereta Api. Macet terus mendera warga Ibu
Kota dan sekitarnya, tetapi usaha membuat angkutan umum massal nyaman
agar warga pindah dari mobil pribadi ke angkutan umum tersendat.

Alhasil warga harus kena macet saat berangkat dan pulang kerja.
Penumpang kendaraan umum lebih sengsara. Sudah berdiri berdesakan
dalam bus kota, perjalanan menjadi lama karena jalan macet. Pemprov
DKI Jakarta berupaya mengatasi macet dengan membuat sistem
transportasi makro yang menjadi bagian dari tata ruang. Persoalannya,
sistem transportasi yang dibuat sejak Gubernur Ali Sadikin, Wijogo
Atmodarminto, Surjadi Sudirja, Sutiyoso, serta Fauzi Bowo tak manjur
mengatasi masalah.

Rencana Pemprov DKI membuat transportasi terpadu yang termuat dalam
Rencana Umum Pembangunan Ekonomi DKI Jakarta sangat jelas, untuk
menekan kemacetan. Caranya, membuat sistem transportasi massal aman
dan nyaman guna mengimbangi mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya.
Pilihan jatuh ke kereta api bawah tanah alias subway dan angkutan
massal berbasis bus.

Para gubernur melakukan rancangan itu. Bang Ali meremajakan bus kota
milik Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD). Wijogo menerapkan
kawasan pembatasan penumpang, three in one, Sutiyoso mewujudkan bus
transjakarta dan rencana pembuatan monorel sampai Fauzi menertibkan
parkir yang menjadi salah satu biang kemacetan.

Semua program itu makan dana amat besar, tetapi tak satu pun upaya itu
berjalan baik. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, yakni pemprov
tidak fokus dan ada kepentingan ekonomi yang ikut bermain di sana.

PPD kini megap-megap karena salah urus. Pembatasan penumpang mobil
pribadi tak efektif karena memunculkan calo penumpang, bus
transjakarta tak berkembang baik sebab bus tak lagi nyaman dan aman.
Monorel dan keinginan membuat subway jalur Lebak Bulus-Stasiun Dukuh
Atas masih jauh dari angan.

Pemprov DKI Jakarta harus fokus ke bus transjakarta yang sudah
memiliki infrastruktur di tujuh koridor. Dinas Perhubungan DKI Jakarta
menyebutkan, penumpang bus transjakarta dari tahun 2006-2007 terus
naik. Di koridor Blok M-Kota, misalnya, dari 2,3 juta penumpang
menjadi 4,4 juta penumpang. Penumpang jalur Harmoni-Kalideres
bertambah lebih dari 500.000 orang.

Berarti warga mulai tertarik bus transjakarta, tetapi penurunan
layanan membuat warga menjauhinya. Mereka mengeluhkan minimnya jumlah
bus sehingga terjadi antre panjang dan rebutan naik bus di Blok M,
Dukuh Atas, dan Senen. Ternyata bus yang beroperasi di enam koridor
kecuali koridor 1 hanya 60 persen dari kebutuhan ideal.

Anehnya operator tak menambah bus dengan alasan menambah jarak tempuh
yang akhirnya membuat operator rugi. Untuk menutup kerugian, pemprov
harus memberi tambahan subsidi.

Alasan itu tidak logis. Bukankah makin banyak penumpang berarti
pendapatan makin tinggi? Belakangan ketahuan pemasukan dari jumlah
karcis yang terjual tak ada kontrol.

Anehnya, pemprov tidak menelisik dugaan kebocoran uang tiket yang
menjadi pendapatan operator. Subsidi amat besar, Rp 230 miliar (2006),
Rp 203 miliar (2007), dan Rp 196 miliar (2008) terus diberikan.

Ketidakberesan harus dihentikan. Fauzi Bowo harus membenahi
transjakarta dan aparat yang mengawasi kinerja operator. Tindak aparat
dan operator tak jujur. Jika pelayanan membaik apalagi ada bus
pengumpan yang nyaman dari daerah penyangga Ibu Kota, warga akan
memilih naik bus tersebut.

Pembatasan kendaraan pribadi dan kendaraan umum seperti bus mini dan
angkutan kota harus dilakukan. Benahi dan promosikan kereta api agar
lebih menarik minat warga. Keberanian dan ketegasan Fauzi Bowo akan
lebih manjur mengatasi kemacetan ketimbang panik lalu memajukan jam
belajar sekolah. (SOELASTRI SOEKIRNO/ PINGKAN E DUNDU/ CAESAR ALEXEY)

 

Kirim email ke