Bagus juga Bussines Hercules itu,penumpang sipil ,tapi jendralnya ngak ngaku,tapi di tv sewaktu wawancara Istri si yang jadi korban ,katanya naik hercules lebih murah..ha..ha..Jendralnya dikibulin sama petugas Hanggar kali...
[email protected] http://teukumoedaabadi.blogspot.com --- Pada Sab, 23/5/09, Adyanto Aditomo <[email protected]> menulis: Dari: Adyanto Aditomo <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Hercules Jatuh karena Tiada Suku Cadang? Kepada: [email protected] Tanggal: Sabtu, 23 Mei, 2009, 8:35 AM Bung Imade, Maksud saya itu: Apakah ABRI bisa bersikap seperti Tentara Amerika yang bertempur di Irak. Mereka secara terbuka memprotes pemerintahannya yang tidak melindungi prajuritnya dengan perlengkapan perang yang memadai dalam rangka melawan "Pasukan Perlawanan Irak", sehingga banyak korban dikalangan militer Amerika. Alasan dana untuk perang terbatas, ditolak mentah - mentah oleh para prajurit, karena menurut faham para Prajurit Amerika, Pemerintah tidak memiliki hak untuk dengan sengaja mengorbankan nyawa prajuritnya hanya dengan alasan dana operasional tidak mencukupi. Sekarang soal AURI. Pertanyaannya adalah: Apakah para pimpinan AURI/ ABRI dan Pemerintah bisa dengan sengaja mengorbankan nyawa para prajuritnya dengan alasan biaya operasi tidak mencukupi? Jika memang ada perintah semacam itu dari Pimpinan AURI/ ABRI atau Presiden sebagai Panglima Tertinggi ABRI, apakah Prajurit boleh memprotes kebijakan tersebut? Di harian Kompas hari ini juga ada pernyataan dari Pimpinan AURI bahwa Pihak AURI tidak dapat memberikan ganti rugi terhadap rumah penduduk yang rusak dan tewas akibat kejatuhan Pesawat Herkules, karena pada dasarnya AUR/ ABRII memang tidak pernah menyediakan dana untuk itu, baik ganti secara langsung maupun melalui asuransi. Pihak ABRI/ AURI hanya bertanggung jawab terhadap anggota ABRI yang menjadi korban, bukan warga sipil, terlepas mereka ikut bersalah atau tidak. Pertanyaannya adalah: Apakah warga sipil boleh memprotes kebijakan ABRI yang cenderung sewenang - wenang tersebut? Salam, Adyanto Aditomo
