Maksud Partai Demokrat dengan mendongkrak suara 111 juta karena ingin menang 80 persen. Karena jika cuma 20 % kalau hitung-hitungan angka politik popularitas SBY turun. Kemudian diciptakan dengan deret ukur Partai Demokrat dimaksudkan agar menang dengan persentase lebih besar tapi ternyata tidak tangung-tangung, logaritmanya salah kemudian terjadi penggelembungan jumlah suara hingga 111 juta.
Jika SBY menang cuma 20%. Golkar tidak usah kebakaran jenggot dengan jumlah persentase sedikitpun, Golkar bisa berkoalisi dengan partai lain untuk mendapatkan perolehan minimal 25 % suara untuk mencapai target ikut dalam pilpres. Demokrat yang telah didongkrak perolehan suara oleh mesin komputer hingga mencapai perolehan suara 20% jika tidak berkoalisi tidak akan mampu ikut dalam pilpres. Demikian juga PKS dan barisan parpol lainnya bisa berkoalisi sehingga dalam pilpres akan terjadi persaingan sengit. Bagaimana dengan Demokrat jika perolehan suara tidak mencapai 25% maka selamat tinggal buat SBY. Makanya itu SBY berusaha "mesin komputer" bisa mendongkrak perolehan suara hingga mencapai 25% suara atau kalau perlu mencapai 111 juta suara. --- In [email protected], marnagan2...@... wrote: > > Jelas dong KPU yang harus bertanggung jawab. Data dari pemerintah itu kan > data awal yang harus diupdate oleh KPU untuk data terkini. Data kependudukan > tiap hari berubah, ada yang mati, ada yang lahir dan ada yang pindah. Kalau > tidak diupdate terus ya pastilah amburadul. > Powered by Telkomsel BlackBerry®
