Bangsa Pembajak Hak Cipta, Pak KK?
Berat juga kalau kita ini suka ngamuk seandainya dibajak
sama yang lain (Malaysia)...

"Kita berharap mendapat yang terbaik
dan sementara siap menerima yang terburuk" - KK

Versi lain "Kita berharap mendapat yang lumayan
dan sementara siap menerima yang terbaik"....
:=))

Salam
Las

"It's better to be a pirate than to joint the Navy"
- Steve Jobs, American businessman and founder of Apple Computers.




--- On Wed, 6/5/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Bangsa Pembajak Hak Cipta
To: [email protected]
Received: Wednesday, 6 May, 2009, 9:49 AM











    
            
            


      
      Oleh Kusmayanto Kadiman

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/05/06/ 03312991/ bangsa.pembajak. 
hak.cipta



Berita Indonesia kembali masuk daftar hitam pelanggar hak cipta, sesuai dengan 
laporan United State Trade Representatives- Priority Watch List (Kompas, 1/5), 
sungguh merupakan tamparan.



Berita itu merupakan tamparan mengingat berbagai ide, konsep, inisiatif, hingga 
pembuatan undang-undang telah dilakukan. Pada tahun 2006 United State Trade 
Representatives memasukkan Indonesia ke daftar abu- abu, yaitu Watch List, 
sebagai apresiasi kesungguhan Indonesia memberantas pembajakan. Bahkan, tahun 
2009 dicanangkan sebagai Tahun Indonesia Kreatif dengan semangat Aku 100 Persen 
Cinta Produk Indonesia. Pasti ada kesalahan mendasar yang kita lakukan. Apa itu?



Berita yang memalukan ini bak berita biasa dan nyaris tidak mendapat perhatian, 
mengingat seluruh masyarakat sedang demam, terpana, bahkan terhipnotis, 
hiruk-pikuk dagang sapi dan hawa panas konstelasi Pemilu Presiden 2009. 
Ditambah berita heboh seputar skandal pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.



Belum lagi geliat alam yang senantiasa melakukan penyeimbangan atas kecerobohan 
dan kerakusan manusia melakukan eksploitasi berlebihan pada kekayaan alam. 
Bencana alam dan bencana akibat ulah manusia silih berganti mengancam dan 
menerpa kita. Longsor, banjir, kebakaran bangunan dan lahan, sampai kecelakaan 
transportasi berkoalisi menjadi ancaman keseharian kita. Sumber penyakit pun 
seperti tak mau kalah. Demam berdarah, flu burung, dan kini flu babi bak 
berkoalisi menjadi ancaman massal ketenteraman kita.



Masalah "software"



Hak cipta atau sering disebut hak atas kekayaan intelektual (HaKI) adalah 
produk hukum yang memberikan perlindungan atas karya inovatif dari sang 
pencipta. HaKI dapat diajukan dalam berbagai wujud, seperti merek dan logo 
dagang, resep, formula, komposisi, lirik, sampai artefak teknologi.



Upaya Indonesia melindungi HaKI atas karya komposer Gesang dengan lagu 
"Bengawan Solo" adalah contoh nyata perjuangan menegakkan HaKI yang hasilnya 
bukan hanya memberikan manfaat positif pada sosioekonomi sang komposer, tetapi 
juga pada peningkatan citra bangsa.



Mari kita fokus pada HaKI yang terkait perlindungan dan penegakan hukum pada 
karya inovatif bidang peranti lunak dan aplikasi komputer yang lebih populer 
dengan istilah software.



Gempuran "software"



Kesadaran akan peluang sekaligus ancaman globalisasi sudah kita pahami betul. 
Ide, konsep, strategi, sampai realisasi fortifikasi ("Fortifikasi dalam 
Globalisasi" , Kompas, 4/3) yang menjadi kiat mitigasi dari tsunami globalisasi 
juga sudah kita gulirkan.



Fortifikasi atas gempuran software impor telah membangunkan ABG (academicians, 
businessmen, government) untuk kemudian menggelorakan semangat Indonesia Go 
Open Source! (IGOS) pada awal 2004, yaitu semangat membangun peranti lunak yang 
memenuhi kebutuhan mendasar bagi pengguna komputer tanpa kekhawatiran melanggar 
HaKI dan tanpa pemborosan uang untuk membayar lisensi yang harus dibayarkan 
kepada pemilik yang notabene menjadi dampak negatif atau ancaman globalisasi.



