Bung Harya,
 
Mungkin di sinilah letak korsletingnya. Anda hanya bisa melihat soal kemacetan 
lalu-lintas dari segi jarak tempuh, dan memang tampaknya hanya inilah yang bisa 
dimatematikakan. Tapi kemacetan itu penyebab dan faktornya banyak, dan jarak 
tempuh hanya kena dampaknya saja. Menyimpulkan bahwa jam masuk sekolah adalah 
penyebab kemacetan, itulah letak kebodohan para pengambil kebijakan itu. 
Padahal, ada faktor dan penyebab lain yang NYATA di depan mata tidak 
ditanggulangi. Apa itu? Sudah disebut berkali-kali. Misalnya, timpangnya 
pertumbuhan kendaraan bermotor dan kapasitas jalan. Masih besarnya jumlah orang 
yang lebih suka pergi dengan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Tidak 
tertibnya para pengendara dalam berlalu-lintas. Ini semua jauh lebih KONKRIT 
sebagai faktor penyebab kemacetan daripada jam masuk sekolah. Saya udah sampai 
eneg nih mengulangi penjelasan yang sama berkali-kali buat Anda. Mohon disimak!
 
Sistem pendidikan, kalau mau diperbaiki, TIDAK BISA disaangkut-pautkan dengan 
kemacetan lalu-lintas dan TIDAK PERNAH BOLEH dikait-kaitkan. Juga sebaliknya. 
bahkan jika perlu dan mendesak, sistem pendidikan yang jempolan tapi 
menyebabkan naiknya tingkat kemacetan lebih arus diutamakan daripada kemacetan 
itu sendiri, bukan sebaliknya. Kecuali kalo logika para pengambil kebijakan 
kita sudah pada jungkir-balik semuanya....
 
Anda bilang "ternyata TIDAK SEDIKIT orang yang sudah biasa bangun pagi sebelum 
matahari terbit lho." Lha iya, tapi so what gitu lho? Mbok-mbok yang jualan di 
pasar jam 2 pagi juga sudah bangun siap-siap jualan. Maling dan garong mungkin 
juga sebelum subuh udah gentayangan beroperasi. Lalu kenapa? Kita ngomongin 
ANAK SEKOLAH, Bung! Aduh, jangan lari-lari mulu ah, fokus, fokus, fokus. Nyimak!
 
Kita juga tak bicara soal pengorbanan ORANG TUA. KIta bicara soal anak-anak 
yang dikorbankan! Susah ya buat Anda ngertinya?
 
Emang siapa yang nuntut referendum untuk kebijakan kota? Simak Bung! Saya 
katakan, perlu dengar pendapat, perlu ditanya--terutama anak-anak yang akan 
jadi objek kebijakan itu--gimana pandangan mereka, perlu sosialisasi, dan 
paling nomor satu, perlu AKAL SEHAT. Kalo mau mengatasi kemacetan lalu 
memajukan jam sekolah, itu bukan akal sehat. Itu SAKIT JIWA!
 
Kontribusi positif? Kritik saya yang tak kenallelah ini adalah kontribusi 
POSITIF, Bung. Kalo enggak, ngapain saya repot-repot ratusan ribu kali 
menjelaskan kepada Anda? Kecuali kalo bagi Anda yang "positif" adalah yang 
nrimo, pasrah, nurut, manut dan tak banyak protes. Itukah?
 
manneke

--- On Sun, 12/28/08, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah & 
Kesemraturan Lalu Lintas di Jakarta
To: [email protected]
Received: Sunday, December 28, 2008, 3:32 AM






mang Iyus, Bung Manneke,

Sy dari dulu sudah mengakui bahwa masalah lalu-lintas ya ada nya di hilir.
dan masalah pendidikan bukanlah bagian kepakaran sy.

Tentunya masing bidang keilmuan (body of knowledge, epistemology)
punya indikator-2 observasi masing-2.
Secara pola-spatial sy simpulkan bahwa sebenarnya jarak perjalanan
menuju sekolah seharusnya tidak sampai belasan KM. Kalau secara
empirik terjadi demikian, maka yg perlu diperbaiki adalah sistem
pendidikannya. Karena, secara spasial tidak ada lagi yg bisa
dilakukan. Dari dulu sy sudah sampaikan ini. mohon disimak.

Mang Iyus...
kalau supir, sih memang selalu jadi korban.. kalau pun yg maju adalah
jam kerja, maka si supir masuk lebih pagi juga utk mengantar si
bapak/ibu.
supir bukan korban kebijakan lalu-lintas. . tapi korban pengangguran sebenarnya.
jarang sekali orang menjadikan supir sbg profesi ideal..
kalau mau benar-2 menyelamatkan kaum supir'; siapkan lapangan kerja yg
lebih nge-wong-ke di sektor riil.. supir kan profesi informal..
Keberadaan supir secara empirik adalah indicator masalah economi,
bukan transport.
(again, don't confuse transport problems with economic problems,
nantinya berharap 3in1 utk mengentaskan kemiskinan pula..)

Ternyata tidak sedikit orang yg sudah biasa bangun pagi sebelum
matahari terbit lhoo...
Kalau mau bangun lebih pagi, sudah biasa pula malamnya tidur lebih dini.
Pengorbanan orang tua untuk suksesnya anak juga bukan hal yg diluar kewajaran.
Bung Haniwar sudah lebih komprehensif menjelaskan hal ini.

Bung manneke, mungkin anda bisa berkontribus lebih positif;.. ada ga
contoh-2 dmana kebijakan publik perkotaan di-sah kan lewat refrendum
(sy punya beberapa contoh)..
lalu, secara detil bagaimana prosesnya?
sy pikir ke depannya Jakarta perlu membiasakan diri dengan metode-2
pengambilan kebijakan yg lebih demokratis-progresi f.

salam,
-K-

Kirim email ke