Bung Asep,

Saya sedari awal kan sudah bilang di tulisan saya bahwa tidak perlu membahas 
tentang figurnya.. Tapi, bagaiamanapun (bagi saya) hanya cawapres ini yang 
berani lempar bola ke arena tentang fakta banyaknya crowding out (selisih) dari 
neraca perdagangan ke devisa.. Jadi, fakta yang dia kemukakan kan 'ini kan 
pertanyaan, kemana?' Soal dia kemana bahasnya itu soal lain.

Tapi, bagi saya untuk apa bahas soal ini hanya ke lupanya dia menjelaskan apa 
saja faktornya.. Tugas kita, saya rasa, mengambil isu yang dia lempar dan 
memperdalamnya kepada semuanya (termasuk yang lempar isu). Saya justru 
menyayangkan isu yang substansial ini hilang, kalau hanya karena kita terjebak 
ke "Siapa yang bicara" dan "apa yang lupa dia jelaskan", lalu kita biarkan 
substansi isunya hilang hanya karena hal-hal seperti itu..

Siapapun dia, beliau sudah melemparkan bola dan Fakta adanya anomali? Bukan, 
anomali bagi isu kampanyenya dia.. Tapi, anomali yang harus kita cari 
jawabannya kenapa?

Salam,
-Yanuar Rizky- (mail to: [email protected]) transmitted by tukang posĀ®[on the 
net: www.elrizky.net]

-----Original Message-----
From: Asep Kurniawan <[email protected]>

Date: Mon, 22 Jun 2009 20:12:10
To: <[email protected]>
Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pesan Pasar (Portopolio) Untuk Calon 
Pemimpin Negeri


Megutip dari blog Faisal Basri di kompasiana.com:

Neraca pembayaran = current account + lalu lintas modal
Sementara, current account = (ekspor barang - impor barang) + jasa nonfaktor + 
jasa faktor.

Dengan demikian, yang dinamakan cadangan devisa tidak cuma berhenti pada ekspor 
barang - impor barang, tapi harus menyertakan juga variabel jasa nonfaktor, 
jasa faktor dan lalu lintas modal.
Apa yang dijelaskan Bung Yanuar ini adalah bagian lalu lintas modal.
Dengan penjelasan kedua orang ini, saya tidak melihat adanya anomali. Sang 
cawapres ini cuma luput memasukkan variabel-variabel di luar ekspor dan impor 
barang dalam menghitung jumlah devisa negara.

Salam,

Kirim email ke