Jika copyrights adalah senjata pamungkas kapitalis, juga telah ada perlawanan 
berupa gerakan copyleft yang digagas para pejuang yang juga berasal dari negara 
kapitalis, yaitu Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.



Semangat dan perjuangan IGOS ini serupa dengan copyleft movement. Ada juga 
gerakan dari Eropa yang melawan, yaitu perjuangan yang diinisiasi dan dimotori 
penuh determinasi oleh Linus Torvalds dari Finlandia, dengan membangun berbagai 
peranti lunak untuk mengoperasikan dan memanfaatkan komputer dengan semangat 
dari kita untuk kita.



Free Open Source Software (FOSS) telah menjadi ikon baru sebagai penyeimbang 
gempuran Proprietary Softwares; meski kata free tidak selamanya berkonotasi 
gratis. Jargon Linux kini dipandang bukan hanya sebagai sebuah artefak 
teknologi, tetapi sudah naik ke tataran semangat perjuangan copyleft.



Kapitalisme "software"



Kesadaran akan peluang sekaligus ancaman kapitalisme software juga telah 
menarik perhatian pimpinan negara-negara, bukan hanya yang masuk daftar negara 
berkembang. Presiden AS Barack Obama dalam gebrakan 100 harinya juga menjadikan 
Gedung Putih sebagai pilot pengembangan dan penggunaan FOSS. Hal serupa 
dilakukan Presiden India yang pada 4 Juni 2007 menginstruksikan penerapan FOSS 
dalam sistem pertahanan demi menciptakan sistem pertahanan nasional yang lebih 
aman.



Ini dilakukan sang presiden yang juga ilmuwan dan ahli nuklir, mengingat 
peperangan masa kini atau perang modern tidak lepas dari bertahan dari ancaman 
melalui pengintaian, penetrasi, dan perusakan melalui sistem komunikasi dan 
informasi.



Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang terkenal dengan fokus To Make 
Brazil A Much Better Place, dengan lantang mengatakan tidak akan membolehkan 
Pemerintah Brasil boros dan membuang uang rakyat berupa melayangnya devisa 
hanya untuk membayar lisensi software. Dikatakan, dengan tegas kepada pemilik 
lisensi peranti lunak untuk hengkang dari Brasil jika tidak kooperatif dengan 
program pemerintah.



FOSS dijadikan inklusif dari dan untuk rakyat Brasil. Tetangga dekat kita yang 
relatif baru keluar dari kungkungan penjajahan, yaitu Vietnam, telah menggagas 
semangat dan kiat "Vietnam 100 Persen Open Source by 2010".



Kita kini sedang dengan harap cemas menanti deklarasi pasangan-pasangan yang 
akan berkompetisi dalam Pemilu Presiden 2009. Akankah semangat perjuangan 
Indonesia terhapus dari daftar hitam pembajak HaKI dijadikan indeks kinerja 
bagi pasangan-pasangan itu atau dicantumkan dalam kontrak politik dengan para 
pencontreng dalam Pilpres 2009?



Ataukah kita masih harus bersabar sampai datangnya kesempatan mendapat pemimpin 
yang mau dan mampu mengentaskan kita dari jebakan We do not learn that we do 
not learn seperti diuraikan Nassim Nicholas Taleb dalam buku The Black Swan-The 
Impact of Highly Improbable, 2007.



Kita berharap mendapatkan anugerah dipimpin negarawan yang terus berpikir 
menjadikan Indonesia sebagai zamrud khatulistiwa yang memberikan kesejahteraan 
dan lepas dari jebakan politikus yang fokusnya lebih pada pemenangan pilpres.



Kita berharap mendapat yang terbaik dan senantiasa siap menerima yang terburuk.



Kusmayanto Kadiman Menteri Negara Riset dan Teknologi




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Enjoy a safer web experience. Upgrade to the new Internet Explorer 8 
optimised for Yahoo!7. Get it now.

Kirim email ke