Memang betul ada banyak masalah dalam pelaksanaan Pemilu kali ini tetapi jika 
ini diartikan sebagai sebuah upaya sistematik untuk memenagkan salah satu 
parpol saya kira kok tidak. Yang dirugikan dengan kekacauan ini adalah semua 
parpol dan tidak ada yang diuntungkan juga dengan semua kemelut ini.

Yang juga harus dilihat sebagai bagian dari kekacauan ini adalah kesalahan 
parpol dan kesalahan warga sendiri. Sewaktu daftar sementara dikeluarkan, KPU 
sudah menyerahkan ke semua parpol dan daftar sementara ini juga ada di setiap 
kelurahan. Nyatanya para parpol tidak ada yang mempertanyakan. Banyak warga 
juga tidak menyempatkan diri untuk mengecek apakah namanya sudah ada. Jadi 
jelas bahwa kita semua juga punya kontribusi dalam terjadinya kekacauan ini.

Jadi marilah kita tetap kepala dingin. Kesalahan yang terjadi harus diusut dan 
yang bersalah harus diberi hukuman. KPU harus bertanggungjawab dan aparat KPU 
yang lalai memang harus ditindak. Tapi janganlah berfikir bahwa ini semua 
adalah sebuah upaya sistematik untuk memenangkan salah satu parpol.

Adi Sasongko


--- Pada Jum, 17/4/09, tjuk kasturi sukiadi <[email protected]> 
menulis:

Dari: tjuk kasturi sukiadi <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] KPU Tak Mau Disalahkan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 17 April, 2009, 9:27 AM

















      Mbak Yuliati yang sangat kritis dan lantang,

Kita lima tahun yl sempat berpikir bahwa dari orang yang berpenampilan baik dan 
santun didukung keterpelajaran akan muncul "poltical attitude and behavior" 
yang demokratis, cantik dan elegance. Ternyata tampilan muka dan body languange 
tidak menggambarkan "jerohan" seseorang. Kita atau paling tidak saya tertipu. 
Ternyata "Rahwana Raja Moderen"itu wujudnya tidak macam "preman Tanah Abang 
anak buah Hercules" tapi rapi, bersih, santun dan anggun. Nah bukti nyata yang 
tak lagi dapat diingkari adalah Pelaksanaan Pemilu 2009 ini. Kecurangannya 
begitu sistematis dengan memanfaatkan banyak pemilih yang berpotensi Golput 
kemudian ditimpa dengan DPT yang dengan sengaja tidak "mencantumkan banyak 
penduduk" yang diperkirakan tidak akan memilih Partai Demokrat. Hebat juga! 
Kalau tidak milih PD lebih baik                        " DIGOLPUTKAN " saja! 
Kelemahan Partai Demokrat dalam infra struktur organisasi dan miskinnya kader 
handal digantikan

 dengan  diperankannya "Mesin Birokrasi" yang sejak zaman ORBA sudah terbiasa 
untuk mengabdi kepada Siapapun Yang Sedang Memerintah dan Berkuasa. Semboyan 
KORPRI memang harus diganti bukan sebagai "ABDI NEGARA DAN ABDI MASYARAKAT"; 
tetapi yang lebih tepat "ABDI PEMERINTAH, ABDI ATASAN/PENGUASA! " Dilain pihak  
 kelompok Golput dibuat bersenang dihati karena jumlahnya semakin banyak! 
Tetapi ingat dengan demikian perolehan suara PD menjadi tak tertandingi oleh 
PDIP dan GOLKAR yang memang dalam lima tahun ini terlanda "KRISIS KEPEMIMPINAN 
DAN KRISIS ORGANISASI!" . Nah itulah strategi Jendral Staf yang keren,cendekia 
dan santun untuk tetap dapat berkuasa dengan segala cara. Seorang penghayat 
Machiavellianisme yang konsisten dengan kemasan modern yang elok dan masuknya 
seperti jarum kedalam air. Harus dihentikan karena bahayanya jauh lebih besar 
dari preman . Tentu nsaja KPU Tak Mau Disalahkan karena mereka sekedar alat dan 
orang2 suruhan! Kesalahan dan

 tanggung jawab utama  tentu berada diatas pundak Sang Master Mind.  Salam  
Tjuk KS

Kirim email ke