Sebaiknya sebelum Indonesia menolak Shell, sudah punya kontak yang baik dengan Malaysia hingga tak bisa jadi permainan Shell.
Seandainya Intel kita bisa tahu lebih dulu apa yang akan diperbuat Shell dan Malaysia siap menghadapi campur tangan asing dan mau kerja sama buat keuntungan bersama maka kisahnya mungkin berbeda.... Apa daya nasi sudah jadi bubur, tak bisa kembali jadi beras untuk dimasak jadi nasi kembali! Pelajaran pahit yang perlu dikenang seumur hidup! Intel kita perlu belajar dari Mossad! Salam Las --- On Sat, 18/4/09, Silih AW <[email protected]> wrote: From: Silih AW <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Shell penyebab hilangnya Ambalat.... To: "fpk" <[email protected]> Cc: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Received: Saturday, 18 April, 2009, 1:22 AM Dear alls, Seandainya KOMPAS menulis judul dibawah dengan "Shell Penyebab Hilangnya Ambalat" apakah kira-kira ada ya reaksi dari masyarakat Indonesia terhadap Shell di Indonesia? Maaf kalau ada cross posting, karena saya lihat berita ini bisa dari beberapa aspek, seperti Marketing (yang mungkin membuat kita enggan membeli bensin di Shell), atau Public Relations (yang membuat citra Shell jadi turun), atau bahkan dari sisi psikologis (ternyata kita tertipu dengan perusahaan global seperti Shell). Salam, Silih Agung ============ ========= ========= ==== Dalam Kepungan Kapitalisme Global Jumat, 17 April 2009 | 02:51 WIB Dengan contoh kasus yang berbeda, Des Alwi—salah satu tokoh yang ikut berperan dalam proses ”normalisasi” hubungan Indonesia-Malaysia pascakonfrontasi antarkedua negara tahun 1960-an—juga mengingatkan adanya ”politik adu domba” gaya baru dari pihak ketiga, yang kini melibatkan kekuatan kapitalisme global. Oleh karena itu, kata dia, kekuatan-kekuatan modal asing—lewat tangan-tangan pemegang kekuasaan—yang ingin mengeruk kekayaan yang tersimpan di kawasan ini harus selalu diwaspadai. Dalam kasus blok Ambalat, misalnya, kekuatan kapitalisme global jelas terlibat. Sebab, kata Des Alwi, sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di kawasan kaya potensi minyak dan terumbu karang tersebut, yang nyaris menimbulkan ”konfrontasi jilid II” antarakedua negara, sesungguhnya tak lain akibat ulah Inggris. Demi keinginan sebuah perusahaan raksasa perminyakan yang berniat mendapatkan konsesi di sana, Inggris semula mendekati Indonesia. Pihak Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup menentang keras keinginan tersebut. Keberatan itu terutama mengingat daerah di sekitar blok Ambalat memiliki kekayaan sumber daya hayati yang tak ternilai dengan ragam terumbu karang dan ekosistemnya yang luar biasa. Gagal bernegosiasi dengan Indonesia, Malaysia pun di-kilik-kilik. Entah bagaimana prosesnya, sampai pada satu ketika diketahui adanya aktivitas ”pencarian” sumur minyak lepas pantai oleh Shell di kawasan blok Ambalat. [Non-text portions of this message have been removed] Enjoy a better web experience. Upgrade to the new Internet Explorer 8 optimised for Yahoo!7. Get it now.
