Kayanya baik DPR maupun Ibu Dirut, keduanya harus belajar dari peristiwa
itu.

Lha DPR mempertanyakan terpilihnya Ibu DIRUT kok bukannya ke pemilihnya.
Malahan ke Ibu DIRUT-nya. Itu kan salah alamat. Secara context salah
alamat, di samping cara-nya juga tidak santun dan tidak pantas.

Tapi, Ibu Dirut juga, tau DPR salah alamat gitu.. kok ya ditanggapi
sampai ke hati. Harusnya kan beliau cukup mengatakan begini : "Baik pak,
pertanyaan Bapak akan saya bawa ke komite pemilihan. Biar nanti mereka
yang lebih tau jawabannya yang akan menjawab."  Titik.. Emosi ? Ya
selevel itu, mestinya kan sudah punya pengendalian emosi yang lebih
baik.

-Ning


-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of
[email protected]
Sent: Monday, March 02, 2009 9:54 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Dirut Pertamina Merasa Dianggap
Satpam oleh DPR

Yang menjadi masalah ucapan seperti itu tidak pantas diucapkan seorang
anggota DPR karena menunjukkan arogansi yang luar biasa. Memangnya dia
sedang bicara sama satpamnya atau jongosnya? Itu lebih menunjukkan kalau
dia bekas preman.


Powered by Telkomsel BlackBerry(r)

Kirim email ke