Topik: [ARKILAUS ARNESIUS BAHO] PEMILU 2009 CACAT, PAPUA JADI SASARAN KONFLIK


[http://arkilausbaho .blogspot. com] 
 

Demokrasi tidak harus di uji dengan mengelola konflik secara sistematik, tetapi 
mendidik rakyat untuk demokratis butuh kejujuran dan jiwa besar. Pematangan 
demokrasi bagi Negara-negara berkembang tidak hanya dialami oleh Bangsa 
Indonesia, tetapi juga kita tahu demonstrasi menentang berbagai kebijakan anti 
rakyat juga terjadi di Negara lain. Reformasi tahun 1998 sebagai jalan baru 
untuk membentuk pola pembangunan Negara demi demokrasi dan kemanusiaan. Udara 
kebebasan, pemenuhan hak dan prinsip demokrasi kemudian menjadi kesepakatan 
rakyat Indonesia untuk memulai langkah baru dalam bernegara. Namun kenyataan 
sekarang dalam pemilihan umum April 2009 membalikan semangat baru yang lahir 
dalam kado reformasi.
Papua begitu jauh dari dominasi publik, dan begitu jauh dari tekanan-tekanan 
elite bangsa ini. Sudah tertinggal jauh secara geografis, malah di jadikan 
lahan konflik demi pemilu yang tidak benar. Organisasi Papua Merdeka di lirik 
sebagai tumbal atas kebohongan Negara. Tidak benar konflik di ciptakan oleh 
kekuatan apapun yang nota bene tidak memiliki kekuatan materi maupun teknologi. 
Jika terjadi peningkatan gerilyawan Papua membuat kisruh mesti dipertanyakan, 
dari mana dukungan senjata atau bahan peledak didapat. Salah satu yang 
membingungkan publik ketika OPM di tuding menembak mati Polisi dan Tentara di 
Pegunungan Papua. Padahal, Wilayah Papua begitu terisolasi dari upaya 
penyelundupan senjata atau peralatan perang lainya. Nah, dari mana kelompok 
pengacau mendapatkan kekuatan ( suplai ) senjata dan bom?. 
Tradisi pengelolaan konflik Negara kini berbeda dengan sebelumnya. Aceh, Papua, 
Poso dan Maluku yang sejak reformasi terus memanas dengan memanasnya situasi 
konflik antar elite di Jakarta. Bahkan Riau Merdeka pun sempat mencuat yang di 
dalangi oleh petinggi golkar yang tidak mendapat kedudukan di Jakarta. 
Pergeseran konflik mengkrucut pada satu titik yaitu Papua. Aksi-aksi pembakaran 
hingga penyerangan dan penembakan terhadap aparat bawahan menimbulkan korban 
baik aparat keamanan maupun warga sipil. Atas nama Negara dan undang-undang, 
kerusuhan yang tersistematik ini para aktornya mungkin sadar atau tidak sadar 
bahwa mengaitkan konflik elite kedalam rekonstruksi kekacauan tidak dibenarkan 
untuk mengatakan bahwa inilah demokrasi yang harus di uji coba. 


Praktek Jual Negara adalah money politik

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) hanya bisa menangkap orang yang makan uang 
( koruptor ), tetapi KPK tak bisa menangkap para aktor penjual Negara secara 
sistematik. Pemilu 2009 murni diterapkan pola penjualan Negara. Bagaimanapun 
juga, membeli suara rakyat dengan uang adalah bukti mentalitas bukan negarawan 
yang cinta rakyat sendiri, tetapi budaya beli suara sama dengan tradisi 
kapitalis di era globalisasi sekarang. Jangan mimpi Negara Indonesia tetap utuh 
dari Sabang sampai merauke jika budaya jual beli suara masih di praktikan 
secara legal terutama terbukti dilakukan dalam kancah pemilu yang 
konstitusional. Tradisi membeli suara rakyat dan meniadakan hak rakyat menjadi 
kenyataan bahwa demokasi hanya sebagai fenomena pasar modal yang kemudian di 
resmikan dalam bentuk yang konstitusional.
Pola kekuasaan terus berlaku dalam trend demokrasi, berulangnya praktek money 
politik dalam kancah pemilu legislative lalu dan hancurnya hak memilih bagi 
warga Negara harus dipastikan bahwa semboyan demokrasi bukan di uji lagi, 
tetapi krisis hak rakyat di dalam menentukan hak masing-masing kemudian di 
jarah dalam pola rekonstruksi keterpurukan ber-negara. Bayangkan, lima puluh 
persen warga Negara Indonesia tidak dapat memilih akibat haknya terabaikan. 
Toh, pemerintah mau tidak mau harus mengatakan bahwa pemilu konstitusional 
sehingga tidak boleh di tolak hasil pemilu walaupun terjadi kecurangan di 
setiap wilayah negeri ini.
Negara memberi ruang bagi dinamika Negara yang terus rapuh dalam proses 
melindungi dan menjunjung tinggi hak merdeka bagi warga Negara. Budaya politik 
uang, aneksasi suara separuh rakyat dalam DPT hingga merekayasan wilayah 
konflik seakan member citra baru bagi generasi bangsa bahwa kecurangan 
ber-demokrasi harus di reda dengan konflik dalam negeri. Ini terbukti dalam 
proses pemilu 2009 yang paling buruk. Iya, Stigma OPM/Separatis adalah modal 
bagi pencitraan diri dan kelompok penguasa untuk meredam bahkan mengalihkan 
perhatian publik agar ketidakbenaran pemilihan umum tidak begitu penting di 
usut tuntas. 
Dengan demikian keburukan pemilu 2009 harus diakui bahwa seperangkat pecundang 
demokrasi telah menyatakan diri dan watak tak bermoral. Politik uang bukanlah 
cara mendidik yang benar, bahkan citra bangsa harus terkubur akibat mentalitas 
pejabat eksekutif yang berhasil duduk di senayan dengan cara beli suara rakyat. 
Jika demokrasi terus di jalankan dengan cara-cara kotor, kesadaran rakyat 
Indonesia dalam menegakkan demokrasi tetap kotor juga dan ujung-ujungnya Negara 
di jual oleh konstitusi Negara sendiri.
***

Gambar diatas merupakan dokumentasi diskusi dengan Pendulang Emas Tradisional 
di Mile 32 Freeport


--
Posting oleh  ARKILAUS ARNESIUS BAHO  ke ARKILAUS ARNESIUS BAHO pada  4/17/2009 
07:40:00 AM
________________________________
 Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 
   


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke