Maaf saya hanya pinjam judulnya.  Saya usulkan agar SBY memilih Budiono menjadi 
Capresnya.  Budiono saya rasa memenuhi hampir semua kategori wapres yang 
diinginkan SBY.  Tidak banyak omong, tetapi sudah terbukti kinerjanya bagus 
baik sebagai Menkeu, Menko Ekuin dan sebagai Gubernur BI yang telah berhasil 
meredam kurs dollar terhadap rupiah.  Semoga aspirasi ini sampai kepada SBY.  
Salam.

"Hold to the presence of all good in which you live and have being. Think 
constantly, work constantly on the side of Truth...." The MBE Collection

--- On Fri, 5/1/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Usul untuk SBY
To: [email protected]
Date: Friday, May 1, 2009, 6:46 AM








Oleh ULIL ABSHAR-ABDALLA
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/05/01/ 0249238/usul. untuk.sby

Selama musim pemilu ini saya terganggu benar oleh sejumlah istilah asing yang 
menyerbu kita. Baru-baru ini dalam sekali pukul Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono menggunakan istilah yang dipinjam dari bahasa Inggris: kapabilitas, 
kompetensi, akseptabilitas, dan loyalitas.

Kapabilitas. Haruskah kita memakai kata itu? Tampaknya ada kecenderungan 
meminjam kata benda dalam bahasa Inggris yang berakhiran -ty atau -ity ke dalam 
bahasa Indonesia dengan cara menyerap kedua akhiran itu menjadi -tas. 
Demikianlah, capability menjadi kapabilitas, acceptability menjadi 
akseptabilitas. Menurut saya, ini pertanda kemalasan berbahasa (hampir saja, 
agar tampak keren, saya membubuhkan linguistic laziness seperti kebiasaan 
penulis kita).

Saya bukan ahli bahasa. Namun, dengan akal sehat saya tahu bahwa kaidah dasar 
dalam berbahasa adalah usahakan memakai istilah dalam bahasa sendiri selama 
masih dimungkinkan. Meminjam istilah asing hanya diperlukan dalam keadaan (saya 
hampir saja memakai istilah situasi, pinjaman dari kata situation) darurat (ini 
juga istilah Arab; sebaiknya saya katakan terdesak, meskipun kata darurat dalam 
bahasa Arab lebih tepat diterjemahkan sebagai berbahaya; tetapi akan lucu kalau 
saya katakan "boleh meminjam istilah asing hanya dalam keadaan berbahaya").

Ganti saja kapabilitas dengan kemampuan. Tak ada makna yang hilang di sana. 
Kapabilitas dan kemampuan berbanding lurus secara makna dan, karena itu, 
menurut saya yang bukan ahli bahasa ini, tak ada alasan memakai istilah yang 
berasal dari bahasa Inggris itu dan meninggalkan padanan Indonesianya.

Bagaimana dengan kapabilitas dan kompetensi? Tampaknya memang dua istilah itu 
memiliki pengertian yang nyaris serupa meski tak sama. Ada beda-halus (ini saya 
pakai sebagai terjemahan nuance dalam bahasa Inggris) antara keduanya. Saya 
mengusulkan kebisaan untuk kapabilitas dan kemampuan untuk kompetensi. Terserah 
kepada para ahli bahasa apakah usulan ini masuk akal atau tidak, atau ada usul 
lain yang lebih baik? Yang penting, bagi saya, ada kemungkinan memakai padanan 
Indonesia untuk dua istilah itu.

Loyalitas memang bisa diganti dengan ketaatan. Namun, di telinga kita ketaatan 
terlalu dibebani oleh makna yang entah berbau feodal entah agama. Agaknya 
kurang tepat bila loyalitas diganti dengan ketaatan. Bagaimana dengan 
kesetiaan? Saya kira beban feodal dalam kesetiaan lebih ringan ketimbang dalam 
ketaatan.

Istilah lain adalah akseptabilitas. Kenapa kita tak memakai padanan 
Indonesianya saja: keterterimaan, kecocokan, kepantasan? Saya kira kecocokan 
jauh lebih tepat dipakai di sini.

Saya usulkan kepada Presiden Yudhoyono agar mulai memberi contoh memakai bahasa 
sendiri dan pelan-pelan membuang jauh-jauh kebiasaan memakai istilah asing. 
Oleh karena itu, saat mengemukakan kembali syarat bagi siapa pun yang akan 
mendaftar menjadi wakil presiden, Presiden Yudhoyono hendaknya—sekali lagi 
mohon hendaknya—memakai istilah ini: kebisaan, kemampuan, kecocokan, dan 
kesetiaan; tak lagi kapabilitas, kompetensi, akseptabilitas, dan loyalitas.

Saya tidak anti-bahasa asing. Saya tentu menghendaki orang Indonesia bisa 
berbahasa Inggris dengan baik sebab itulah bahasa pergaulan internasional saat 
ini. Namun, bila sedang berbahasa Indonesia, silakan memakai bahasa itu dengan 
baik. Bila mau berbahasa Inggris, silakan memakai bahasa itu dengan baik pula.

Ulil Abshar-Abdalla Mahasiswa S-3 di Universitas Harvard
















[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke