Dear alls, 
Seandainya KOMPAS menulis judul dibawah dengan "Shell Penyebab Hilangnya 
Ambalat" apakah kira-kira ada ya reaksi dari masyarakat Indonesia terhadap 
Shell di Indonesia?
Maaf kalau ada cross posting, karena saya lihat berita ini bisa dari beberapa 
aspek, seperti Marketing (yang mungkin membuat kita enggan membeli bensin di 
Shell), atau Public Relations (yang membuat citra Shell jadi turun), atau 
bahkan dari sisi psikologis (ternyata kita tertipu dengan perusahaan global 
seperti Shell). 
Salam, 


Silih Agung
==================================


Dalam Kepungan Kapitalisme Global Jumat, 17 April 2009 | 02:51 WIB


Dengan contoh kasus yang berbeda, Des Alwi—salah satu tokoh yang ikut berperan 
dalam proses ”normalisasi” hubungan Indonesia-Malaysia
pascakonfrontasi antarkedua negara tahun 1960-an—juga mengingatkan
adanya ”politik adu domba” gaya baru dari pihak ketiga, yang kini
melibatkan kekuatan kapitalisme global. Oleh karena itu, kata dia,
kekuatan-kekuatan modal asing—lewat tangan-tangan pemegang
kekuasaan—yang ingin mengeruk kekayaan yang tersimpan di kawasan ini
harus selalu diwaspadai.
Dalam kasus blok Ambalat, misalnya,
kekuatan kapitalisme global jelas terlibat. Sebab, kata Des Alwi,
sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di kawasan kaya potensi 
minyak dan terumbu karang
tersebut, yang nyaris menimbulkan ”konfrontasi jilid II” antarakedua
negara, sesungguhnya tak lain akibat ulah Inggris.
Demi keinginan sebuah perusahaan raksasa perminyakan yang berniat mendapatkan 
konsesi di sana, Inggris semula mendekati Indonesia. Pihak Indonesia melalui 
Kementerian Lingkungan Hidup menentang keras keinginan
tersebut. Keberatan itu terutama mengingat daerah di sekitar blok
Ambalat memiliki kekayaan sumber daya hayati yang tak ternilai dengan
ragam terumbu karang dan ekosistemnya yang luar biasa.
Gagal bernegosiasi dengan Indonesia,
Malaysia pun di-kilik-kilik. Entah bagaimana prosesnya, sampai pada
satu ketika diketahui adanya aktivitas ”pencarian” sumur minyak lepas
pantai oleh Shell di kawasan blok Ambalat.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke