Rekan FPK PS, Mungkin perlu dijabarkan lebih lanjut hal-hal sbb: 1) Panas Bumi dan Air memang terlihat cukup seksi bagi kemandirian energi. Tapi apakah sudah dihitung juga kebutuhan energi yang dibutuhkan dalam waktu sepuluh tahun mendatang? Yakin bisa bangun 10.000 MW tsb tanpa menaikkan tarif listrik? 2) Bahan bakar nabati sebenarnya untuk dipakai di dalam negri atau diekspor? Harga BBN untuk dalam negri perlu disubsidi?
Pertanyaan terakhir: Apakah punya waktu untuk menjawab dua pertanyaan saya di atas? Btw, kritik baru saya sampaikan setelah ada jawaban pertanyaan saya di atas karena saya yakin apa yang saya tulis nanti benar-benar dibaca :) Best Regards, Rudyanto Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng! --- In [email protected], Prabowo Subianto <salam.prab...@...> wrote: > > Saudara-Saudara FPK yang saya banggakan, > > Jika mendapatkan lampu hijau dari Saudara Agus Hamonangan, Moderator, saya > ingin mempost-kan 8 program yang saya tawarkan dan mulai iklankan hari ini. > Mengingat Saudara semua di sini tajam wawasan, dalam, mengritisi usulan > program ini. Saya ingin mendengar komentar-komentar Saudara di sini. > > 6. Kemandirian energi > > > - Membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air (10.000 MW). > - Menyediakan sumber energi dengan mendirikan kilang-kilang minyal, pabrik > bio etanol dan pabrik DME (pengganti LPG). > - Membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren - dengan sistim tanam > tumpangsari - untuk produksi bahan bakar etanol, sebagai pengganti BBM impor. > Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan > bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan > sekitar 56 juta mt etanol/tahun). >
