Sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang punya kewajiban mendidik calon generasi bangsa untuk mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, saya setuju sekali dengan isi kritik Bung Ulil. Memang ironis ketika seorang kepala negara yang seharusna menjadi teladan dalam menjunjung tinggi nasionalisme, justru larut dalam budaya asing walau hanya melalui tuturannya. Padahal waktu masih menjabat sebagai menteri, bersama Yusril, SBY pernah didaulat sebagai pejabat negara penutur bahasa Indonesia yang baik.
Jika dibandingkan dengan sikap nasionalismenya Soeharto, tentu bebeda jauh sekali.Dalam penuturannya, walaupun bahasa Soeharto masih kental dengan *ken *dan *geraan*, namun ia punya ketegasan dalam upaya pengembangan bahasa Indonesia. Ketika menerima tamu luar negeri ataupun berkunjung ke negara2 lain, beliau juga tetap menomorsatukan bahasa Indonesia. Beliau juga lah yang berperan di balik pendirian Pusat Bahasa yang menjadi pemegang kuasa kendali bahasa Indonesia. Namun sayang, dalam kinerjanya, Pusat Bahasa seperti tidak punya gigi dalam menyikapi masalah2 kebahsaaan yang masih membelenggu masyarakatnya ini. Bahasa Indonesia masih belum memiliki standar kaidah yang kokoh. Maka tak heran jika banyak yang lebih memilih menggunakan istilah asing, ketika mereka merasa bahwa Idenya sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. YA, Pusat Bahasa tidak bisa diam saja. Meninggalnya J.D. Parrera adalah kerugian terbesar dalam perkembangan bahasa Indonesia. Dulu beliaulah yang kerap mengritik setiap kinerja Pusat Bahasa ini. Sayang, pemerintah tidak pernah merespon masalah ini. -- Muhammad Arief Rahman, S.Pd. Pengajar Bidang Studi Bahasa dan Sastra SMP Labschool Jakarta HP : 021 93 201 [email protected] [email protected] [email protected] [email protected] [Non-text portions of this message have been removed]
